yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Selasa, 16 April 2013

Berambut Gondrong, Pakaian Dekil dan Jarang Mandi; Apa Sih?



 
Sampul Forum AELI Edisi Bulan Maret 2013


Nama lengkap                       : Sulistyo Sapto Winarno
Nama panggilan                    : Soel
Usia                                         : 17 tahun....he he he
Aktivitas keseharian            :
-       Konsultan Outdoor Program pada Adventure Therapy Indonesia, Jakarta
-       Pertengahan April- pertengahan Oktober: Field Staff/Instruktur di Thompson Island Outward Bound Education Center, Boston, Massachusset, USA
-       Awal November- awal April: Praktisi EL independent di Indonesia

Hobi                                        : Travelling, Mendaki Gunung, Bersepeda, Berenang, Basket, Berkebun

Status perkawinan               : Menikah

Riwayat pendidikan             :
-       S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (1988-1994)
-       Standard Course, Outward Bound Lumut, Perak, Malaysia (December 1995)
-       Safety & Management on Challenge Ropes Course, Outward Bound Singapore, Pulau Ubin, Singapore (June 1999)

Riwayat professional           :
-       Guru Bahasa Inggris di sebuah SMP Katholik, Pangkal Pinang, Pulau Bangka (November 1994-April 1995)*
*Catatan: Mengundurkan diri dari profesi guru formal karena merasa bahwa dengan kurikulum yang waktu itu diberlakukan, peserta didik hanya diajari untuk menghafal Grammar agar lolos ujian. Mereka sebenarnya tidak mungkin kompeten berbahasa Inggris, kecuali mendapatkan kursus tambahan. 
-       Assistant Manager, Caleb Indo Trading, Yogyakarta (September-November 1995)
-       Co-Instructor, Outward Bound Lumut, Perak, Malaysia (January 1996)
-       Instruktur, Outward Bound Indonesia, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat (February 1995-December 2000)
-       Pendiri & sekaligus Direktur Operasional, Pancawati Outdoor Training, Bogor, Jawa Barat (January 2002-Maret 2003)
-       Direktur Operasional, Santa Monica Camp, Bogor, Jawa Barat (May-December 2003)
-       Praktisi EL Independent* (January 2004-September 2009)
*Catatan: menjadi Praktisi Independent antara lain bekerja sebagai fasilitator, konsultan, programer dan pembicara pada beberapa seminar/workshop EL.
-       School Manager, Outward Bound Indonesia, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat (Oktober 2009-January 2011)
-       Chief Instructor, Nomad Adventure, Gopeng, Perak, Malaysia (February –April 2011)
-       Program Manager, Adventure Therapy Indonesia, Jakarta (May 2011-Maret 2012)
-       Instruktur, Thompson Island Outward Bound Education Center, Boston, Massachusset, USA (April 2012-sekarang)



Bagaimana cerita awal ketertarikan Mas Soel dalam dunia EL?

Ketika saya masih di bangku kuliah dan aktif di organisasi Pecinta Alam, seorang dosen pembimbing pernah bertanya kepada saya, ”Adakah manfaat nyata dari kegiatan petualangan kalian bagi orang lain? Bisakah kalian menularkan nilai-nilai positif yang selama ini kalian yakini tanpa harus mengajak para mahasiswa ‘baik-baik’ membolos kuliah? Tidak bisakah sebutan ‘Pecinta Alam’ dipakai semua orang tanpa harus beratribut khusus misalnya berambut gondrong, pakaian dekil dan jarang mandi, membawa ransel besar keluar masuk hutan naik turun gunung??!”
Saya memang mengiyakan semua pertanyaan tersebut di atas, namun jujur saja saat itu saya tidak mampu menjelaskan bagaimana melakukannya. Saya memang meyakini bahwa serangkaian aktivitas bertualang selama bertahun-tahun telah banyak menggembleng karakter saya secara positif. Dari seorang anak pemalu, introvert, tidak kompeten serta kurang PeDe tumbuh menjadi sosok mahasiswa yang aktif bersosialisasi dalam berbagai kegiatan di kampus, terlibat pada beberapa kepanitiaan baik di internal maupun antar Unit Kegiatan, serta memiliki pemahaman diri yang jauh lebih positif ketimbang saat awal-awal masuk kuliah. Keberhasilan mengatasi banyak hambatan di kala bertualang baik sendiri maupun bersama rekan-rekan telah banyak mempengaruhi pertumbuhan karakter saya.

