yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Evaluasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Evaluasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Catatan Akhir Tahun 2015; Gerakan Experiential Learning Indonesia

Berhubung tema catatan ini adalah tentang perkembangan experiential learning Indonesia selama tahun 2015, dan kebetuan dibuat saat pergantian tahun 2015 ke 2016, maka saya sampaikan dahulu ucapan selamat mengakhiri tahun 2015, dan memasuki tahun 2016.

Berdasarkan pengalaman, di berbagai media sosial beredar ucapan penyelamatan tahun 2016 yang nadanya lebih kurang begini. “Selamat Tahun Baru 2016; Semoga harapan kita di tahun 2016 ini bisa tercapai” Hmmm…. Ada sesuatu yang menggelitik saya dalam ucapan tersebut. Lha emangnya ada yang keliru dengan ucapan standar semacam itu? Ya gimana ya, ini justru yang akan saya bahas disini, yaaa secara seorang experiential learner, gitu lho.  Kita mulai yuk.



Pertama, ketika penyemogaan ucapan menyambut tahun baru dilontarkan di media sosial untuk segala mahkluk yang bisa membaca status tersebut, tanpa ada tujuan khusus, maka jatuhnya itu adalah ucapan yang standar banget. Tanpa ada alamat ucapan, dan tanpa ada tendensi dibalas juga, selain dengan balasan yang tak kalah standar juga. Masih untung jika yang (merasa) diucapi selamat begitu tersentuh dengan ucapan tersebut sampai akhirnya mengucapkan terima kasih pada yang membuat ucapan itu.

Jadi, apakah salah mengucapkan selamat tahun baru dengan cara begitu? Ah tentu tidak juga khan…
Kedua, ketika ucapan tersebut dilontarkan sebelum tahun 2016, kok dari sisi kronologis kurang pas ya. Tapi yang itu nggak usah diperpanjang deh urusannya, bisa nggak mutu nanti, hehehe….

Ketiga, ini yang serius nih. Yang dua pertama tadi sih edisi lebay saja. Ungkapan “Semoga harapan kita di tahun 2016 ini bisa tercapai” bisa membuat seseorang marah atau tersinggung besar, atau bahkan membuat stress, kenapa? Karena yang merasa diucapin selamat ternyata TIDAK PUNYA HARAPAN untuk tahun 2016 ini. Ya, filosofi hidupnya di tahun 2016 ini sama seperti tahun tahun sebelumnya, “mengalir seperti air.” Alih-alih mengatakan orang tersebut tanpa harapan, sebenarnya jika dihubungkan dengan air, maka tujuan hidupnya sebenarnya makin turun, lho. Lha iya khan, air itu khan mengalir dari atas menuju ke bawah.

Karena prinsipnya (apakah tepat itu disebut sebagai sebuah prisnip?) adalah mengalir seperti air, maka jika suatu saat air (entah air yang mana) tersebut misalnya pada bulan Februari 2016 terhenti di got karena tersumbat sampah, ya sudah diterima saja menggenang di situ selama 10 bulan berikutnya di 2016. Makin kotor ditimpa sampah, hitam, bau, bahkan binatang air pun bisa pingsan jika berusaha hidup di dalamnya. Lalu saat pergantian tahun ke 2017, dia akan bilang lagi bahwa di tahun tersebut prinsip dia tetap sama, yaitu mengalir seperti air (yang merepresentasikan tanpa harapan tadi lho). Lha padahal di akhir 2016, posisi si air itu kan ada di got busuk, apanya yang mengalir?

Ah, ternyata hal ketiga ini lebay juga ya, masa menyampaikan “Semoga harapan kita di tahun 2016 ini bisa tercapai” sampai dianalisis seekstrim itu. Tunggu dulu, temans. Itu khan jika dicapkan pada seseorang oknum manusia yang tak punya harapan atau tujuan yang hendak dicapai di tahun 2016 ini, dan parahnya berprinsip hidupnya mengalir seperti air. Kalau misalnya kita mengucapkan penyelamatan dan penyemogaan yang sama pada orang yang punya tujuan dan harapan jelas, bisa saja lain tanggapannya. Misalnya jadi, “Wah, terimakasih bro, atas ucapan selamat tahun barunya, anda orang ke 67 lho yang menyampaikan ucapan selamat tahun baru dan mengharapkan tujuan saya tercapai di tahun 2016 ini. Mau tahu tujuan hidup saya di tahun ini. Ah, saya kasih tahu saja ya, soalnya anda sudah baik hati mengucapi saya. Gini, Bro. TARGET saya di tahun 2016 ini adalah membuka 2 cabang toko lagi di Semarang dan Pontianak. Oh ya, omong-omong APA HARAPAN KAMU di tahun ini, Bro?” ….. sunyiiiiiiii……. karena si pengucap selamat ternyata tidak tahu apa yang sebenarnya dia harapkan di tahun ini. Dia tak ada tujuan hidup selain ya itu tadi, “mengalir seperti air.” boro-boro punya target, lah wong tujuannya saja nggak jelas.

Ada yang lebih seru lagi sih. Beredar Juga aplikasi di media sosial yang seolah bisa meramal apa yang akan kita capai di 2016 ini. Kalo benar sih kira-kira berbunyi, “Apa yang menantimu di 2016?” hi hi hi… seru saja sih. Entah dengan dasar pendekatan apa aplikasi lucu itu meramalkan seseorang misalnya dinanti oleh/ dengan Perjalanan ke Luar negeri, Pacar, Peran di TV, Kesehatan, Pekerjaan baru, Promosi Jabatan, Hobi baru yang menyenangkan, Bir, Pizza, Teman baru, Kucing, dsb yang lucu-lucu. Nah sebenarnya yang lebih lucu itu ya orang yang percaya bahwa nasibnya ditentukan oleh ramalan lucu tersebut; tragis. Ada satu lagi jargon lucu tentang resolusi 2016, yaitu “Melanjutkan resolusi 2015 yang belum tercapai, yang dibuat tahun 2014, dan direncanakan tahun 2013, serta dicita-citakan sejak 2012; itu aja” Sungguh sebuah ungkapan yang lucu.

Sudah lah, kita akhiri saja urusan selamat tahun baru ini. Kenapa sih, hal yang sudah sangat jamak ini laju dipersoalkan? Seperti nggak punya kerjaan saja. Ini gara-gara experiential learning, ya, karena catatan akhir tahun 2015 ini adalah tentang “belajar dari pengalaman” maka ya ini sedikit contoh pengalaman tentang penyampaian ucapan selamat tahun baru yang lalu kita kupas apa sih hakekat, konteks, dan harapannya. Sebagai seorang fasilitator experiential learning, bukankan kita memfasilitasi peserta untuk belajar dari pengalaman? Nah, dalam kehidupan kita senyatanya, bukankan banyak orang yang memberi ucapan selamat tahun baru seperti itu? Tanpa mengurusi siapa penyampai ucapan tersebut, apa sih maknanya ucapan tersebut bagi kita? Apakah kita sungguh-sungguh punya harapan, tujuan, atau target hidup di tahun ini? Akhirnya, saya sampaikan selamat memasuki Tahun 2016, semoga kita bisa merumuskan apa yang mestinya perlu dan bisa dicapai di tahun ini.

Sudah, ah. Kita lanjut saja yuk.

Sertifikasi Fasel

Tahun 2016 ini, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) sudah berlaku, dan berbagai sektor di Indonesia terus berpacu untuk memersiapkannya. Gaung MEA di negara-negara tetangga sudah lama berlangsung dan disikapi pemerintahnya dengan berbagai persiapan, khususnya di bidang industri dan perekonomian. Bagaimana dengan Indonesia? Ah, seperti biasanya, kedodoran. Bagaimana dengan dunia experiential learning Indonesia? Sudah siapkah juga? Entahlah….

Mencatat perkembangan experiential learning di Indonesia pada tahun 2015, tak bisa lepas dari keberlangsungan Uji Sertifikasi Profesi Fasilitator Experiential Learning (Fasel)/ pemandu outbound. Pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata, BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Pramindo,  dan AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia) akhirnya berhasil bersinergi memfasilitasi penyertifikatan para pegiat outbound/ experiential learning. Asesi yang dinyatakan kompeten mendapat sertifikat fasilitator experiential learning yang berlaku di seluruh wilayah ASEAN dan berdurasi 3 tahun untuk lalu bisa diperbaharui lagi.

Salah satu alasan pemerintah membuat SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) bidang kepemanduan Pemandu Outbound ya untuk menyongsong MEA ini. Hanya yang saat itu disasar ya sekedar “pemandu outbound” saja, yang lekat dengan dunia pariwisata. Nah, untunglah dalam proses selanjutnya pihak kementerian bertemu dengan AELI. Singkat cerita, masuklah AELI dalam gerbong penyusunan SKKNI, sampai akhirnya pada tahun 2015 lalu bisa melaksanakan Uji Kompetensi yang mengakomodir kepentingan kepariwisataan dan pembelajaran.

Sertifikasi Profesi fasel pertama dimulai pada 25 Maret 2015 di Cibubur, lalu selanjutnya 28 April 2015 di Pancawati Bogor, 26 Mei 2015 di Solo, 25-26 November di Denpasar, 2 Desember di Yogyakarta, dan 6-7 Desember 2015 lalu di Cibubur. Berdasarkan data website AELI, saat ini Indonesia baru memunyai 43 Fasel Utama dan 3 Fasel Madya saja. Target 300 fasel yang dicanangkan pemerintah pada paruh kedua 2015 belum terpenuhi. Tentu ada beberapa kondisi yang belum memungkinkan keterjadian hal tersebut.

Sekedar memberi contoh, Rencana Uji Sertifikasi di Batam pada 28-29 November 2015 akhirnya dibatalkan, padahal teman-teman di TUK Kepri sudah memersiapkan tempat dan jadwal workshop persiapannya. Demikian juga DPD Sumsel yang pada 23-24 juga sudah menyelenggarakan workshop di Palembang guna persiapan Uji Kompetensi di Batam. Ada pula calon asesi dari DPD Sumbar yang sedianya akan merapat ke Batam. Pembatalan tersebut tentu menimbulkan beberapa konsekuensi yang bisa jadi berpengaruh pada “kredibilitas” AELI.

Panjang cerita lika-liku perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan beberapa Uji Kompetensi tersebut. Tak mungkin lah diceritakan di sini semua. Namun baik juga kita catat beberapa hal yang bisa kita jadikan “peng-alam-an” untuk Uji Sertifikasi selanjutnya yang lebih baik di Tahun 2016 ini.

Secara pribadi, saya bisa memahami, bahwa bekerjasama dengan banyak pihak untuk menyelenggarakan rentetan acara besar berskala nasional di beberapa  provinsi itu  bukan hal yang sederhana, apalagi nyaris semua pengurus asosiasi, yaitu pihak DPP (Dewan Pimpinan Pusat) dan DPD (Dewan Pimpinan Daerah) AELI punya prioritas kerja utama sebelum “mengurus” asosiasinya. Yang jelas, sih, perlu sinergi yang “cantik” Antara DPP AELI, DPD AELI, LSP, Asesor, Calon Asesi, BNSP, dan TUK (Tempat Uji Kompetensi) dalam menyelenggarakan Uji Kompetensi. Urusan jadwal, publikasi/ sosialisasi, syarat, pembiayaan, administrasi, tempat, jumlah peserta, dan sebagainya tentu harus diformulasikan dengan jelas oleh berbagai pihak tadi, dan kalau bisa jauh-jauh bulan sebelumnya. Ada riak-riak penyelenggaraan Uji Kompetensi yang bisa kita minimalisir di tahun 2016 sehingga energi bisa lebih banyak tercurahkan pada peningkatan kompetensi faselnya itu sendiri; bukan pada bagaimana ngurus ujiannya.

Nah, sekarang tentang urusan kualitas fasel, “Seberapa kompetenkah para fasel Indonesia ini?” Pihak yang paling tepat menjabarkan ini semestinya tim Asesor/ penguji, karena merekalah yang menguji semua fasel di Indonesia. Namun, melalui pijakan SKKNI, saya yakin bahwa kompetensi para fasel kita relatif merata sesuai standar. Lha kalau tidak sesuai khan tidak “diluluskan” dalam ujian. Atau kalau yang memang merasa belum kompeten malah menunda ujiannya; belajar, mengompetenkan diri dahulu.

Rumor yang berkembang tahun lampau adalah “Apakah Asosiasi akan mengejar kuantitas/ jumlah fasel, atau mengedepankan kualitas?” Memang sih, kalo diidealkan ya kuantitas banyak, dengan kualitas yang yahud. Namun ternyata kondisi itu belum terjadi di 2015. Akhirnya asosiasi mengambil kebijaksanaan bahwa dalam uji kompetensi, prioritasnya adalah kualitas. Percuma Indonesia punya banyak fasel, tetapi kualitasnya susah didefinisikan. Mendingan punya sedikit demi sedikit, tetapi kualitasnya terjamin sesuai SKKNI.
Ya, kita harus memberi apresiasi akan keberhasilan dunia experiential learning Indonesia yang sudah mengesahkan fasilitator experiential learning sebagai sebuah profesi yang diakui oleh pemerintah.

AELI

Cerita tentang perkembangan experiential learning Indonesia tentu juga tak lepas dari asosiasinya, yaitu AELI. Fokus catatan ini adalah bagaimana kiprah AELI selama tahun 2015? Harus diakui, kepengurusan AELI periode ini penuh dinamika dan pencapaian, salah satu yang terbesar adalah sertifikasi fasel. Bahwa dalam prosesnya masih ada hal yang perlu diperbaiki terkait sinergi dengan pihak lain, itu bisa dimaklumi. Relasi Antara DPP dan DPD pun penuh dinamika. Belum lagi cerita di internal DPP dan di tiap DPD itu sendiri, seru. Tidak semua perlu dijabarkan di sini, ini khan hanya “catatan” kecil saja.

Apakah perkembangan industri experiential learning dalam menghadapi MEA juga sudah disiapkan oleh AELI? Tampaknya AELI sudah berada dalam jalur rel yang benar untuk itu. Tinggal kita tunggu adalah, sekuat apa gerbong AELI tersebut menyusur rel. Siapa lokomotif dan gerbongnya? Ya para stakeholder experiential learning Indonesia lah, termasuk saya sebagai salah satu komponennya. Selain saya yang hanya seorang pegiat outbound, tentu ada stake holder lain, yaitu: AELI, baik DPP maupun DPD, para Anggota AELI, baik yang biasa maupun luar biasa, Tim Asesor Uji Kompetensi, Lembaga Sertifikasi Fasel, BNSP, dan Kementerian Pariwisata. Semuanya tadi perlu bersinergi dengan cantik supaya experiential learning bisa berkembang dengan efektif di Indonesia.

Kalau ditanya ada berapa DPD saat ini, sesuai yang tertera di website AELI ini dia datanya: DPD Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan DPD Nusa Tenggara Barat. Hayooo… ada berapa tuh? Bagaimana kiprah DPD, sudah menggembirakankah? Dalam tiap tulisan (sebelum catatan ini) yang menyinggung AELI, saya selalu merujuk pada visi dan misi asosiasi. Berdasarkan visi dan misi itulah kita bisa menilai kinerja asosiasi.

Visi AELI adalah Menjadi wadah dan mitra yang berkualitas bagi seluruh lembaga atau perorangan pengguna metode pelatihan berbasis pengalaman di Indonesia dan bertanggung jawab terhadap pengembangan kualitas manusia Indonesia. Adapun 3 misinya adalah:

  1. Memasyarakatkan pelatihan berbasis pengalaman kepada masyarakat Indonesia. 
  2. Meningkatkan kualitas  pelatihan dan pendidikan berbasis pengalaman, sehingga menjadi metode pelatihan yang efektif dan diakui di Indonesia.
  3. Meningkatkan kualitas pelaksana pelatihan berbasis pengalaman sehingga menjadi pelaksana pelatihan yang bertanggung jawab terhadap pengembangan manusia Indonesia.


Sejauh saya mengamati, AELI masih konsisten berjuang mewujudkan visinya. Hanya memang efektivitasnya yang perlu ditingkatkan lagi. Salah satu contohnya adalah baru sebagian DPD yang proaktif berkegiatan, sementara masih ada DPD yang adem ayem saja.
Keaktifan (luar biasa) AELI harus diakui akibat adanya program sertifikasi oleh pemerintah, misalnya:
  • Pengurus dan anggota DPD/ DPP yang terlibat dalam aneka program pemerintah yang bertema “sertifikasi fasel”
  • DPD (akhirnya) merekrut anggota AELI  karena syarat ikut sertifikasi adalah menjadi anggota AELI. 
  • DPD secara mandiri menyelenggarakan workshop persiapan sertifikasi.

Asosiasi experiential learning Indonesia berdiri sejak 2007, namun anggota yang mengasosiasikan diri baru definitif tercatat baru 8 tahun kemudian, di tahun 2015 lalu. Itu gara-gara apa? Ya…. Karena sertifikasi. Saya tak mau nyinyir bilang itu sesuatu yang gimana gitu, lha wong faktanya begitu, apalagi saya juga menjadi bagian dari asosiasi tersebut. AELI periode saat ini sudah berjuang keras “mengimbangi” program sertifikasi ala pemerintah. Bahwa ada kesan ketergopoh-gopohan dalam sinergitasnya, itu kembali menjadi pelajaran bersama semua pihak yang terlibat dalam program sertifikasi tersebut.

Saya akan meninggalkan urusan sertifikasi dan masuk ke kinerja harian asosiasi. Bolehlah dikatakan bahwa pengurus AELI saat ini mulai kreatif mewujudkan misi asosiasi, terutama dalam bidang peningkatan kualitas fasel dan sosialisasi keberadaan AELI. Pergantian dan pergeseran pengurus pusat beberapa kali terjadi. Saya tidak tahu apa alasannya, mungkin karena dipikirkan untuk kemelesatan kinerja DPP. Namun sepemantauan saya, beberapa mantan pengurus pusat yang terpilih saat RUA justru malah pasif dalam kegiatan keasosiasian. Semoga hanya karena kesibukan mereka saja yang belum memungkinkan.

Masih ada agenda-agenda yang terkesan belum tereksekusi dengan baik, misalnya tentang jurnal/ buletin AELI yang direncanakan terbit berkala, namun sejak edisi perdana Maret 2014 sampai awal tahun 2016 tak kunjung jua ada edisi berikutnya. AELI yearly workshop yang sebenarnya sudah direncanakan ternyata juga belum rutin terlaksana.

Website AELI sudah diperbaharui tampilannya jadi lebih keren, namun masih juga macet dalam pembaharuan kontennya. Sejak pertengahan November 2015 sampai saat ini, tak ada pemberitaan baru, bahkan tentang proses sertifikasi yang sebenarnya betul-betul menggerakkan asosiasi. Saya pernah konfirmasi langsung ke Ketua Bidang Humas, Bendahara, sampai Sekjen untuk urusan website ini; namun toh nihil. Entah gimana nanti nasib website asosiasi ini saya juga tak tahu. Kenapa saya terkesan nyinyir tentang website ini? Bukan karena saya manyun sudah bikin artikel yg diminta DPP tentang kegiatan DPD, namun sudah sebulan lebih nggak nongol-nongol di website (akhirnya saya terbitkan di blog saya sendiri deh, di kompetensi itu ibarat kuda..... ) Yakinlah, website ini salah satu media penting untuk membangun “brand image” AELI, sekaligus sarana sosialisasi. Sayang sekali kalau tidak dipelihara.

Tantangan di depan


Bagian terakhir ini dimulai dengan menyinggung bagian tentang ucapan ketercapaian harapan di tahun 2016 yang sudah dibahas di awal catatan. Konteksnya adalah apa sih yang diharapkan dari gerakan experiential learning indonesia, terlebih yang dimotori oleh AELI? Yang saya bayangkan tentang tantangannya adalah: Setelah ada sekian kali sertifikasi dan menghasilkan fasel, lalu pertambahan jumlah anggota AELI yang signifikan, tentu lebih banyak hal yang saling berkelindan dalam keasosiasian. Ditambah sejarah dan prospek kerjasama dengan stakeholder lain, maka makin lengkaplah kompleksitas upaya pengembangan experiential learning di Indonesia. Untunglah AELI sudah punya AD/ART yang sebenarnya tinggal diikuti saja dalam implementasi programnya.

Harapan saya sih AELI bisa jeli membaca situasi untuk melaksanakan program yang efektif dan efisien seturut misinya. Titik.

Salam AELI, Bersatu Berjaya

Palembang, Awal 2016

Sabtu, 30 Juli 2011

Berbondong-bondong Outbound


Dalam 3 minggu terakhir, saya sudah menempuh petualangan yang luar biasa; dalam waktu 10 hari, jarak yang diarungi lebih dari 2 ribu kilometer, waktu perjalanan darat 80an jam. Hitungan itu hanya dalam 3 kegiatan pendampingan outbound dan 1 survey lokasi. Selain itu, masih ada 2 pendampingan outbound di dalam kota yang energinya saja ikut diperhitungkan, namun waktu dan jarak tempuhnya relatif singkat. Belum lagi nanti sore selama 3 hari masih mendampingi satu kegiatan seleksi karyawan bank melalui metode outbound. 3 hari lagi disambung perjalanan ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan experiential learning (untunglah yang ini naik pesawat). Eh, satu lagi kegiatan yang saya pilih tidak ikuti karena waktu yang bersamaan, itu juga keluar dari kota Palembang sejauh 8 jam perlanan darat. Hmmmmm.

Apa maksud saya mengungkap rahasia ini, cieeee…. Bukan ingin dianggap orang yang hebat, justru kalau orang hebat mestinya bisa jalan udara alih-alih jalan darat lebih dari 8 jam. Namun jika dipandang rela naik bus selama 10 jam-an itu sebagai perwujudan orang hebat, yha boleh-boleh saja. Hal yang mau saya bagikan adalah tentang kebugaran fisik dan proses aksi-refleksi pribadi terhadap segala kegiatan tadi. Yuk kita masuki satu persatu.

Dalam bulan November dan Desember memang banyak kelompok-kelompok yang ingin didampingai dalam kegiatan outbound atau semacamnya. Entah karena “menghabiskan” anggaran kantor/ perusahaan, atau bertepatan dengan acara tutup tahun dengan evaluasinya. Saya yang bergerak sebagai penggiat outbound mendapat beberapa kepercayaan untuk menyelenggarakan atau pun sekedar mendampingi kegiatan-kegiatan tersebut (yang sebagian bertempat di lokasi yang  jauuuuuhhhh dari Palembang tempat tinggal saya). Sebagai seorang dosen maka saya harus mengatur kembali waktu untuk mengajar dan mendampingi kegiatan outbound, dan untunglah itu bukan jadi kendala. 

Menyelenggarakan kegiatan outbound mesti dilihat sejak suatu ide/ tema dipikirkan, lalu didiskusikan, dirumuskan, dan dieksekusi dalam pelaksanaan. Bisa jadi pelaksanaan hanya 1 atau 2 hari saja, namun tentu sebelum itu ada persiapan-persiapan yang harus dilakukan. Masih beruntung segala persiapan tadi dapat dilakukan dengan efektif, walau sebagian dilakukan via telepon. Efektivitas tersebut juga ditunjang faktor kebiasaaan, artinya karena sudah beberapa kali melakukan kegiatan serupa, maka tim kami dapat melakukan koordinasi pada hal-hal prinsip saja. 

Nah, urusan menarik kini justru berpusat pada bagaimana saya menyikapi segala kepadatan acara tersebut, khususnya bagaimana menjaga kebugaran badan. Mengapa urusan fisik dan kesehatan menjadi penting? Gimana nggak penting jika misalnya kita sudah menyepakati suatu pendampingan outbound, lalu tiba-tiba sehari menjelang beraksi kita teler karena sakit. Konyolnya lagi jika sakit itu akibat kita kurang pandai menjaga kesehatan ketika beraktivitas pada pendampingan outbound (beberapa hari) sebelumnya. Intinya, ketika kita sudah tahu jadwal kegiatan kita dengan segala konsekuensi waktu, jarak, dan energi yang diperlukan, maka seyogyanya kita juga bisa mengatur ritme tubuh kita sehingga dapat selalu maksimal dalam menjalaninya.

Saya pernah menyaksikan sendiri, seorang teman yang sedang presentasi suatu materi, tiba-tiba berhenti, matanya berkunang-kunang dan badannya sempoyongan nyaris tumbang. Sontak presentasi terhenti karena si presenter perlu duduk ditenangkan, diberi minum, diurut, dan sebagainya supaya tidak pingsan. Alhasil presentasi terhenti. Nah ternyata setelah diselidiki, teman tersebut sebelumnya begadang dan mungkin memang kebiasaan dia suka begadang. Ditambah lagi hobinya merokok yang tak kunjung henti. Mungkin saat itu hari sial bagi dia, saat energinya diperlukan untuk mempresentasikan sesuatu, eeee malah KO, tragis khan.
Berkaca dari satu kejadian itu, maka saya mencoba bisa menjaga kesehatan supaya dapat selalu sehat dalam berbagai kegiatan, khususnya kegiatan outbound yang memang membutuhkan fisik prima dalam tiap menitnya. Kesehatan dapat ditinjau dari 2 aspek, yaitu kesehatan mental dan fisik. Tanpa banyak berteori, saya cerita saja apa maksudnya.

Mental yang waras, membuat kita memandang bahwa segala kepadatan jadwal pendampingan bukanlah suatu beban. Toh sebenarnya kita punya kuasa untuk menerima atau pun menolak tawaran suatu kegiatan. Ketika kita sudah menerima artinya kita siap dengan segala konsekuensi dan resikonya. Jika berpikir nggak sanggup (mungkin terkait waktu, jarak, dan energi) yha ditolak dong, jangan memaksanakn diri diterima. Lucu sebenarnya jika kita belum apa-apa sudah merasa sangaaaat tertekan dengan jadwal yang kita buat sendiri. Menjadi nggak lucu lagi jika itu membuat semangat kita loyo (sebelum pelaksanaan) yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan fisik kita. Gimana fisik nggak terpengaruh, jika selama persiapan maupun pelaksanaan, yang ada di kepala kita hanya bergaung negativitas: beban, berat, jauh, lama, sulit, tegang, repot, padat, capek, pening, dan sebagainya.

Salah satu trik jitu untuk menyingkirkan segala negativitas itu adalah berpikir cerdas untuk mempersiapkan dan melaksanakan suatu kegiatan pendampingan outbound (atau kegiatan pengembangan diri lainnya) secara efektif dan efisien. Efektif artinya materi, metode, maupun pilihan permainan/ dinamika dipilih sedemikian rupa sehingga tepat sasaran, tidak bertele-tele. Efisien artinya melaksanakan segala rencana kita tadi dengan energi secukupnya. Hal ini memang tidak datang dengan tiba-tiba, namun dapat dilatih dan akan terasah seiring frekuensi kekerapan kegiatan kita.

Dulu, 5 tahun lalu, untuk menyelenggarakan kegiatan serupa, saya sampai harus pulang-pergi naik kereta api, survey selama 2 hari dan diskusi intens dengan tim lokal hampir seharian untuk mematangkan rencana sesuai konsep. Untuk mengonsep kegiatan selama 3 hari pun diperlukan waktu 1 bulanan dengan porsi perdebatan yang lebih banyak. Namun kini ketika ada permintaan sejenis, tim cukup berbagi peran saja, ketemu sekali untuk koordinasi, langsung berangkat. Koordinasi dengan tim lokal hanya melalui telepon, demikian juga untuk ngurus transportasi, konsumsi, dan akomodasinya. Segala efektivitas tadi akan membuat kita ringan dalam bertindak sehingga energi kita tidak tersedot habis dalam urusan teknis, namun dapat lebih dicurahkan untuk proses pendampingannya itu sendiri.

Masih tentang urusan mental, saya memandang segala “kesibukkan” pendampingan haruslah menghasilkan suatu refleksi yang inspiratif. Contoh nyatanya adalah tulisan ini. Saya sempat menggugat diri sendiri ketika kebiasaan menulis jadi tersendat karena berbagai aktivitas, terutama ke luar kota. Sebenarnya, banyaknya petualangan pendampingan malah menjadi bahan baku tulisan yang lebih variatif. Akan sangat sayang sekali jika segala pengalaman pendampingan outbound kita, baik secara teknis maupun materi tidak terdokumentasi, minimal evaluasinya. Bagi saya, tinjauan kegiatan dalam rupa tulisan akan membantu untuk menyelenggarakan kegiatan sejenis dengan lebih baik lagi. Maka jangan heran jika 2 buku outbound saya didominasi kisah-kisah nyata refleksi kegiatan pendampingan outbound.

Ketika kita memandang banyaknya aktivitas justru akan memperkaya (perbendaharan materi, metode dan operasional) kita, maka kita akan mempersiapkan dan melaksanakannya dengan suka hati, bukan malah jadi beban. Memang tidak tiap orang punya talenta (berusaha mau) menulis, walau kalau mau dilatih pasti bisa. Menulis adalah salah satu bentuk refleksi kita terhadap kegiatan dan pengalaman yang sudah kita lakukan. Lebih penting lagi adalah semangat mengembangkan diri sendiri. Dalam pendampingan outbound, kita dituntut mengembangkan orang lain melalui experiential learning, masak kita sebagai fasilitator tidak tergerak untuk mengembangkan diri? khan konyol itu. Bagi saya salah satu wujud pengembangan diri yha melalui tulisan reflektif tentang kegiatan yang baru saja dieksekusi; baik aspek kekurangberhasilan maupun kesuksesannya.
Nah, sekarang waktu untuk meninjau hal-hal kesehatan badan. 

Segala gagasan cerdas, konsep yang menarik, permainan yang menantang, juga dinamika-dinamika atraktif hanya akan maksimal dieksekusi oleh fasilitator yang juga secara fisik sehat. Masih ingat cerita teman saya yang sempoyongan ketika presentasi suatu materi? Nah, tentu kita ingin menghindari kejadian konyol semacam itu dalam suatu kegiatan pendampingan pelatihan pengembangan diri. 

Salah satu hal penting yang diperlukan peserta dalam kegiatan outbound adalah antusiasme fasilitator/ instruktur.  Sebagus apa pun materi yang hendak disampaikan, jika fasilitator tidak antusias, maka hasilnya juga kurang maksimal diterima peserta. Selain kewarasan mindset, kebugaran atau kesehatan si fasilitator berperan penting dalam proses keantusiasmean suatu pelatihan. Pilihan logisnya adalah bagaimana kita dapat selalu menjaga kesehatan supaya dalam tiap sesi/ pendampingan dapat tampil segar dan mampu menyegarkan peserta. Ingat, peserta pelatihan berhak mendapatkan  yang terbaik dalam tiap jam kegiatan yang diikutinya.
Jika pernah membaca konsep 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif ala Stephen Covey, maka ada kebiasaan ketujuh yang cocok dengan urusan menjaga kesehatan. Kebiasaan itu disebut “asah gergaji”  yang rumusan sederhananya adalah bagaimana kita selalu memperkaya diri dengan segala pengetahuan yang relevan, serta bagaimana kita menjaga kesehatan kita sehingga dapat selalu melaksanakan kegiatan (kebiasaan-kebiasaan lain) dengan konsisten. Bagi saya, kebiasaan ketujuh itu sangat masuk akal; ibarat penggergaji kayu yang secara rutin mengasah gergajinya, maka dia kan dapat selalu memotong/ menggergaji kayu dengan hasil maksimal. Apa jadinya jika si penggergaji membiarkan gergajinya tumpul hari demi hari? Pasti akhirnya dia stress karena kian hari aktivitas menggergajinya dipikir makin berat dan susah. Padahal jika dia mau menyempatkan diri  rutin mengasah gergajinya, urusan akan jauh lebih mudah.

Lalu sekarang, bagaimana cara menjaga kebugaran dan kesehatan? Wah sebenarnya ini kiat-kiat yang sangat umum; mungkin saking umumnya malah kerap diabaikan. Merasa hebat dengan aktivitas yang bejibun, maka mengurus kesehatan diri menjadi prioritas papan bawah, wah ironis itu. Sebenarnya  gampang kok. Olahragalah dengan teratur, itu salah satu yang pokok. Terkait dengan segala perencanaan kegiatan kita, jangan paksakan kita begadang, lembur untuk mengerjakan suatu tugas. Ingat, jangan-jangan kita merasa sah untuk begadang karena berpikir kerjaan/ tugas belum selesai. Jangan-jangan lagi, tugas belum selesai karena kita belum tahu mengerjakannya dengan efektif dan efisien. Jika itu yang terjadi, maka cari tahulah gimana cara yang lebih cerdas dalam bekerja.

Kiat lain menjaga kebugaran adalah mengonsumsi makanan yang bergizi secara teratur. Mungkin sering kita jumpai kepadatan acara membuat kita makan seadanya dengan jadwal yang tertunda-tunda. Atau sebaliknya kelewat sering mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi, maklum, kadang sebagai seorang fasilitator/ pembicara mendapat jatah makanan yang (dipandang) enak-enak, walau sebenarnya jika dikonsumsi secara berlebihan berpotensi mengganggu kesehatan.

Satu lagi pesan saya untuk menjaga kesehatan adalah hindari merokok. Satu hal yang pasti, merokok itu tidak baik bagi kesehatan; saya tidak akan memperjelas itu. Hal lainnya tentang himbauan tidak merokok bagi fasilitator adalah urusan role model atau pencontohan. Pendamping/ fasilitator outbound termasuk pembicara juga trainer akan menjadi seorang model yang kerap dicontoh oleh peserta pelatihan. Ketika seorang fasilitator/ pendamping  dengan santainya merokok (di antara/ di depan peserta pula) maka itu sama saja mengampanyekan, “Wahai peserta,  merokoklah, seperti saya.” Jika belum bisa menghentikan kebiasaan buruk itu, minimal merokoklah tanpa diketahui peserta.

Wah, sudah lumayan panjang nih oleh-oleh saya dari kepadatan acara 3 minggu terakhir ini. Semoga hasil refleksi ini dapat menginspirasi teman-teman lain menuju fasilitator atau pendamping kegiatan pengembangan diri secara lebih cerdas, dan sehat tentunya.

Agustinus Susanta, Palembang, 10 Desember 2010

Rabu, 22 Juni 2011

Outbound Gado-gado (2/2)


Pukul 07.15 peserta berangkat bersama-sama dari kantor perusahaan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi outbound. Diinformasikan oleh petugas  registrasi bahwa  peserta yang hadir 80 orang. Pikir saya, “Ah, masih dalam toleransi jumlah peserta yang akan dibagi menjadi 10 kelompok.”

Pukul 08.00 Peserta datang sesuai jadwal, langsung dipersilahkan coffe break. Kayaknya istilah ini kurang tepat deh, namanya break itu khan memecah, tepat kalo diselipkan di antara 2 acara. Lha ini, acara belum mulai sudah di break, ah sudahlah, nggak usah mempermasalahkan itu. 

Pukul 08.15 mestinya sudah masuk acara “Motivasi,” namun ternyata acara pembukaan yang sebagian besar diisi sambutan dari pihak manajemen perusahaan belum selesai. Dalam acara pembukaan inilah setelah peserta dihitung ulang, ternyata yang hadir di lokasi hanya 69 orang. Dari 100 orang jadi 69 orang, weh, selisih 31 orang, lumayan juga. Yang lalu saya pikirkan adalah membuat skenario berdasar 8 kelompok peserta saja. 

Pukul 08.47 barulah dimulai sesi Motivasi (molor 32 menit dari jadwal) oleh motivator yang didatangkan pihak manajemen perusahaan. Ketika peserta asyik menikmati dinamika dan materi dalam sesi motivasi. Kami bergegas membagi peserta dalam 8 kelompok; disesuaikan dengan asal mereka. Peserta berasal dari belasan tempat yang masing-masing ada yang ngirim 2 sampai 9 orang; bervariasi. Dalam pembagian ini peserta yang berasal dari 1 tempat masuk dalam 1 kelompok, paling-paling ada yang digabung dengan peserta dari tempat lain.

Pukul 09.08 Pembagian kelompok sudah selesai. Namun salah satu pimpinan manajemen minta pembagian kelompok diacak saja antar tempat. Harapannya dalam 1 kelompok diisi peserta dari berbagai tempat untuk lebih saling mengenal dan mengakrabkan. Oke, deh, kami rubah lagi sesuai permintaan. 

Urusan membagi kelompok tidak berhenti sampai di situ. Kami harus mengubah lagi jadwal outbound yang sudah disiapkan untuk 10 kelompok. Urusan rubah-merubah itu sebenarnya bukan masalah besar, namun karena waktu terbatas, maka kami harus melakukannya dengan tempo sesingkat-singkatnya. Pos Menara Air yang sudah kami siapkan (perlengkapan dan fasilitatornya) akhirnya ditiadakan supaya kami pas membagi 8 kelompok dalam 4 sesi permainan. Saya buat jadwal baru secara manual, 8 rangkap, sementara seorang teman mengetiknya di komputer untuk dicetak. Rencananya sih kalo pas mau outbound cetakan sudah selesai, maka menggunakan yang itu (supaya lebih rapi) tapi jika belum, maka tulisan manual saya yang digunakan.

Pukul 10.20 sesi motivasi baru berakhir (itu pun) setelah kami memberi kode berkali-kali. Berarti molor lagi deh,  25 menit dari jadwal. Pembagian kelompok dan penjelasan proses dilakukan secepat kami bisa, setelah itu peserta istirahat sejenak sambil menyimpan segala sesuatu yang tidak diperlukan dibawa dalam outbound. Acara ice breaking akhirnya menjadi korban karena ditiadakan, apa boleh buat. Eee... masih ada pula acara sisipan yang tidak kami perhitungkan yaitu foto-foto. Setelah tiap kelompok berfoto, barulah seluruh peserta foto bersama.

Pukul 11.20 barulah outbound dilakukan, benar, molor 80 menit dari rancangan. 8 kelompok, 4 pos dan 4 sesi. Tidak perlulah diceritakan betapa heboh proses outbound tersebut. Kita khan mau fokus pada pewaktuan kegiatan.

Pukul 12.25 seluruh proses outbound selesai, artinya terlambat 25 menit dari jadwal. Kini waktu untuk istirahat dan makan; sambil diiringi orgen tunggal. Beberapa orang (entah karena kegirangan atau kepanasan) nyebur kolam. Yang langsung makan juga banyak; sementara yang lain ada yang milih istirahat, satu dua orang nyanyi diiringi orgen tunggal.

Pukul 13.30, setelah peserta istirahat sekitar 1 jam, acara dilanjutkan. Hayoooo ini molor berapa menit? Tantangan flying fox dan high rope dimulai dengan penjelasan teknis dan keselamatan peserta. Karena usai makan siang, dan istirahat, kami juga isi penjelasan tersebut dengan sedikit permainan ice breaking.

Pukul 13.50 barulah benar-benar dimulai pelayangan peserta dalam flying fox, itu molor 50 menit dari jadwal, lho. Maunya, kami membatasi permainan tersebut selama 1 jam saja, karena toh itu sifatnya tentatif, namun apa yang terjadi? Ternyata peserta tidak rela tidak main flying fox, maka kita selesaikan saja mereka yang memang mau main flying fox.

Pukul 15.26 barulah kami mulai sesi paint ball + hiburan, dan snack; terlambat 1 jam kurang 4 menit dari jadwal yang kami susun. Demi ketercapaian seluruh proses, maka kami rancang sementara kelompok 1, 2, 3, dan 4 main paint ball, kelompok 5, 6, 7, dan 8 langsung main game penjualan. Demikianlah, setelah kelompok 1 dan 2 main paint ball, mereka segera masuk game penjualan. Sedangkan kelompok 5 yang sudah selesai memainkan game penjualan, segera bergegas untuk persiapan main paint ball. Lalu di mana acara hiburan dan snacknya, yha di sela-sela seluruh kegiatan tersebut; nggak masalaaaah.

Pukul 17.10 berakirlah seluruh permainan, wah kini hanya selisih 10 menit lebih lambat dari jadwal. Tapi kami nggak bisa segera menutup acara, karena ternyata pihak manajemen membagikan tas, kaos, dan beberapa berkas lain pada para peserta.  Urusan bagi membagi ini perlu ketelitian lho, supaya tiap peserta mendapatkan jatah sesuai dengan haknya, jangan sampai ada yang kelebihan atau bahkan kekurangan.

Pukul 17.35 barulah kita mulai acara penutupan, molor lagi 35 menit, deh. Diisi dengan pengumuman dan penganugerahan hadiah bagi 2 kelompok berpoin tertinggi. Masih ada juga pembagian sekitar 25 hadiah door prize bagi peserta. Dan tentu saja ada kata penutup dari kami, serta sambutan dari pihak manajemen.
Pukul 17.55 barulah seluruh rangkaian acara bersama peserta  tuntas, tas, tas.

Selesai? Belum, karena saya belum membeberkan apa refleksi saya terhadap kegiatan tersebut. Kalo urusan ketidakpasan waktu pelaksanaan dengan jadwal, baik lebih lambat, atau lebih cepat, itu sih sebenarnya sudah lazim. Namun untuk merefleksikannya secara (agak) serius baru sekarang inilah. Beerkaca dari pengalaman tadi, hal apa sih yang bisa kita perbaiki untuk merancang kegiatan serupa kelak?

Dalam pembicaraan dengan pihak klien/ peserta outbound  di awal saat menyusun penjadwalan, alangkah sedapnya jika dikorek betul apa saja yang akan dilakukan, terutama oleh pihak klien/ peserta. Namun bisa saja lho, hal-hal tersebut saat pembicaraan awal memang belum terpikirkan oleh klien, maka kalau kita tahu, bisa dong disampaikan pada mereka. Kegiatan yang sifatnya seremonial, publikasi, atau penjelasan, ternyata sedikit demi sedikit bisa menggerogoti waktu kita lho. Kegiatan pembagian kelompok, foto, mengumuman doorprize, serta sambutan pihak pimpinan peserta, (berdasarkan pengalaman) punya potensi  memakan waktu berkepanjangan. Inti refleksi pertama adalah segala detail kejadian harus  diperhitungkan dalam jadwal.

Hal kedua yang bisa saya timba adalah kemampuan memodifikasi skenario secara cepat. 2 contoh modifikasi dalam cerita saya barusan adalah merubah jumlah kelompok dari 10 menjadi 8 kelompok (diiringi penghapusan 1 permainan) serta penggabungan 2 acara menjadi 1 (paint ball dan game penjualan.) Baik adanya jika kita tanggap membaca dan memprediksi situasi, terutama terkait pewaktuan. Kadang kita memang harus tega misalnya mempercepat waktu istirahat peserta, demi ketercapaian tujuan utama. Merancang dan mengeksekusi kegiatan outbound yang memadukan keinginan klien dan  ketercapaian tujuan dalam waktu yang terbatas adalah sebuah seni, yang bisa dicapai dengan kreativitas.

Sebelum menutup tulisan ini, mungkin ada teman-teman yang bertanya, apa saya selalu mencatat tiap jam pergantian waktu acara? Kok bisa-bisanya membuat kronologis pergantian acara dengan (mudah-mudahan) meyakinkan.  Bagi yang tidak bertanya-tanya, yha ndak usah melanjutkan membaca paragraf ini, he he he... Mencatat sih tidak, namun dalam (hampir semua) outbound saya selalu berbekal kamera digital. Dasar saya senang memoto (mana yang benar memoto atau memfoto?), maka pada banyak momen sering memotret (memoto saya ganti memotret saja lah), nah dari file foto-foto tersebutlah saya bisa mengetahui  kapan kejadian yang dipotret itu terjadi. Dan sedikit rahasia lagi, saya selalu merubah nama file foto menjadi tanggal dan waktu pengambilan foto. Dengan hal itu, tanpa melihat informasi (properties) file foto tersebut saya sudah langsung tahu tahun, bulan, tanggal, jam, menit, dan detik kapan adegan tersebut terjadi.
Semoga beberapa kelumit cerita ini menginspirasi teman-teman.

Agustinus Susanta
Palembang, 22 Juni 2011

Outbound Gado-gado (1/2)



Akhir bulan lalu, ketika saya sedang mendaki bukit dalam rangka survey lokasi outbound di Pulau Bangka, seorang teman menelepon. Bertanyalah dia apakah saya bisa memfasilitasi kegiatan outbound untuk sebuah perusahaan. Dalam kondisi ngos-ngosan karena memang sedang menanjaki bukit, saya menjawab telepon. Oh, yha, posisi teman saya saat itu di Palembang, Sumsel. Intinya bulan Juli ini saya sedang mengagendakan mendampingi kelompok lain untuk outbound di Pulau Bangka, (untuk itulah saya survey) maka pada sang teman saya bilang bahwa nanti seusai survey lokasi dan tanggal, akan diupayakan kepastian kapan saya bisa bekerjasama dengan sang teman tadi. Ceritanya selesai, hah! Maksudnya itu tadi pengantarnya saja. Pelajaran apa yang bisa saya petik dari peristiwa itu? Ternyata naik bukit/ gunung sambil teleponan bikin kita tambah ngos-ngosan. Nggak tahu bagi mereka yang memang sudah terbiasa.

Singkat cerita, minggu lalu saya akhirnya memfasilitasi outbound bersama teman saya tadi. Melalui beberapa kali koordinasi dengan tim, akhirnya dirancanglah sebuah skenario outbound, yang sebenarnya juga kegiatan gathering bagi mitra sebuah perusahaan. Saya sempat pening menyesuaikan permintaan klien dalam suatu jadwal dan skenario. Bayangkan, ayoooo bayangkan. Ada agenda untuk presentasi internal dari perusahaan selama 90 menit, trus ada ice breaking, 5 game di darat, 3 tantangan high rope, ditambah flying fox, masih ada juga game selling/ penjualan, trus jangan lupa juga ada hiburan orgen tunggal, plus terakhir penentuan tim pemenang, sekaligus pembagian door prize. Dengan peserta 100 orang, bagaimana itu akan dilakukan dalam waktu hanya 9 jam? mulai dari pukul 8 pagi sampai 5 sore; gleekk.

Untunglah pening saya tidak terlalu lama, karena toh harus segera diambil keputusan. Oh yha dalam kesempatan ini saya akan cerita saja pewaktuan kegiatan tersebut; fokus antara permintaan klien, rencana, jadwal, dan eksekusinya saja. Teknis-teknis permainan tak akan saya detilkan, oke? Pasti oke, dong, khan yang nulis saya, he he he....


 
Jadwal akhirnya dirancang sebagai berikut:

·         08.00 - 08.15       = Coffe break, pembukaan
·         08.15 - 09.45       = Motivasi
·         09.45 - 10.00       = Ice breaking
·         10.00 - 12.00       = Outbound
·         12.00 - 13.00       = Ishoma
·         13.00 - -14.30     = Flying Fox & High Rope
·         14.30 - 16.00       = Paint Ball, Hiburan, snack
·         16.00 - 17.00       = Game Penjualan
·         17.00 - 17.15       = Penutup

Itu pun dengan catatan sebagai berikut:
  • Peserta akan dibagi menjadi 10 kelompok
  • 5 Pos permainan Outbound adalah: Menara Air, Pipa Bocor, Sulur Maut, Lumpur Panas & Tapak Bumi
  • Dalam 1 pos akan bertemu 2 kelompok, sesuai jadwal; waktu main hanya 10 menit
  • Kompensasi tiap permainan adalah poin
  • Dalam Paint Ball, tiap kelompok hanya diwakili 5 orang saja; pemenang mendapat poin.
  •  Flying Fox dan High Rope bersifat tentatif bagi yang berminat saja; permainan ini juga dibatasi oleh waktu.
  • Kelompok dengan poin tertinggi akan mendapat hadiah.
Jadwal pergerakan outbound, tiap kelompok, tiap pos dan tiap sesi kami atur sebagai berikut:
 

Pos Pipa Bocor
Pos Tapak Bumi
Pos Menara Air
Pos Lumpur Panas
Pos Sulur Maut
sesi 1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
sesi 2
4
9
1
6
3
8
5
10
2
7
sesi 3
6
7
8
9
1
10
2
3
4
5
sesi 4
5
8
7
10
2
9
1
4
3
6
sesi 5
3
10
2
5
4
7
6
9
1
8

Gimana cara membaca skema jadwal tersebut? begini, karena ada 10 kelompok, sedangkan pos yang disediakan hanya 5, maka supaya efektif dalam 1 pos permainan akan diisi 2 kelompok sekaligus. Contoh, dalam sesi ke-1 di Pos Pipa Bocor akan bertemu Kelompok 1 dan 2, sedangkan di Pos Lumpur Panas akan ketemuan Kelompok 7 dan 8. Nah, di sesi ke-2; Kelompok 7 akan pindah ke Pos Sulur Maut, ketemu Kelompok 2. Sedangkan Kelompok 8 akan pindah ke Pos Menara Air, bertemu Kelompok 3. Saya pikir mudah dimengerti, khan?

Sistem ini saya pilih terutama karena dari segi waktu paling efisien. 5 permainan pun sudah cukup untuk “sekedar” menjalin keakraban dan kekompakan. Hal lain yang tak kalah penting, adalah suasana rivalitas/ kompetisi antar kelompok di tiap pos pasti akan terjadi. Semangat saling mengungguli lawan tentu otomatis akan muncul ketika peserta berlomba secara langsung. Coba bayangkan jika dalam 1 pos hanya ada 1 kelompok yang main dalam 1 waktu, pasti suasana kurang seru dibandingkan ada 2 kelompok yang berkompetisi saling mengalahkan. Oh, yha, pada tiap Pos permainan, berapa pun nilainya, kelompok yang menang akan mendapat tambahan poin, lho.

Mengenai nama pos, saya duluuuuu menggunakan nama misalnya “Pos 1, Pos 2” dan seterusnya atau “Pos A, Pos B, Pos F, Pos L,” dan seterusnya; namun kini saya cenderung menamai pos dengan permainan yang ada di sana. Hal ini akan memudahkan pemahaman, baik untuk peserta, maupun fasilitator. Alih-alih peserta/ fasilitator dalam kebingungannya berdebat Pos 2 itu main “Tapak Bumi” atau “Sulur Maut” lebih baik langsung menyebut pos yang bersangkutan dengan nama permainannya, beres, deh. Sempat ada juga yang bertanya, kalau disebutkan begitu, nanti peserta tahu dong semua permainannya. Memang betul itu, tapi… tidak semua peserta tahu betul bagaimana permainan itu dilakukan walau sudah tahu namanya. Namun hal yang sering saya jawabkan adalah, “Kalo peserta tahu jenis permainannya, emangnya kenapa?” kalo dijawab nanti jadi nggak seru lagi, ah, rasanya tidak juga tuh. Bagi saya malah, kalo peserta sudah tahu dan (dalam waktu singkat) mempersiapkannya, itu jauh lebih bagus. Artinya, permainan kita dimainkan oleh orang yang (minimal sudah agak) paham, dan itu akan meningkatkan prestasi peserta juga khan.

Jadwal pertemuan kelompok dalam permainan paint ball, kami rancang sebagai berikut:

main ke-1
main ke-2
main ke-3
main ke-4
main ke-5
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10











Diskusi tentang selling game/ permainan penjualan, yang bagi saya agak aneh diterapkan dalam suatu outbound, berlangsung hangat. Suka nggak suka, cocok nggak cocok, karena itu permintaan dari manajemen pusat, toh harus dijalankan. Saya sih ambil positifnya saja; itu suatu tantangan menarik, disamping saya yakin, pasti klien punya kepentingan terhadap hal tersebut.Yha jelas dong, salah satu tujuan perusahaan mengadakan outbound gathering khan untuk meningkatkan volume penjualan, maka bisa dimengerti bahwa dalam acara outbound tersebut juga dimasukkan unsur-unsur “peningkatan kemampuan menjual.” Akhirnya, setelah (hanya) setengah jam diskusi antara tim fasilitator dengan perwakilan perusahaan, ditetapkanlah skenario game penjualan sebagai berikut”

·         Tiap kelompok melakukan role play/ penampilan bertema "penjualan produk "
  • Role play bisa berupa drama, lagu, operet, pantun, puisi, yel-yel, presentasi, lawak, atau gabungannya.
  • Waktu game penjualan tiap kelompok @ 5 menit; dilakukan seusai kelompok main paint ball.
  • Waktu mempersiapkan/ latihan game  dilakukan di sela-sela outbound/ snack/ makan/ istirahat
  • 3 Aspek penilaian game penjualan adalah:

1.       Keterlibatan semua anggota kelompok; makin semua terlibat = makin bagus
2.       Kreativitas tampilan; makin kreatif = makin bagus
3.       Informasi produk; makin lengkap dan informatif = makin bagus
Nah, informasi jadwal acara, jadwal pergerakan kelompok, serta ketentuan sistem outbound termasuk game penjualan tadi disampaikan pada tiap kelompok secara tertulis. Biarlah mereka membawa keterangan yang memang diperlukan tersebut selama proses. Salah satu prinsip yang selama ini saya anut adalah berikan penjelasan seinformatif mungkin pada peserta tentang kemana dan kapan mereka harus bergerak. Mengenai apa yang akan terjadi di tiap tempat tadi, biarlah mereka mengetahuinya saat pelaksanaan nanti.

Sekarang kita akan masuk pada menit-per menit eksekusi kegiatan, apakah sesuai dengan jadwal? Kita simak sebentar lagi.

bersambung, bung bunggggg