yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Jumat, 25 November 2011

Antara Instruktur, Cermin, dan Sahabat

bambu sejajar


Dalam dua minggu terakhir, saya terlibat pembicaraan seru dalam proses perencanaan dan evaluasi 2 buah outbound yang berbeda. Fokus pembicaraan adalah pada metode pendampingan peserta outbound. Kondisi kedua lebih jelas ujung pangkal diskusinya, dibandingkan  kondisi pertama yang sampai sekarang saya juga masih bingung apa sih konten materi yang kami debatkan.

Pada outbound yang pertama, kami merencanakan sebuah skenario outbound bagi 40an peserta. Waktu yang disediakan untuk outbound hanya setengah hari dari siang sampai sore, sementara malam digunakan untuk pemaknaan proses. Seorang sahabat, sebut saja bernama Jaya, tercatat sudah sering kerja bareng dengan saya untuk menyelenggarakan berbagai outbound maupun latihan kepemimpinan. Ide Jaya (sepenangkap saya) ingin mengeksekusi skenario ala latihan kepemimpinan (selanjutnya saya singkat jadi latpim saja yach) yang menit demi menit ketat, penuh ketegangan. Harapannya sih supaya peserta outbound benar-benar patuh pada fasilitator sehingga dapat menjalankan misi outbound secara maksimal. Bahkan dia akan tega tidak mengikutkan peserta jika di awal sudah ragu-ragu untuk bermain, alias tidak mau total, wuih.... segitunya...

Ide saya agak beda; nggak perlu lah sangar-sangar pada peserta outbound, lagipula peserta adalah orang dewasa, lagipula lagi, waktu interaksi fasilitator dengan peserta hanya setengah hari. Kalo diisi dengan ketegangan (walau maksudnya supaya peserta serius bermain) perhitungan saya tidak akan cukup waktu untuk “recovery” perasaan-perasaan yang mungkin masih mengganjal saat proses. Sisip dikit (ini istilah Palembang yang artinya.... apa ya artinya... kurang lebih  artinya selisih/ meleset sedikit)  malah nanti jadi kontra produktif saat kami menyampaikan pemaknaan. 

Metode yang diajukan Jaya menurut saya sangat baik jika konteks kegiatan adalah latpim dengan waktu minimal 2 malam, dimana memang peserta dituntut untuk berproses secara simultan (kadang-kadang) dalam suasana kepepet/ tertekan. Keluar dari zona nyaman adalah istilah yang sering saya gunakan untuk menyebut istilah itu. Apa pula maksudnya? Gini... latpim itu khan tujuannya melatih peserta dalam bidang kepemimpinan. Ada teori bilang bahwa seseorang akan lebih efektif belajar memimpin dan dipimpin jika dalam kondisi “waspada” atau penuh ketidakpastian. Tekanan psikologis dengan intonasi perintah, bahasa tubuh dan lainnya bisa efektif membuat kondisi tidak nyaman tersebut. Namun jika itu diterapkan dalam outbound yang hanya setengah hari... saya sih memilih tidak.

Bagi teman-teman yang masih bingung, apalagi yang tidak akrab dengan dunia latpim, saya beri contoh permisalan deh. Misalnya kita sama-sama mau belajar PBB atau peraturan baris berbaris. Metode latpim ala Jaya itu yang  melatih seorang militer dengan jam latihan dan peraturan yang sangat ketat, dengan sanksi tegas bagi yang bertindak ceroboh. Tapi bisa juga khan yang ngajar itu guru olahraga kita yang kadang bisa memberi toleransi kalo kita agak capek, mau istirahat, atau ada kelalaian yang kita lakukan. Lebih kurang begitulah permisalannya, semoga bisa membantu mengontekskan cerita saya ini.
panjat bambu

Pada saatnya, dimulailah outbound pertama. Pada kesempatan pertama Jaya bicara, dia sudah “nantang” peserta barang siapa nggak mau serius ikut outbound, mending nggak usah main sekalian. Saya melihat beberapa peserta langsung resisten dengan “tantangan” tersebut. Tak selang lama, seorang fasilitator lain mencoba menetralisir keadaan dengan menyampaikan bahwa dia percaya semua peserta pasti akan menikmati seluruh proses outbound dengan enjoy, karena pada dasarnya manusia adalah homo ludens, atau mahkluk bermain.  Singkat cerita, outbound dengan skenario yang disusun berjalan dengan lancar. Nggak perlu lah saya ceritakan skenarionya ngapain saja, itu nggak berpengaruh deh, termasuk permainananny apa saja, percayalah.

Saat evaluasi intern fasilitator usai outbound, kembali terjadi diskusi hangat, walau diakhiri sampai dini hari yang dingin. Urusan teknis permainan dan skenario tak banyak dibahas karena semua lancar-lancar saja. Hangat diskusi ditingkahi debat yang kadang nggak jelas membahas apa tentang pasal pendekatan kami para fasilitator terhadap peserta. Jaya masih meresa masgul dan agak kecewa karena merasa belum bisa melaksanakan pendekatan latpim yang “keras” pada proses  outbound. Sementara bagi saya dan beberapa  fasilitator lain, pendekatan simpatik yang sudah dilakukan adalah sesuatu yang sudah pas. Apakah pendekatan Jaya tidak pas? Yha  nggak tahu juga, soalnya nggak jadi dieksekusi sih. Bisa jadi lebih efektif, atau sebaliknya malah bikin suasana outbound jadi berantakan. Jaya sampai mengatakan bahwa untuk outbound kali ini dia terpaksa “menurunkan” standar (pendekatan) pendampingan dia terhadap peserta, sementara bagi saya, ah, tidak da yang keliru, kok, nggak perlu dirisaukan.