profesi ini memberikan kita peluang memberi kontribusi nyata bagi perbaikan karakter bangsa tercinta ini

Namun bagaimana membagi nilai-nilai tersebut bagi khalayak umum? Bagaimana orang bisa memahami nilai-nilai petualangan bila mereka enggan bertualang? Bagaimana mungkin mengajarkan keindahan merasakan keberhasilan menaklukan tantangan bagi orang-orang yang seumur hidupnya cenderung tidak pernah mengambil resiko? Saya mungkin bisa menularkan nilai-nilai positif dari aktivitas petualangan, seperti yang selama itu selalu saya coba lakukan bagi adik-adik yunior saya. Namun dengan sebuah persyaratan yang tidak mudah yaitu bahwa mereka harus aktif bertualang. Alam dengan segala kearifannya sendirilah yang akan mengajari mereka. Peran saya hanya mendorong dan memberikan contoh para yunior saya melakukan petualangan. Tidak lebih dari itu!!! So, saya tidak paham bagaimana menerapkan metoda ini bagi khalayak awam. Hingga saya lulus kuliah, pertanyaan Pak Dosen tersebut selalu teringat.

Setamat kuliah saya sempat mengabdikan diri sebagai guru di sebuah sekolah menegah di Pulau Bangka, namun tidak lama saya keluar. Saya merasa tidak cocok dengan kurikulum yang saat itu diberlakukan yang bagi saya hanya membuat siswa sibuk menghafalkan rumus-rumus grammar beserta contohnya demi lolos ujian. Saya kembali ke kota tempat tinggal saya dan mendapatkan pekerjaan baru sebagai asisten manajer sebuah perusahaan eksportir.
Belum genap tiga bulan bekerja, seorang rekan memberitahu saya bahwa ada lembaga pelatihan yang melakukan pendidikan ‘penggemblengan mental’ bagi kaum awam –terutama para karyawan perusahaan- melalui kegiatan petualangan di alam bebas. Tidak banyak info yang saya terima dari rekan tersebut namun satu kalimat kunci telah menggerakkan saya: ‘AKTIVITAS PETUALANGAN UNTUK MELATIH KARAKTER’. Sayapun keluar dari pekerjaan kantor saya, melamar dan diterima di institusi Outward Bound.
Bekerja menjadi salah seorang instruktur di sekolah Outward Bound mengenalkan saya dengan metoda pelatihan EL. Sebagai sebuah lembaga pelatihan, Outward Bound memiliki hubungan dengan beberapa institusi sejenis di luar dimana hal ini memungkinkan saya belajar banyak baik dari sharing dan bimbingan para instruktur yang sudah terlebih dahulu menekuni bidang ini, maupun dengan tersedianya buku-buku acuan yang banyak menjelaskan metoda Experiential Learning ini.

Sebetulnya apa sih esensi dan keunggulan EL, dibanding metode pembelajaran lainnya? Kok banyak yang bilang itu cocok untuk pembelajaran orang dewasa?

Esensi pembelajaran lewat metoda Experiential Learning menggali nilai-nilai pembelajaran dari pengalaman nyata pesertanya. Hal ini cocok bagi proses pendidikan karakter orang dewasa karena mereka tidak hanya menjadi pendengar pasif dan diminta menerima nilai-nilai pembelajaran yang sedang diberikan, namun aktif mengambil peranan dalam memahami nilai-nilai yang sesuai dengan diri mereka.
Pembelajaran didapatkan melalui proses mengalami dan refleksi, bukan sekedar menjadi pendengar passive recipient. Dengan mengalami serta merefleksikan nilai-nilai dari serangkaian pengalaman nyata, metoda ini biasanya lebih memberikan impact yang lebih mendalam bagi pesertanya.

Mas Soel khan sudah sering berkarya di luar Indonesia, apakah ada perbedaan pandangan/ perkembangan EL antara di Indonesia dengan di luar negeri? Kalau ada, kira-kira apa faktor penyebabnya?

1.       Secara perkembangan, standar safety dalam berkegiatan –baik sebagai wahana rekreasi maupun aktivitas training- di kebanyakan negara maju sudah sangat established. Penerapan prosedur keselamatan sangat dipatuhi, baik kepada peserta maupun staff lapangan yang bekerja. Ketidakmampuan/kegagalan menerapkan prosedur keselamatan akan mendapat sanksi yang tegas dari pihak berwenang. Hal ini dilakukan demi menjaga tidak hanya pengguna jasa namun juga para pelaku bidang pekerjaan ini.

2.       Pandangan tentang safety juga tidak sebatas keselamatan fisik saja namun juga rasa aman secara emosional/psikologis. Contoh emotional safety yang saya maksud adalah ketika peserta dalam suatu pelatihan merasa dipaksa melakukan aktivitas, atau dalam kegiatan yang sifatnya fun seorang fasilitator ‘melecehkan’ perasaan (bullying) pada pesertanya dengan cara-cara ‘mengerjai’ si peserta demi menimbulkan kelucuan. Perilaku bullying  dengan memperolok, melecehkan, mempermalukan atau membuat tidak nyaman pihak lain secara psikologis memang sangat mudah kita jumpai di Indonesia sehingga sering dianggap wajar. Mungkin karena banyak program hiburan di televisi yang mempertontonkan secara vulgar praktek bullying ini, sehingga para praktisi EL cenderung menirunya.

Di banyak negara maju, aktivitas yang menyertakan gurauan melecehkan semacam ini bisa dianggap TIDAK SAFETY secara emosi. Duty of Care yang mereka emban sebagai lembaga tidak saja mencakup physical safety namun juga emotional safety.

3.       Perbedaan perkembangan/pandangan mencolok yang lain adalah bagaimana masyarakat menghargai sebuah perusahaan jasa (provider), terutama lembaga pelatihan. Ada standar kompetensi minimal yang harus dipenuhi baik sebagai lembaga ataupun praktisi. Enggak bisa asal comot fasilitator yang kadang gak jelas kemampuannya.

4.       Lembaga training EL di luar lebih berkonsentrasi ke arah PENCAPAIAN OBYEKTIF bukan semata-mata jenis kegiatannya. Lain sekali dengan di Tanah Air dimana banyak provider lebih banyak menuruti keinginan klien yang umumnya secara pemahaman pelatihan kurang dewasa sehingga banyak yang lebih berkonsentrasi kepada jenis aktivitasnya.

Memang program pelatihan harus customised melayani obyektif yang diinginkan klien, tapi kan gak harus si klien sendiri milih-milih macam game atau aktivitas apa semau mereka. Provider EL di Indonesia jauh dari kesan berwibawa. Bagaimana bisa mereka membawa pengaruh perubahan kepada klien kalau posisi mereka saja ‘memprihatinkan’?

Menurut Mas Soel, apa saja sih hal-hal minimal yang harus dimiliki sebuah lembaga/ provider jika ingin mengembangkan EL dengan baik?

Pertama dan terutama adalah memiliki software dasar yaitu VISI & MISI lembaga tersebut berikut CORE VALUES yang mereka bawa dalam pelayanan mereka. Nampaknya sederhana namun sehat tidaknya sebuah lembaga EL bisa dilihat dari software mereka serta penerapannya dalam operasional mereka. Bila ingin mengembangkan lembaga EL dengan baik serta kuat milikilah visi & misi perusahaan berikut nilai-nilai yang dianut secara jelas & kuat dan pastikan semua aspek operasional perusahaan baik program maupun cara kerja mematuhi keyakinan tersebut. Provider yang tidak memiliki visi & misi yang jelas dan cenderung PALUGADA (apa yang lu mau gue ada) mungkin saja bisa hidup namun belum tentu bisa berkembang baik.

Tidak bisakah sebutan ‘Pecinta Alam’ dipakai semua orang tanpa harus beratribut khusus misalnya berambut gondrong, pakaian dekil dan jarang mandi,

Kedua: perlunya Prosedur Kerja Baku (SOP) dalam setiap aktivitas yang dilakukan. SOP diperlukan tidak saja untuk memastikan kualitas dan keselamatan kerja, namun juga berfungsi untuk melindungi posisi lembaga maupun staff lapangan yang bertugas. Musibah mungkin saja terjadi namun selama kita sudah melakukan pekerjaan sesuai prosedur yang berlaku maka kita bisa terhindar dari tuntutan melakukan kelalaian.
Ketiga: memiliki dan mengembangkan staff lapangan yang berkualitas. Dalam lembaga training SDM adalah salah satu aset perusahaan yang sangat berharga. Membina staff lapangan yang handal, menghormati peranan mereka dengan memastikan kesejahteraan setiap karyawannya merupakan salah satu kunci berdiri kokohnya provider EL secara sehat.
Sangat disayangkan di Indonesia penghormatan terhadap profesi staff lapangan masih sangat memprihatinkan. Banyak provider yang dengan alasan efisiensi biaya bahkan tidak merasa perlu memiliki dan –apalagi- membina staff lapangan mereka.  

Mengenai fasel nih, bagaimana kualitas para fasel di Indonesia dan bagaimana ya cara meningkatkan kompetensinya?

Fasilitator Experiential Learning (Fasel) di Indonesia hingga saat berada pada posisi yang kurang menguntungkan dalam dunia EL. Peranan mereka sangat diperlukan dalam setiap aktivitas EL namun penghargaan terhadap profesi mereka cenderung kurang layak. Tidak mengherankan bahwa profesi fasel sebenarnya kurang diminati sebagai sandaran hidup. Banyak orang menjadi fasel karena belajar untuk menjadi provider yang akan berdiri sendiri.
Kenyataan ini cenderung menyebabkan keengganan mereka memperdalam seni menjadi failitator, terutama bila motivasi materi menjadi tujuan utama. Banyak fasilitator outdoor berhenti bekerja di lapangan begitu mereka memiliki provider sendiri dan sanggup mempekerjakan orang lain. Kenyataan yang berbeda dengan para trainer indoor!

menghormati peranan mereka dengan memastikan kesejahteraan setiap karyawannya merupakan salah satu kunci berdiri kokohnya provider EL secara sehat

Kunci utama menjadi fasel berkualitas hampir sama dengan profesi lain yaitu mencintai dan mengabdi kepada pekerjaan. Profesi bisa diibaratkan pasangan hidup. Bila kita mencintai pasangan kita tentulah kita berupaya untuk lebih memahami apa saja keinginan-keinginan pasangan kita, melayaninya agar pasangan kita bahagia, memenuhi apa saja yang dia butuhkan.
Kalo seorang fasel cenderung merendahkan profesinya maka dia sebaiknya mencari profesi lain. Memang terdengar sangat normatif dan klise namun sebenarnya tidak ada formula pasti untuk menjadikan fasel EL yang berkualitas selain tetap selalu belajar menjadi lebih baik. We don’t have the privilege to choose our jobs. They chooses persons to serve them properly!   


Selama menjadi fasel, baik di dalam atau luar negeri, apa nih pengalaman yang paling mengesankan?

Awal Juli 2012 saya bersama Romy Prasetiyo asal Malang memimpin Passages Program yaitu program pelatihan pengembangan karakter bagi anak-anak remaja dengan media ekspedisi kayak laut selama 12 hari di Boston, USA. Program ini dilaksanakan di Amerika, dengan peralatan dan sistem safety standar Amerika, semua pesertanya warga Amerika, dengan obyektif dan cara memfasilitasi ala Amerika namun dilaksanakan dengan sangat berhasil oleh 2 orang Indonesia!!! Saya pikir pada profesi lain, kejadian semacam ini sangat jarang terjadi ha ha ha!!!

Mas Soel khan salah seorang pionir saat ada deklarasi AELI, gimana pendapat Mas Soel mengenai perkembangan AELI sampai saat ini?

Proses terbentuknya AELI diawali dari kenyataan makin berkembangnya dunia pelatihan maupun kegiatan rekreasi yang menerapkan metoda Eksperiential Learning di Indonesia. Banyak praktisi pada waktu itu merasa perlunya dibentuk wadah yang bisa mendorong perkembangan dunia EL ke arah yang lebih baik serta memayungi profesi ini.


Sebenarnya sejak dideklarasikan hingga saat ini, ekspektasi khalayak praktisi EL sangat besar agar lembaga ini mampu menunjukkan kiprahnya secara nyata dan memberikan kontribusi bagi arah perkembangan dunia EL secara positif. Dan Pengurus AELI saya yakin juga berusaha untuk memenuhi harapan-harapan tersebut. Namun upaya tersebut memang tidak mudah dan pastinya banyak kendala. Hal ini terutama disebabkan lemahnya posisi AELI hingga saat ini di kalangan masyarakat EL.
Bila AELI mau berkiprah membenahi carut marut dunia otbon maka dia harus memiliki kekuatan yang bisa diperhitungkan. Kekuatan tersebut seharusnya tidak didapat dengan pemaksaan namun dengan penerimaan. Misalnya dengan mengedukasi baik anggotanya maupun pasar demi menimbulkan kepercayaan. Ketika suatu saat masyarakat pengguna jasa akhirnya memilih hanya provider yang menjadi anggota AELI saja yang layak menjadi pilihan mereka, maka saat itulah lembaga ini memiliki kekuatan agar bisa berkiprah lebih efektif.
Arah kerja AELI untuk saat ini sebaiknya memberikan edukasi  yang pada akhirnya tercipta standardisasi bagi para ‘anggotanya’ demi mendapatkan kepercayaan pasar.

Bagaimana pendapat Mas Soel tentang bulletin “Forum AELI” ini?

Terbitnya “Forum AELI” ini sangat penting dan bermanfaat demi dalam menjawab ekspektasi kalangan praktisi EL dan mungkin masyarakat pengguna jasa terhadap sebuah wahana berbagi informasi maupun pengetahuan tentang dunia Experiential Learning. Semoga “Forum AELI” ini bisa memberikan kesegaran terhadap rasa dahaga yang mungkin dirasakan khalayak EL dikarenakan minimnya buku-buku acuan maupun tulisan tentang EL di Indonesia. Saya sebagai seorang praktisi pelatihan outdoor bermetoda EL tentu sangat bersyukur dengan keberadaan bulletin ini. Semoga di masa mendatang akan lebih bermakna lagi bagi pendewasaan dan pengembangan dunia EL di Tanah Air.

Apa pesan atau harapan Mas Soel pada sesama Fasel di Indonesia ini?

Pekerjaan menjadi Fasilitator Experiential Learning bagi saya merupakan anugerah karena profesi ini telah memberi kesempatan saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, mengunjungi banyak tempat-tempat indah, melakukan aktivitas-aktivitas menyenangkan serta mempelajari banyak karakter manusia. Singkatnya profesi ini secara batin telah memanjakan saya dan mengembangkan pribadi saya.
Namun saya prihatin bahwa profesi fasilitator secara materi belum mendapatkan penghargaan yang memadai. Saya sangat berharap dunia Fasel bisa lebih dihargai sebagai sebuah profesi yang layak dan mampu menjamin penghidupan bagi para pelakunya, sama seperti banyak profesi lain pada umumya.
Bagi rekan-rekan Fasel dan staff lapangan pada umumnya, berbanggalah dengan profesi kalian. Cintailah pekerjaan ini karena sebenarnya profesi ini memberikan kita peluang memberi kontribusi nyata bagi perbaikan karakter bangsa tercinta ini.

Terimakasih, Mas Soel atas segala inspirasinya. Semoga bisa mewarnai dunia EL Indonesia menjadi lebih baik lagi. Sukses untuk semua karya-karya mas Soel Selanjutnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar