yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Minggu, 03 Januari 2016

Catatan Akhir Tahun 2015; Gerakan Experiential Learning Indonesia

Berhubung tema catatan ini adalah tentang perkembangan experiential learning Indonesia selama tahun 2015, dan kebetuan dibuat saat pergantian tahun 2015 ke 2016, maka saya sampaikan dahulu ucapan selamat mengakhiri tahun 2015, dan memasuki tahun 2016.

Berdasarkan pengalaman, di berbagai media sosial beredar ucapan penyelamatan tahun 2016 yang nadanya lebih kurang begini. “Selamat Tahun Baru 2016; Semoga harapan kita di tahun 2016 ini bisa tercapai” Hmmm…. Ada sesuatu yang menggelitik saya dalam ucapan tersebut. Lha emangnya ada yang keliru dengan ucapan standar semacam itu? Ya gimana ya, ini justru yang akan saya bahas disini, yaaa secara seorang experiential learner, gitu lho.  Kita mulai yuk.



Pertama, ketika penyemogaan ucapan menyambut tahun baru dilontarkan di media sosial untuk segala mahkluk yang bisa membaca status tersebut, tanpa ada tujuan khusus, maka jatuhnya itu adalah ucapan yang standar banget. Tanpa ada alamat ucapan, dan tanpa ada tendensi dibalas juga, selain dengan balasan yang tak kalah standar juga. Masih untung jika yang (merasa) diucapi selamat begitu tersentuh dengan ucapan tersebut sampai akhirnya mengucapkan terima kasih pada yang membuat ucapan itu.

Jadi, apakah salah mengucapkan selamat tahun baru dengan cara begitu? Ah tentu tidak juga khan
Kedua, ketika ucapan tersebut dilontarkan sebelum tahun 2016, kok dari sisi kronologis kurang pas ya. Tapi yang itu nggak usah diperpanjang deh urusannya, bisa nggak mutu nanti, hehehe….

Ketiga, ini yang serius nih. Yang dua pertama tadi sih edisi lebay saja. Ungkapan “Semoga harapan kita di tahun 2016 ini bisa tercapai” bisa membuat seseorang marah atau tersinggung besar, atau bahkan membuat stress, kenapa? Karena yang merasa diucapin selamat ternyata TIDAK PUNYA HARAPAN untuk tahun 2016 ini. Ya, filosofi hidupnya di tahun 2016 ini sama seperti tahun tahun sebelumnya, “mengalir seperti air.” Alih-alih mengatakan orang tersebut tanpa harapan, sebenarnya jika dihubungkan dengan air, maka tujuan hidupnya sebenarnya makin turun, lho. Lha iya khan, air itu khan mengalir dari atas menuju ke bawah.

Karena prinsipnya (apakah tepat itu disebut sebagai sebuah prisnip?) adalah mengalir seperti air, maka jika suatu saat air (entah air yang mana) tersebut misalnya pada bulan Februari 2016 terhenti di got karena tersumbat sampah, ya sudah diterima saja menggenang di situ selama 10 bulan berikutnya di 2016. Makin kotor ditimpa sampah, hitam, bau, bahkan binatang air pun bisa pingsan jika berusaha hidup di dalamnya. Lalu saat pergantian tahun ke 2017, dia akan bilang lagi bahwa di tahun tersebut prinsip dia tetap sama, yaitu mengalir seperti air (yang merepresentasikan tanpa harapan tadi lho). Lha padahal di akhir 2016, posisi si air itu kan ada di got busuk, apanya yang mengalir?

Ah, ternyata hal ketiga ini lebay juga ya, masa menyampaikan “Semoga harapan kita di tahun 2016 ini bisa tercapai” sampai dianalisis seekstrim itu. Tunggu dulu, temans. Itu khan jika dicapkan pada seseorang oknum manusia yang tak punya harapan atau tujuan yang hendak dicapai di tahun 2016 ini, dan parahnya berprinsip hidupnya mengalir seperti air. Kalau misalnya kita mengucapkan penyelamatan dan penyemogaan yang sama pada orang yang punya tujuan dan harapan jelas, bisa saja lain tanggapannya. Misalnya jadi, “Wah, terimakasih bro, atas ucapan selamat tahun barunya, anda orang ke 67 lho yang menyampaikan ucapan selamat tahun baru dan mengharapkan tujuan saya tercapai di tahun 2016 ini. Mau tahu tujuan hidup saya di tahun ini. Ah, saya kasih tahu saja ya, soalnya anda sudah baik hati mengucapi saya. Gini, Bro. TARGET saya di tahun 2016 ini adalah membuka 2 cabang toko lagi di Semarang dan Pontianak. Oh ya, omong-omong APA HARAPAN KAMU di tahun ini, Bro?” ….. sunyiiiiiiii……. karena si pengucap selamat ternyata tidak tahu apa yang sebenarnya dia harapkan di tahun ini. Dia tak ada tujuan hidup selain ya itu tadi, “mengalir seperti air.” boro-boro punya target, lah wong tujuannya saja nggak jelas.

Ada yang lebih seru lagi sih. Beredar Juga aplikasi di media sosial yang seolah bisa meramal apa yang akan kita capai di 2016 ini. Kalo benar sih kira-kira berbunyi, “Apa yang menantimu di 2016?” hi hi hi… seru saja sih. Entah dengan dasar pendekatan apa aplikasi lucu itu meramalkan seseorang misalnya dinanti oleh/ dengan Perjalanan ke Luar negeri, Pacar, Peran di TV, Kesehatan, Pekerjaan baru, Promosi Jabatan, Hobi baru yang menyenangkan, Bir, Pizza, Teman baru, Kucing, dsb yang lucu-lucu. Nah sebenarnya yang lebih lucu itu ya orang yang percaya bahwa nasibnya ditentukan oleh ramalan lucu tersebut; tragis. Ada satu lagi jargon lucu tentang resolusi 2016, yaitu “Melanjutkan resolusi 2015 yang belum tercapai, yang dibuat tahun 2014, dan direncanakan tahun 2013, serta dicita-citakan sejak 2012; itu aja” Sungguh sebuah ungkapan yang lucu.

Sudah lah, kita akhiri saja urusan selamat tahun baru ini. Kenapa sih, hal yang sudah sangat jamak ini laju dipersoalkan? Seperti nggak punya kerjaan saja. Ini gara-gara experiential learning, ya, karena catatan akhir tahun 2015 ini adalah tentang “belajar dari pengalaman” maka ya ini sedikit contoh pengalaman tentang penyampaian ucapan selamat tahun baru yang lalu kita kupas apa sih hakekat, konteks, dan harapannya. Sebagai seorang fasilitator experiential learning, bukankan kita memfasilitasi peserta untuk belajar dari pengalaman? Nah, dalam kehidupan kita senyatanya, bukankan banyak orang yang memberi ucapan selamat tahun baru seperti itu? Tanpa mengurusi siapa penyampai ucapan tersebut, apa sih maknanya ucapan tersebut bagi kita? Apakah kita sungguh-sungguh punya harapan, tujuan, atau target hidup di tahun ini? Akhirnya, saya sampaikan selamat memasuki Tahun 2016, semoga kita bisa merumuskan apa yang mestinya perlu dan bisa dicapai di tahun ini.

Sudah, ah. Kita lanjut saja yuk.

Sertifikasi Fasel

Tahun 2016 ini, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) sudah berlaku, dan berbagai sektor di Indonesia terus berpacu untuk memersiapkannya. Gaung MEA di negara-negara tetangga sudah lama berlangsung dan disikapi pemerintahnya dengan berbagai persiapan, khususnya di bidang industri dan perekonomian. Bagaimana dengan Indonesia? Ah, seperti biasanya, kedodoran. Bagaimana dengan dunia experiential learning Indonesia? Sudah siapkah juga? Entahlah….

Mencatat perkembangan experiential learning di Indonesia pada tahun 2015, tak bisa lepas dari keberlangsungan Uji Sertifikasi Profesi Fasilitator Experiential Learning (Fasel)/ pemandu outbound. Pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata, BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Pramindo,  dan AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia) akhirnya berhasil bersinergi memfasilitasi penyertifikatan para pegiat outbound/ experiential learning. Asesi yang dinyatakan kompeten mendapat sertifikat fasilitator experiential learning yang berlaku di seluruh wilayah ASEAN dan berdurasi 3 tahun untuk lalu bisa diperbaharui lagi.

Salah satu alasan pemerintah membuat SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) bidang kepemanduan Pemandu Outbound ya untuk menyongsong MEA ini. Hanya yang saat itu disasar ya sekedar “pemandu outbound” saja, yang lekat dengan dunia pariwisata. Nah, untunglah dalam proses selanjutnya pihak kementerian bertemu dengan AELI. Singkat cerita, masuklah AELI dalam gerbong penyusunan SKKNI, sampai akhirnya pada tahun 2015 lalu bisa melaksanakan Uji Kompetensi yang mengakomodir kepentingan kepariwisataan dan pembelajaran.

Sertifikasi Profesi fasel pertama dimulai pada 25 Maret 2015 di Cibubur, lalu selanjutnya 28 April 2015 di Pancawati Bogor, 26 Mei 2015 di Solo, 25-26 November di Denpasar, 2 Desember di Yogyakarta, dan 6-7 Desember 2015 lalu di Cibubur. Berdasarkan data website AELI, saat ini Indonesia baru memunyai 43 Fasel Utama dan 3 Fasel Madya saja. Target 300 fasel yang dicanangkan pemerintah pada paruh kedua 2015 belum terpenuhi. Tentu ada beberapa kondisi yang belum memungkinkan keterjadian hal tersebut.

Sekedar memberi contoh, Rencana Uji Sertifikasi di Batam pada 28-29 November 2015 akhirnya dibatalkan, padahal teman-teman di TUK Kepri sudah memersiapkan tempat dan jadwal workshop persiapannya. Demikian juga DPD Sumsel yang pada 23-24 juga sudah menyelenggarakan workshop di Palembang guna persiapan Uji Kompetensi di Batam. Ada pula calon asesi dari DPD Sumbar yang sedianya akan merapat ke Batam. Pembatalan tersebut tentu menimbulkan beberapa konsekuensi yang bisa jadi berpengaruh pada “kredibilitas” AELI.

Panjang cerita lika-liku perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan beberapa Uji Kompetensi tersebut. Tak mungkin lah diceritakan di sini semua. Namun baik juga kita catat beberapa hal yang bisa kita jadikan “peng-alam-an” untuk Uji Sertifikasi selanjutnya yang lebih baik di Tahun 2016 ini.

Secara pribadi, saya bisa memahami, bahwa bekerjasama dengan banyak pihak untuk menyelenggarakan rentetan acara besar berskala nasional di beberapa  provinsi itu  bukan hal yang sederhana, apalagi nyaris semua pengurus asosiasi, yaitu pihak DPP (Dewan Pimpinan Pusat) dan DPD (Dewan Pimpinan Daerah) AELI punya prioritas kerja utama sebelum “mengurus” asosiasinya. Yang jelas, sih, perlu sinergi yang “cantik” Antara DPP AELI, DPD AELI, LSP, Asesor, Calon Asesi, BNSP, dan TUK (Tempat Uji Kompetensi) dalam menyelenggarakan Uji Kompetensi. Urusan jadwal, publikasi/ sosialisasi, syarat, pembiayaan, administrasi, tempat, jumlah peserta, dan sebagainya tentu harus diformulasikan dengan jelas oleh berbagai pihak tadi, dan kalau bisa jauh-jauh bulan sebelumnya. Ada riak-riak penyelenggaraan Uji Kompetensi yang bisa kita minimalisir di tahun 2016 sehingga energi bisa lebih banyak tercurahkan pada peningkatan kompetensi faselnya itu sendiri; bukan pada bagaimana ngurus ujiannya.

Nah, sekarang tentang urusan kualitas fasel, “Seberapa kompetenkah para fasel Indonesia ini?” Pihak yang paling tepat menjabarkan ini semestinya tim Asesor/ penguji, karena merekalah yang menguji semua fasel di Indonesia. Namun, melalui pijakan SKKNI, saya yakin bahwa kompetensi para fasel kita relatif merata sesuai standar. Lha kalau tidak sesuai khan tidak “diluluskan” dalam ujian. Atau kalau yang memang merasa belum kompeten malah menunda ujiannya; belajar, mengompetenkan diri dahulu.

Rumor yang berkembang tahun lampau adalah “Apakah Asosiasi akan mengejar kuantitas/ jumlah fasel, atau mengedepankan kualitas?” Memang sih, kalo diidealkan ya kuantitas banyak, dengan kualitas yang yahud. Namun ternyata kondisi itu belum terjadi di 2015. Akhirnya asosiasi mengambil kebijaksanaan bahwa dalam uji kompetensi, prioritasnya adalah kualitas. Percuma Indonesia punya banyak fasel, tetapi kualitasnya susah didefinisikan. Mendingan punya sedikit demi sedikit, tetapi kualitasnya terjamin sesuai SKKNI.
Ya, kita harus memberi apresiasi akan keberhasilan dunia experiential learning Indonesia yang sudah mengesahkan fasilitator experiential learning sebagai sebuah profesi yang diakui oleh pemerintah.

AELI

Cerita tentang perkembangan experiential learning Indonesia tentu juga tak lepas dari asosiasinya, yaitu AELI. Fokus catatan ini adalah bagaimana kiprah AELI selama tahun 2015? Harus diakui, kepengurusan AELI periode ini penuh dinamika dan pencapaian, salah satu yang terbesar adalah sertifikasi fasel. Bahwa dalam prosesnya masih ada hal yang perlu diperbaiki terkait sinergi dengan pihak lain, itu bisa dimaklumi. Relasi Antara DPP dan DPD pun penuh dinamika. Belum lagi cerita di internal DPP dan di tiap DPD itu sendiri, seru. Tidak semua perlu dijabarkan di sini, ini khan hanya “catatan” kecil saja.

Apakah perkembangan industri experiential learning dalam menghadapi MEA juga sudah disiapkan oleh AELI? Tampaknya AELI sudah berada dalam jalur rel yang benar untuk itu. Tinggal kita tunggu adalah, sekuat apa gerbong AELI tersebut menyusur rel. Siapa lokomotif dan gerbongnya? Ya para stakeholder experiential learning Indonesia lah, termasuk saya sebagai salah satu komponennya. Selain saya yang hanya seorang pegiat outbound, tentu ada stake holder lain, yaitu: AELI, baik DPP maupun DPD, para Anggota AELI, baik yang biasa maupun luar biasa, Tim Asesor Uji Kompetensi, Lembaga Sertifikasi Fasel, BNSP, dan Kementerian Pariwisata. Semuanya tadi perlu bersinergi dengan cantik supaya experiential learning bisa berkembang dengan efektif di Indonesia.

Kalau ditanya ada berapa DPD saat ini, sesuai yang tertera di website AELI ini dia datanya: DPD Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan DPD Nusa Tenggara Barat. Hayooo… ada berapa tuh? Bagaimana kiprah DPD, sudah menggembirakankah? Dalam tiap tulisan (sebelum catatan ini) yang menyinggung AELI, saya selalu merujuk pada visi dan misi asosiasi. Berdasarkan visi dan misi itulah kita bisa menilai kinerja asosiasi.

Visi AELI adalah Menjadi wadah dan mitra yang berkualitas bagi seluruh lembaga atau perorangan pengguna metode pelatihan berbasis pengalaman di Indonesia dan bertanggung jawab terhadap pengembangan kualitas manusia Indonesia. Adapun 3 misinya adalah:

  1. Memasyarakatkan pelatihan berbasis pengalaman kepada masyarakat Indonesia. 
  2. Meningkatkan kualitas  pelatihan dan pendidikan berbasis pengalaman, sehingga menjadi metode pelatihan yang efektif dan diakui di Indonesia.
  3. Meningkatkan kualitas pelaksana pelatihan berbasis pengalaman sehingga menjadi pelaksana pelatihan yang bertanggung jawab terhadap pengembangan manusia Indonesia.