Salah satu pokok penting dari evaluasi kami malam itu adalah bahwa merancang skenario outbound termasuk memilih permainan yang tepat itu penting. Hal lain yang juga penting adalah kesepakatan bagaimana fasilitator akan membawakan/ memfasilitasi proses outbound tersebut. Apakah mau sangar bak militer, mau seperti teman bagi peserta, atau malah penuh cengengas-cengenges sok akrab sehingga malah nggak punya wibawa di depan peserta, atau model yang gimana? Bayangkan jika tiap fasilitator dalam mendampingi peserta membawa gaya masing-masing yang dipilihnya, yang celakanya saling bertolak belakang. Misalnya ketika fasilitator X  menyampaikan proses dengan penuh humor, ketawa-ketiwi bareng, sementara fasilitator Y dengan gayanya yang jaim, pelit senyum, dan sedikit sinis, sementara giliran fasilitator Z sukanya marah-marah atau nyuruh-nyuruh peserta. Lha bisa kaco itu...
salah satu momen ketika saya memfasilitasi pemaknaan outbound

Kembali saya singgung, ketika dalam format latpim, fasilitator bermain peran itu bisa mendukung proses, tapi ketika diterapkan dalam outbound yang relatif singkat, itu bisa bikin peserta bete, capeee deh... apa sih maunya fasilitator ini?
Kini cerita tentang outbound kedua. Nah, ini suasananya beda, mungkin karena Jaya nggak terlibat disini ya, he he he.... Peserta 40 orang, level supervisor ke atas sebuah perusahaan. Proses outbound 2 hari dengan 2 hari menginap. Skenario sudah disusun, termasuk jenis permainannya, beres deh. Kini tinggal antar fasilitator menyepakati pola pendampingan yang akan digunakan guna menyampaikan materi selama proses. Kami memilih metode pendampingan  yang simpatik alih-alih metode pendampingan yang sangar. Peserta dibagi dalam 5 kelompok yang masing-masing didampingi seorang pendamping yang pada saat-saat tertentu akan masuk ke kelompok untuk memfasilitasi pemakmnaan atas proses. Perencanaan berjalan lancar, dengan porsi terbanyak penyamaan persepsi pendampingan dan materi antar fasilitator/ pendamping.

Singkat cerita, outbound 2 hari pun selesai dieksekusi dengan sukses sesuai rencana. 3 hari sesudahnya kami para fasilitator mengadakan evaluasi.  Ternyata metode pendampingan kelompok dipandang efektif dalam proses outbound, karena nyatanya 40 peserta tersebut mengalami perasaan dan persepsi yang tidak persis sama dalam memandang suatu proses/ permainan. Nah, ketika fasilitator pendamping kelompok masuk dalam diskusi peserta, dia bisa menjadi katalis sekaligus memfasilitasi peserta sehingga bisa menangkap pesan dari proses. Pun ada peserta yang kecewa, sedih, atau jengkel baik terhadap dirinya maupun temannya, pada forum ngobrol bareng fasilitator itulah semua dapat dicairkan kembali.

Cerita kedua selesai.

Nah, apa yang dapat saya maknai dari 2 peristiwa tadi? Pertama bahwa dalam sebuah kegiatan outbound, pendekatan pendampingan perlu ditentukan dan disepkati bersama oleh semua fasilitator. Tak ada suatu metode yang mutlak paling benar untuk mendampingi peserta outbound, karena toh metode yang baik juga harus dieksekusi oleh fasilitator yang mumpuni. 

Hal kedua adalah bahwa peran fasilitator cukup menentukan keberhasilan outbound, terutama jika dilakukan lebih dari 1 hari. Keberhasilan itu artinya peserta dapat memaknai dan mengambil manfaat serta rencana pengembangan diri, seusai mengikuti outbound. Peran fasilitator tentu saja mendampingi peserta untuk mencapai hal tersebut. Teori dan materi yang hebat sekali pun pada pelaksanaannya akan ditentukan oleh kepiawaian fasilitator membawakannya.
pendampingan di bawah pohon... asyiknya...

Sebuah pengakhir tulisan, boleh juga kita menghayati fungsi fasilitator outbound dengan peran ganda, tripel malah, yaitu sebagai instruktur, cermin, dan  sahabat. Kita menjadi instruktur untuk menyampaikan instruksi tentang hal-hal teknis dinamika, termasuk urusan keselamatan. Kita menjadi cermin peserta manakala melalui obrolan, kita bisa mencerminkan seperti apa sih “kelakuan” peserta selama outbound, mencakup pikiran, perkataan, dan perbuatan.  Cermin itu  digunakan supaya peserta bisa mematut diri dan menyadari oooo..... ternyata saya ini seperti ini, tho..... Dan peran sahabat tentu jelas adanya; kita menjadi teman, sahabat yang menyenangkan diajak diskusi bersama peserta. 

Selamat menjadi fasilitator outbound yang mumpuni.

Palembang, 25 November 2011.
Salam, Agustinus Susanta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar