yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Kamis, 23 Juni 2011

Api Kita Sudah Menyalaaaaa


Apa yang bisa dilakukan oleh peserta outbound/ pelatihan  ketika diminta menampilakan suatu pertunjukan/ atraksi/ penampilan? Dijawab “pertunjukan,” boleh, dijawab “atraksi” juga benar, apalagi dijawab "penampilan," ooo boleh saja. Barangkali jawaban terbanyak itu "pertunjukan seni."   Nah, saat ini, Saya mau cerita tentang betapa hebatnya tampilan yang diperagakan peserta outbound/ latihan kepemimpinan. Cerita, eh catatan ini saya rangkum dari pembayangan beberapa kegiatan outbound/ latihan kepemimpinan yang pernah saya libati maupun amati saja. Ada yang berpeserta siswa-siswi, manajer, remaja, karyawan kantoran, mahasiswa, teknisi, maupun pengangguran juga ada.
Pentas bakat, unjuk potensi

Aktualisasi Diri

Umumnya kegiatan pembinaan/ pelatihan/ outbound  yang pake acara nginep, diselipi dengan acara api unggun, presentasi, pentas bakat, kesenian, atraksi, atau apalah namanya. Dalam kesempatan tersebut (kelompok) peserta diminta menampilkan sesuatu untuk menghibur sesamanya. Namun saya yakin tidak semata acara hibur-menghibur yang ingin ditekankan penyelenggara, tetapi proses (kelompok) peserta beraktualisasi diri. Ada pengalaman saya menyaksikan tampilan yang menawan, tapi pernah pula saya (terpaksa) menyaksikan penampilan yang acak-acakan.

Pada satu kesempatan, pernah saya begitu terpana akan kreativitas para remaja yang menampilkan suatu atraksi teaterikal. Keterpanaan saya berdasarkan pada beberapa hal; pertama sebelum acara (latihan kepemimpinan selama 3 hari) para anggota kelompok relatif belum saling mengenal. Kedua, atraksi yang mereka tampilkan hanya dipersiapkan selama 6 jam saja; 6 jam itu waktu antara pemberian perintah sampai mereka tampil, tapi saya yakin tidak selama itu mereka latihan, khan ada dipotong waktu untuk mandi, makan malam, istirahat, serta 1 sesi materi lain. Hal ketiga berikut inilah yang paling membuat saya terpana. Ketika proses di kelas dalam dinamika kelompok yang cenderung satu arah, saya melihat para peserta itu “yach biasa-biasa saja, tak ada yang sangat menonjol; bahkan beberapa terlihat penakut, malu, dan kuper.” Namun ketika mereka diberi kesempatan untuk menampilkan bakat yang dibalut dengan kreativitas kelompok, hasilnya (bagi saya) mengagumkan.

Pantomim
Beberapa remaja yang saya curigai minderan ternyata punya potensi dan keberanian (atau kenekatan) untuk tampil. Ada yang pandai main musik, ada yang nglawaknya lucu, ada yang bernyanyi dengan suara merdu, ada yang menari-nari dengan girang, ada pula yang bermain peran dengan serius alias sungguh-sungguh. Terus terang saya sangat terhibur dengan penampilan mereka.

Pada kesempatan lain saya juga pernah merancang sebuah penampilan dalam suatu acara api unggun bagi para supervisor dan manajer sebuah perusahaan. Instruksi disampaikan siang hari menjelang sore dan penampilan akan dilakaukan malam hari sekitar pukul 8. Berbeda dari kisah pertama tadi, saya justru disuguhi penampilan yang asal-asalan. Ada yang idenya sebenarnya bagus, tapi ketika ditampilkan, para penampilnya malah lebih banyak cengengas-cengenges sendirian, trus ketawa-ketawa sendiri (karena nggak pede) Ada kelompok yang malah hanya menampilkan potongan lagu yang malah mirip yel-yel saja. Ada memang satu kelompok yang standar lah, bagus banget nggak, jelek juga nggak.
Lagi aksi, nih, Bro...
Kenapa bisa begitu? Selidik punya selidik, usut punya usut, kami para fasilitator curiga mungkin para peserta kurang persiapan. Kenapa bisa sampai kurang persiapan? Karena saat sore hari, ternyata mereka sibuk nyiapin makan malam mereka sendiri. Saat itu konsep pelatihannya adalah prestasi kelompok peserta dalam tiap tahap kegiatan akan dikompensasikan dengan makan, termasuk makan malam. Nah, kami nggak menyediakan prasmanan makan malam, tetapi cukup menyediakan bahan mentah dan peralatan makan. Ada 2 kelompok yang bisa dapat kompor, sedangkan 2 kelompok lainnya hanya bisa dapat kayu bakar untuk memasak. Pendek cerita, ternyata sepanjang sore dan malam mereka tiap kelompok sibuk menyiapkan makan malam. Kenapa tampak sibuk? Karena ternyata sebagian besar peserta adalah laki-laki yang gagap masak. Pantas saja mereka asyik sibuk mengolah beras dan bahan makanan mentah sampai siap dikunyah. Ooooo.... itulah kecurigaan kami atas kebelummaksimalan penampilan para peserta.

Proses juga Penting, Lho

Masih cerita tentang penampilan para staf kantoran, namun kali ini dalam kegiatan yang beda. Pada suatu hari (seperti mulai dongeng saja ya)  direncanakan sebuah perusahaan akan mengadakan sebuah pelatihan yang pake acara menginap. Beberapa hari sebelumnya sang  trainer memberi penugasan pada kelompok peserta. Pengelompokkan berdasarkan bagiannya; ada bagian Keuangan, Administrasi, Personalia, dan Umum. Apa tugasnya? Sederhana, kok. Pada satu sesi keakraban di malam hari, tiap bagian diminta menampilkan 2 jenis atraksi, yang pertama karaoke dengan lagu yang sudah ditentukan, salah tiganya adalah Madu dan Racun, Belah Duren, dan Boneka India. Dalam karaoke tersebut penampil juga sekaligus mengenakan busana yang terbuat dari kertas koran; terserah gimana disainnya. Atraksi kedua adalah tiap kelompok menampilkan semacam drama yang mirip-mirip acara Opera van Java di salah satu siaran televisi.

Apa yang terjadi? Selama beberapa hari menjelang “pentas” ternyata tiap bagian mempersiapkan dua atraksi tersebut dengan (sungguh) serius. Mulai dari latihan nyanyi, persiapan kostum, serta membuat skenario drama, dan tak lupa latihannya tentu saja. Ada antusiasme yang tinggi diperlihatkan oleh para peserta terhadap dua atraksi yang sebenarnya “menakutkan” bagi beberapa orang.
ceritanya bakar jagung, nih
Tibalah saat penampilan. Semua kelompok peserta menunjukkan performa terbaiknya. Nggak usah saya ceritakan lah kronologis atraksinya, karena yang menjadi salah satu kebanggaan adalah keterlibatan seluruh peserta. Ada yang ketika di kantor terlihat pendiam, malu-malu, tapi saat atraksi menjadi atraktif. Ada yang saat di kantor memang sudah terlihat “meriah” eee saat penampilan malah tambah dahsyat kehebohan atraksinya (coba bayangkan sudah dahsyat, ditambah heboh pula). Waktu sekian hari persiapan ternyata membuat kelompok peserta mau nggak mau, suka nggak suka untuk berkumpul, diskusi dalam memutuskan sesuatu. Momen kebersamaan itulah yang bisa membangun kekompakan dan kelebihsalingmengertian antarstaf. Atraksi yang peserta tampilkan hanyalah sebuah konsekuensi dari kreativitas, kebersamaan, dan semangat unjuk potensi.

Cerita terakhir ini baru saya alami minggu lalu ketika mendampingi kegiatan outbound mitra sebuah perusahaan. Dalam salah satu rangkaian kegiatan, (oleh permintaan manajemen perusahaan) ada sebuah game penjualan yang kami rancang sebagai sebuah role play atau bermain peran. Tema drama adalah “penjualan produk” Latar belakang peserta berasal dari belasan lokasi yang tentu saja berbeda. Hanya sebagian kecil yang saling mengenal, paling-paling yang selokasi saja. Soal dan tema drama diberikan menjelang siang sekitar pukul 10.40 sementara rencana pementasan pukul 16.00. Tak ada waktu khusus untuk latihan karena peserta sudah disibukkan mengikuti bermacam permainan. Jadi kapan mereka berlatih? Yha di sela-sela permainan atau saat istirahat makan siang.

Teknis penampilan adalah ketika dipanggil, kelompok masuk ke sebuah pendopo (terbuka) untuk tampil.  Di sana sudah menunggu 3 orang juri yang akan memberi komentar dan penilaian. 2 orang dari perusahaan tersebut  (satu dari pusat, satu dari daerah) dan satu orang teman fasilitator. Aspek yang dinilai ada 3, yaitu: keterlibatan seluruh peserta (1 kelompok sekitar 9 anggota), kreativitas tampilan, dan informasi produk yang disampaikan. 

Bagaimana kualitas atraksi mereka? Menurut penilaian saya sih bagus. 1 kelompok (yang tampil pertama pula) memang hanya bikin yel-yel terkait produk. Kelompok berikutnya mulai dengan drama singkat; ada yang berperan sebagai pemilik usaha, karyawan, calon konsumen, serta konsumen. Skenario tiap kelompok rata-rata sama, (lha wong temanya juga sama, kok) menjual atau mempromosikan produk. Tiap selesai tampil, saya persilahkan seluruh anggota kelompok berdiri di depan para juri untuk mendengarkan komentar dan saran. 3 juri saling mengisi, mengomentari tentang aspek kreativitas, keberanian, kebersamaan, pemeranan, teknik penjualan, serta tak lupa tentang informasi produk.