Sejauh saya mengamati, AELI masih konsisten berjuang mewujudkan visinya. Hanya memang efektivitasnya yang perlu ditingkatkan lagi. Salah satu contohnya adalah baru sebagian DPD yang proaktif berkegiatan, sementara masih ada DPD yang adem ayem saja.
Keaktifan (luar biasa) AELI harus diakui akibat adanya program sertifikasi oleh pemerintah, misalnya:
  • Pengurus dan anggota DPD/ DPP yang terlibat dalam aneka program pemerintah yang bertema “sertifikasi fasel”
  • DPD (akhirnya) merekrut anggota AELI  karena syarat ikut sertifikasi adalah menjadi anggota AELI. 
  • DPD secara mandiri menyelenggarakan workshop persiapan sertifikasi.

Asosiasi experiential learning Indonesia berdiri sejak 2007, namun anggota yang mengasosiasikan diri baru definitif tercatat baru 8 tahun kemudian, di tahun 2015 lalu. Itu gara-gara apa? Ya…. Karena sertifikasi. Saya tak mau nyinyir bilang itu sesuatu yang gimana gitu, lha wong faktanya begitu, apalagi saya juga menjadi bagian dari asosiasi tersebut. AELI periode saat ini sudah berjuang keras “mengimbangi” program sertifikasi ala pemerintah. Bahwa ada kesan ketergopoh-gopohan dalam sinergitasnya, itu kembali menjadi pelajaran bersama semua pihak yang terlibat dalam program sertifikasi tersebut.

Saya akan meninggalkan urusan sertifikasi dan masuk ke kinerja harian asosiasi. Bolehlah dikatakan bahwa pengurus AELI saat ini mulai kreatif mewujudkan misi asosiasi, terutama dalam bidang peningkatan kualitas fasel dan sosialisasi keberadaan AELI. Pergantian dan pergeseran pengurus pusat beberapa kali terjadi. Saya tidak tahu apa alasannya, mungkin karena dipikirkan untuk kemelesatan kinerja DPP. Namun sepemantauan saya, beberapa mantan pengurus pusat yang terpilih saat RUA justru malah pasif dalam kegiatan keasosiasian. Semoga hanya karena kesibukan mereka saja yang belum memungkinkan.

Masih ada agenda-agenda yang terkesan belum tereksekusi dengan baik, misalnya tentang jurnal/ buletin AELI yang direncanakan terbit berkala, namun sejak edisi perdana Maret 2014 sampai awal tahun 2016 tak kunjung jua ada edisi berikutnya. AELI yearly workshop yang sebenarnya sudah direncanakan ternyata juga belum rutin terlaksana.

Website AELI sudah diperbaharui tampilannya jadi lebih keren, namun masih juga macet dalam pembaharuan kontennya. Sejak pertengahan November 2015 sampai saat ini, tak ada pemberitaan baru, bahkan tentang proses sertifikasi yang sebenarnya betul-betul menggerakkan asosiasi. Saya pernah konfirmasi langsung ke Ketua Bidang Humas, Bendahara, sampai Sekjen untuk urusan website ini; namun toh nihil. Entah gimana nanti nasib website asosiasi ini saya juga tak tahu. Kenapa saya terkesan nyinyir tentang website ini? Bukan karena saya manyun sudah bikin artikel yg diminta DPP tentang kegiatan DPD, namun sudah sebulan lebih nggak nongol-nongol di website (akhirnya saya terbitkan di blog saya sendiri deh, di kompetensi itu ibarat kuda..... ) Yakinlah, website ini salah satu media penting untuk membangun “brand image” AELI, sekaligus sarana sosialisasi. Sayang sekali kalau tidak dipelihara.

Tantangan di depan


Bagian terakhir ini dimulai dengan menyinggung bagian tentang ucapan ketercapaian harapan di tahun 2016 yang sudah dibahas di awal catatan. Konteksnya adalah apa sih yang diharapkan dari gerakan experiential learning indonesia, terlebih yang dimotori oleh AELI? Yang saya bayangkan tentang tantangannya adalah: Setelah ada sekian kali sertifikasi dan menghasilkan fasel, lalu pertambahan jumlah anggota AELI yang signifikan, tentu lebih banyak hal yang saling berkelindan dalam keasosiasian. Ditambah sejarah dan prospek kerjasama dengan stakeholder lain, maka makin lengkaplah kompleksitas upaya pengembangan experiential learning di Indonesia. Untunglah AELI sudah punya AD/ART yang sebenarnya tinggal diikuti saja dalam implementasi programnya.

Harapan saya sih AELI bisa jeli membaca situasi untuk melaksanakan program yang efektif dan efisien seturut misinya. Titik.

Salam AELI, Bersatu Berjaya

Palembang, Awal 2016

Kompetensi itu Ibarat Kuda, ...


Kompetensi itu Ibarat Kuda, Sedangkan Sertifikasi itu Keretanya

 “Jika experiential learning itu ibarat lingkaran besar, maka unsur bisnisnya hanyalah satu lingkaran kecil di dalamnya saja,” demikian salah satu hal yang mengemuka dalam paparan Mas Agoes Susilo JP ketika bertemu para pegiat experiential learning Sumatera Selatan. “Maka, ketika masuk menjadi anggota AELI, serta yang utama digarap adalah sisi bisnisnya saja, hal tersebut perlu kontekskan lagi sesuai misi pendirian asosiasi.”

Ya, pada 23,24 November 2015 lalu, AELI DPD Sumsel mengadakan Seminar & Workshop Experiential Learning dengan tema “Menjadi Fasilitator Berlisensi.” Seminar yang berlangsung di sekretariat AELI sumsel ini merupakan acara publik keempat yang diadakan pengurus sejak tahun 2013. 3 acara sebelumnya adalah:
  • Workshop Nasional “Outdoor Education” pada 16,17 Oktober 2013, dengan narasumber Mas Soel Winarno & Mas Kresno Wiyoso.
  • Workshop “Games Calistung menggunakan APE Kreatif,”  pada 22 Mei 2014 bersama Mas Pranowo.
  • Workshop “Pengembangan Karakter melalui Experiential Learning” pada 22 November 2014, dengan narasumber Bang Sutan Bonamora.


Acara yang  sekaligus menjadi orientasi bagi para anggota AELI ini membuat Mas Agoes,-yang juga menjabat Ketua Bidang Keanggotaan & Organisasi DPP AELI,- menyampaikan tentang apa sih itu AELI, mulai dari sejarah, manfaat, sampai keanggotaannya. Terkait calon anggota, beliau menyampaikan apresiasi pada teman-teman di Sumsel karena keragaman anggotanya. Ya, tercatat 9 lembaga yang menghadiri seminar tersebut, tidak banyak sih, tapi macam-macam asalnya, misalnya ada yang berasal dari provider experiential learning, pemilik/ pengelola venue, LSM pemberdayaan masyarakat, Sekolah Alam, Seniman, PMI, dan event organizer.




Yang lebih seru, seminar tersebut juga dihadiri oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan. Tak pelak, narasumber juga menyampaikan berbagai peluang yang bisa disinergikan Antara AELI dengan sektor kepariwisataan, misalnya pengembangan suatu daerah yang berpotensi menjadi obyek wisata dengan pertama-tama mengenalkan para stakeholdernya melalui pendekatan experiential learning, baik dalam manajemen pengelolaan, pemeliharaan alam, maupun keragaman program wisatanya.

Materi experiential learning disampaikan secara menarik, ditimpa beberapa aktivitas permainan sederhana, baik dari peserta, maupun narasumber. Apa itu prinsip dan aplikasi experiential learning diterangkan dengan lugas. “Oh, ternyata experiential learning itu banyak variasinya, tidak hanya flying fox saja,” demikian seloroh salah satu peserta yang “terbelalak” pemikirannya akan fakta bahwa experiential learning bisa berperan dalam 4 karakter, yaitu dalam sifatnya yang rekreatif, edukatif, developmental, serta terapi. “Yang penting, kita tahu mana pembatasan keempatnya, dan lebih penting lagi kita bisa menggunakannya secara pas. Tak masalah dalam satu kegiatan bisa mencakup lebih dari 1 sifat, misalnya rekreasional dan edukasional, karena toh sebagian program yang digeluti oleh kita para pegiat experiential learning juga seperti itu adanya. Yang jadi masalah adalah ketika kita tidak tahu penjenisannya, lalu mencampuradukkannya dalam sebuah kegiatan sehingga tujuan penggunaan experiential learning malah bias dan tidak berdaya guna.” Demikian salah satu benang merah yang bisa diambil dalam sesi tersebut.



“Kereta kuda hanya bisa berjalan dengan wajar jika posisi kuda ada di depan dan menarik kereta yang ada di belakangnya, bukan sebaliknya, kereta di depan, kuda di belakang. Itu mirip dengan urusan kompetensi dan sertifikasi. Kompetensi itu ibarat kuda, sedangkan sertifikasi itu keretanya. Kompetensilah yang membuat seorang fasel bisa beraktivitas, sedangkan sertifikasi “hanyalah” pengakuan saja atas kompetensi tersebut. Jika dibalik, sertifikasi diposisikan sebagai penyebab kompetensi seorang fasel, itu cara pikir yang keliru. Ibarat mau menjalankan kereta kuda, tetapi keretanya di depan, kudanya di belakang, kacau deh.” Sungguh sebuah perumpamaan yang bagus, yang disampaikan Mas Agoes mengenai konteks sertifikasi dan kompetensi fasel.
Apakah seorang fasel harus kompeten, YA. Apakah sertifikasi penting, YA; namun sertifikasi bukanlah segala-galanya bagi seorang fasel. Secara pribadi, sertifikasi harus dikontekskan sebagai sarana pembuktian bahwa seseorang sudah kompeten akan suatu kompetensi. Ketika seorang fasel memang kompeten, dan ada pembuktian berupa sertifikasi dari BNSP, maka niscaya alur perkembangan kefasilitatorannya juga akan berbeda.



Sore menjelang, hujan deras menyerbu Bivac (Bina Vitalis Adventure Camp) tempat seminar berlangung. Gemuruh atap seng yang dihujani derasnya titik air tak menyurutkan suasana seminar yang justru makin hangat.

“Tep,” mati lampu, aliran listrik dari PLN macet, namun paparan dan diskusi tetap dilanjutkan. Namun ada tawaran dari narasumber dalam suasana kematilampuan tersebut,  untuk melengkapi formasi pengurus DPD AELI Sumsel. Tawaran yang disambut baik para peserta tersebut akhirnya melahirkan proses pelengkapan dewan pengurus daerah; dari yang semula hanya ada Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Anggota, kini sudah dilengkapi dengan 4 bidang, yaitu: Bidang Organisasi & Keanggotaan, Bidang Hubungan Masyarakat, Bidang Usaha dan Dana, dan Bidang Pendidikan, Latihan, Penelitian dan Pengembangan.

Seperti ada yang mengatur saja, usai musyawarah pelengkapan pengurus DPD selesai, listrik tersambung kembali, dan akibatnya lampu menyala lagi. Maka, materi dilanjut lagi dong.

Pada sesi penutup, Narasumber memberi inspirasi akan pentingnya seorang fasilitator experiential learning mempunyai attitude yang sehat. Setelah membagikan buku keduanya, narasumber yang juga merupakan penulis buku Trilogi Outbound, sedikit membedah bukunya pada bab Pamali/ Pantangan bagi seorang fasel/ outbound trainer. Apa saja pantangan bagi fasel? Ternyata….
  • 1.       Jangan suka mengeluh.
  • 2.       Jangan bersikap boros.
  • 3.       Jangan merasa sok kuat.
  • 4.       Jangan menganggap provider lain sebagai musuh/ lawan.
  • 5.       Jangan amatiran.
  • 6.       Jangan melupakan ibadah.


Disertai dengan penceritaan beberapa pengalaman nyata, sesi “Menjadi fasilitator yang efektif dan inspiratif,” makin tercerna dengan baik oleh peserta seminar. Jadi, bagi seseorang yang memang serius masuk ke dunia fasilitator experiential learning, punya kompetensi itu tuntutannya, punya sertifikasi itu penting, dan punya sikap yang sehat itu tak kalah penting.

Petang menjelang, dan kegiatan seminar hari pertama pun ditutup dengan inspirasi serta wawasan baru yang didapat peserta tentang experiential learning dan dunia kefasilitatorannya.

Acara hari kedua berformat workshop, yang materinya ditekankan pada salah empat kompetensi fasel versi SKKNI, yaitu: manajemen resiko, memandu kegiatan tali tinggi,  memandu kegiatan tali rendah, dan menolong korban.
Materi manajemen resiko sebagai pembuka workshop dibawakan oleh Agustinus Susanta, seorang Fasel tingkat Utama yang kebetulan juga menjadi Ketua DPD AELI Sumsel. Apa itu resiko, mengapa resiko harus ada dalam suatu pelatihan, sejauh mana resiko bisa diterima, dan bagaimana manajemen resiko dilakukan? Adalah beberapa hal yang disampaikan secara prinsip dalam sesi tersebut. Yang jelas, sesederhana apa pun, pengelolaan resiko kegiatan dalam experiential learning perlu dilakukan.


Materi selanjutnya adalah pengantar tentang sistem tali tinggi dan tali rendah yang dibawakan oleh Andreas Teguh dari Bivac dan Fadjri Ramadhan dari Cakrawala. Paparan dilakukan di dalam kelas, dilanjutkan dengan praktik di lapangan. Para peserta saling berbagi pengalaman tentang materi ini menggunakan perlengkapan yang dipinjam dari beberapa anggota. Keterbatasan waktu “memaksa” sesi ini diakhiri dengan kesadaran bahwa untuk menjadi fasel yang kompeten masih banyak hal yang perlu dipelajari lagi, terutama terkait tali tinggi dan tali rendah.


Usai makan siang, workshop dilanjutkan dengan materi pertolongan pertama yang dibawakan oleh tim PMI Kota Palembang yang dikoordinir oleh Pak Yoedhi S. Fakhar. Prinsip-prinsip pertolongan pertama, pengenalan aneka perlengkapan & obat, dan teknik retusisasi adalah sebagian materi yang disampaikan secara interaktif. Namun kembali karena keterbatasan waktu, saat petang menjelang sesi tersebut harus diakhiri juga. Kesadaran kolektif peserta mencanangkan bersama bahwa dalam kesempatan selanjutnya, perlu dilakukan lagi pelatihan tentang pertolongan pertama, tentu saja dengan waktu yang lebih memadahi.


Saat penutupan Seminar dan Workshop, peserta merefleksikan bahwa untuk menjadi fasel yang profesional, diperlukan kesadaran untuk selalu meningkatkan kompetensi diri dan membangun jejaring melalui AELI. Sertifikasi profesi fasel akan dipandang secara proporsional sebagai sebuah sarana pembuktian diri akan kompetensi, yang pada akhirnya akan digunakan untuk memuliakan profesi fasel. Tak kalah penting adalah bagaimana seorang fasel mempunyai cara pandang dan prilaku yang sehat serta membangun. Beberapa hal tadi mendorong AELI Sumsel untuk bisa sinergi dalam membuat dan melaksanakan berbagai program pengembangan EL.

Salam dari Sumsel, 
30 Nov. 2015


AELI, Bersatu Berjaya!