Pengamatan saya, dari 8 kelompok yang tampil, mereka yang tampil belakangan cenderung lebih kreatif, mengapa? Kecurigaan saya karena mereka sudah melihat contoh penampilan kelompok sebelumnya, termasuk masukan para juri. Penglihatan itu tentu saja memberi inspirasi bagi mereka dalam memperkaya dan menyempurnakan skenario yang sudah disusunnya.
Kelompok penampil yang sedang dikomentari
Pada cerita terakhir tadi, saya mencoba melihat game tersebut dari sudut pandang perusahaan. Mereka punya kepentingan untuk menjual produk sebanyak mungkin. Ketika para peserta outbound “dipaksa” main game penjualan, artinya (suka nggak suka dan mau nggak mau) mereka harus menyebut nama produk; baik dalam latihan maupun pementasan. Harapannya adalah ketika dalam kesempatan (outbound) tersebut mereka sudah menyebut-nyebut sebuah nama produk, dalam keseharian kerja mereka, tak canggung pula menyebut nama yang sama. “Oooooo pantesan saja klien ngotot pingin diadakan game penjualan” itu pikiran saya. Sempat juga dengan beberapa teman saat merancang skenario terbertik pertanyaan. Kalo mau game seperti itu, nggak usah pake outbound juga bisa. Namun saya kini memaklumi niat perusahaan yang memang salah satu tujuan mengadakan outbound adalah meningkatkan penjualan.

Pentas yang Bernas

Lalu sekarang, apa yang bisa kita maknai dari 4 pengalaman tersebut?
Tiap orang punya potensi yang kadang tidak bisa kita lihat secara langsung dalam tempo singkat. Menampilkan potensi, bagi seseorang adalah aktualisasi diri, yang merupakan salah satu bentuk kebutuhan alami manusia. Dalam keseharian dan rutinitas kantor atau pekerjaan, tidak semua potensi dapat dikeluarkan. Misal, mereka yang punya kebolehan menari tentu tidak serta merta berjoget di kantor, sekalipun pada jam istirahat. Bisa jadi, kegiatan api unggun atau sejenisnya yang memberi mereka media untuk unjuk potensi adalah kesempatan emas yang ditunggu-tunggu untuk berekspresi. Berdasarkan pengalaman saya, tak ada lagi kemaluan peserta ketika mereka menampilkan potensinya. Lain kalo misalnya seseorang berbakat nari jaipong, tapi diminta menampilkan orasi atau pidato, mungkin malah memalukan.

Proses dalam kelompok untuk mempersiapkan sebuah penampilan, secara langsung atau tidak langsung bisa mempererat keakraban. Selama tiap pribadi punya niat baik untuk menyukseskan misi yang sama, tentu komunikasi yang terjalin akan saling memperkaya tiap pribadi. Selain keakraban, bisa juga tiap orang lebih saling mengenal kepribadian yang lain, “Oooo dia orangnya seriusan, Oooo ternyata dia kocak juga yha, Ah dia agak sensitif orangnya, Hmmm... boleh juga tuh pemikiran-pemikiran dia.” Tentu banyak positifnya khan kalo kita lebih mengenal pribadi mereka yang sering berinteraksi dengan kita di kantor/ perusahaan?
apiiiiiii, eh, asyiiiikkkk...
Dalam berbagai kesempatan pelatihan yang menginap, saya amati semangat untuk begadang (terutama pada orang-orang muda) tinggi. Penampilan/ atraksi bukan sekedar formalitas untuk mengisi acara api unggun atau pentas bakat. Bukan pula sekedar pembunuh waktu malam hari sambil begadang tadi. Walau singkat, dan dengan peralatan terbatas, kita harus punya prinsip tiap atraksi harus ditampilkan semaksimal mungkin. Salah satu caranya adalah dengan memberikan waktu yang cukup bagi para penampil untuk mempersiapkan diri, termasuk latihan di dalamnya. Atraksi yang disiapkan dengan waktu memadahi, niscaya akan diapresiasi dengan positif, selain menghibur semuanya, para penampil juga pasti bangga dan puas. 

Jika memungkinkan, tiap penampil mendapatkan umpan balik terhadap apa yang baru saja ditampilkannya. Siapa yang memberi umpan balik? bisa penonton, juri, komentator, ataupun fasilitator. Tujuan utama umpan balik ini adalah mengapresiasi penampilan peserta, dalam semangat positifitas. Kalau memang bagus, yha jangan sungkan memuji, kalau kita rasa ada yang bisa ditingkatkan/ perbaiki lagi, yha sampaikanlah dengan bahasa positif. Kapan lagi kita bisa saling menghargai dan dihargai? Sebenarnya bisa dalam banyak kesempatan, salah satunya yha dalam acara semacam ini. Dengan penghargaan, yakinlah, seseorang bisa lebih berkembang.

Hmffhh.... ternyata di balik acara api unggun tersimpan suatu proses pengembangan diri. Maka marilah teman, ketika kita merancang acara semacam itu buat sekalian yang punya makna mendalam. Bukan sekedar formalitas  atau “biasanya kan memang begitu” tapi semangat untuk sama-sama berkembang dalam ekspresi yang kreatif.

Mari berapi unggun, “Api kita sudah menyalaaaaa, Api kita sudah menyalaaaaa, Api api api api aaaaaaapiiiiiiii, Api kita sudah menyala.”


Palembang, 24 Juni 2011
Salam,
Agustinus Susanta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar