yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Selasa, 16 April 2013

Antara Experiential Learning, Lokasi, dan Kucing Hitam



Botjoran Forum AELI edisi Bulan April 2013


Cerita kita awali dengan sebuah pertanyaan “Adakah syarat tertentu sehingga suatu tempat/ lokasi bisa digunakan untuk proses experiential learning?” Sebelum pertanyaan tersebut dibedah lebih lanjut, barangkali ada pertanyaan turunan begini, “Apa itu proses experiential learning?” jawab dari pertanyaan ini sebenarnya bisa kita nikmati pada bulletin Forum AELI edisi Februari 2013 lalu. Tapi walaupun sudah benar, baiklah kita telusuri sejenak. Experiential learning adalah proses belajar yang menggunakan pengalaman sebagai media belajar atau pembelajaran. Pembelajaran dilakukan melalui refleksi dan pemaknaan pengalaman tersebut. Fokus Experiential Learning adalah  pembelajaran individu/ pribadi (David A. Kolb 1984).
Oh ya, cerita tentang jawaban dan paparan pertanyaan pertama tadi disusun berdasarkan diskusi di Grup FB AELI selama 5-21 Maret 2013; dengan komentator diantaranya: Agustinus Susanta, Soel Winarno, Didi Handoko, Emma Bukit, Dante Mayindra, Adi Ed-venture, John H Dasuha Outbound, Membangun Karakter Graphology. Bertindak sebagai editor adalah Agustinus Susanta.
Mari kita mulai ceritanya, eh, apa tadi pertanyaannya? Oh ya…“Adakah syarat tertentu sehingga suatu tempat/ lokasi bisa digunakan untuk proses experiential learning?”
Ketika experiential learning “hanya” dipandang sebagai kegiatan games berjenis “fun” dan rekreasi, maka lokasi penyelenggaraannya harus  nyaman, indah, dengan segala fasilitas shelter dan kamar mandi WC hingga tempat ibadah yang  memadai. Pasokan listrik yang cukup  karena mana tahu ada kegiatan yang membutuhkan banyak sound system serta lampu-lampu gemerlap. Kondisi tersebut juga perlu ditunjang dengan catering/ penyediaan konsumsi yang handal. Ah, tampaknya jenis yang ini bisa langsung kita tinggal saja yach…
Jika tujuannya “meningkat” menjadi  TRAINING tentu lebih mengacu ke suatu pencapaian obyektif, sehingga fasilitas 'kenyamanan' yang terbatas pun masih bisa dipergunakan. Justru fasilitas penunjang program semacam instalasi Ropes Course, aneka game terpasang, ruang akomodasi staff, akomodasi peserta, gudang alat, ruang P3K, dll. akan sangat membantu proses.
Nah, jika pertanyaannya dikembangkan lagi menjadi "Kondisi alam terbuka (danau/ gunung/ bukit/ lembah/ laut/ sungai/ hutan/ pegunungan) yang seperti apa yang bisa kita gunakan untuk proses experiential learning?" makin asyik kan?
Secara operasional ada 2 jenis pelatihan pengembangan diri berbasis Outdoor, yaitu: Residential Course & Mobile Course. Residential Course mempergunakan lahan pelatihan semacam kamp/barak dengan hampir semua aktivitas dilakukan di tempat. Memang tidak tertutup kemungkinan mempergunakan area tambahan misal untuk aktivitas orienteering atau bahkan ekspedisi, bila diperlukan. Inti dari sistem Residential Course adalah proses pembelajaran dilaksanakan di satu lokasi/ area saja.

Mobile Course lebih mengandalkan setting alami. Penyelenggaraan pelatihan model mobile ini sangat memperhatikan faktor lokasi/setting yang sebenarnya kurang menguntungkan karena banyaknya keterbatasan; namun justru bisa dijadikan kekuatan utama. Inti dari sistem Mobile Course adalah proses pembelajaran dilaksanakan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Proses perpindahan/ pergerakan tersebut juga merupakan inti proses.


Mari kita bercontoh. Bagaimana dengan kegiatan “live in?” apakah itu termasuk Residential Course atau Mobile Course experiential learning? Live in itu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh kalangan pendidikan dimana sekelompok siswa/ mahasiswa tinggal bersama-sama penduduk desa dalam kurun waktu tertentu. Harapannya, dalam live in peserta bisa mengambil pembelajaran dari pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat. Misalnya nih kita memiliki program Live In  untuk anak-anak sekolah asal Kota Tangerang yang  berdurasi 6 hari, berlokasi di pelosok kecamatan Ngawen, Gunung Kidul, DIY. Tahu kan DIY itu apa? Daerah Istimewa Yogyakarta.  Peserta hanya diberitahu info secukupnya, lalu diberangkatkan pagi hari bersama-sam.
Hmmm…. program seperti  ini bisa dikategorikan Mobile Course. Namun bisa jadi program yang sama bersifat Residential bila sebagian besar proses-proses dinamika live in dilakukan di satu hunian saja di pelosok Gunung Kidul tadi. Oke, cukup ya contohnya.
Tempat atau lokasi untuk aktivitas experiential learning  selayaknya dipilih berdasarkan atas potensi tempat tersebut dalam memenuhi tujuan dari program yang akan dilaksanakan dan objectivitas yang ingin dicapai, bukan berdasarkan atas kebiasaan instruktur yang menyukai tempat tersebut. Tempat yang terpilih juga idealnya dapat memberikan daya dukung yang bisa dipakai untuk mengembangkan teknis program dalam upaya mengembangkan tantangan atau ketertarikan partisipan/ peserta. Dalam manajemen resiko, General Safety Procedure, dan dalam Siklus Pengelolaan Kegiatan, poin mengenai pemilihan tempat/lokasi kegiatan sebenarnya tidak terpisahkan. Jadi menentukan tempat/lokasi dalam beraktifitas sebiknya tetap memperhatikan prosedur keselamatan yang benar.
Bagaimana teknis kita mengondisikan alam outdoor yang "liar" menjadi "terkontrol" sehingga aman untuk proses experiential learning? Jawaban untuk pertanyaan terakhir ini sebenarnya sudah kita bahas habis-habisan; jika penasaran,  silahkan buka kembali tulisan perihal Mengelola Resiko Kegiatan di buletin Forum AELI edisi Bulan Maret 2013. Di sana lengkap tersebut berbagai trik “menjinakkan” keliaran alam sehingga bisa digunakan secara aman untuk berkegiatan.
Urusan  "mengondisikan alam outdoor yang "liar" menjadi "terkontrol" bukanlah masalah ide atau kreativitas. Aktivitas/ proses ini sudah merupakan terapan yang harus dilakukan oleh seorang Fasel yang semestinya sudah memiliki keterampilan mengelola kegiatan di alam terbuka. Variabel kompetensi ini juga ada di dalam “manajemen resiko.” Sekali lagi ini bukan masalah "ide," ini adalah mengenai skill. Untuk mengurai hal tersebut ya kita harus gelar keterampilan baik secara softskiil maupun hardskillnya. Cerita akan jadi panjang dan kalo hanya dipaparkan melalui tulisan bisa jadi nanti tidak lengkap, tidak berurut, dan terpenggal-penggal pemahamannya. Itu bisa berbahaya jika keliru dimaknai, karena prosedur keselamatan semacam ini terkait dengan keselamatan (nyawa) peserta pembelajaran. Tentu hal yang absurd dan harus dihindari jika kita membahayakan keselamatan peserta didik demi tujuan pendidikan/ pelatihan itu sendiri.
Pertanyaan “bagaimana mengondisikan outdoor supaya pas untuk experiential learning ?” tidak bisa dijawab hanya dengan berbagi pengalaman disini, karena ini menyangkut pengetahuan & pemahaman yang luas. Bisa tambah kacau dunia persilatan experiential learning kalau dari sepenggal sharing/ tulisan ini trus ada yang merasa ngerti, merasa bisa trus menerapkannya. (Bukankah "merasa bisa" itu juga adalah bibit kekeliruan yang  sudah terlanjur bikin jadi tambah ribet dunia experiential learning ini? Bisa-bisa nanti trial and error dianggap sama dengan  learning by doing hehe..).
Teori EL itu memang kompleks. Jika mencoba menjelaskan satu hal saja, (dengan tulisan pula), ada resiko gagasan si penulis tak tersampaikan sempurna pada si pembaca. Namun ada juga resiko berhasil tentunya. Itu sama halnya jika misalnya kita membaca satu bagian saja dari sebuah proses latihan kepemimpinan selama 4 hari; mungkin saja paparan itu malah dipahami dalam konteks yang keliru. Kenapa, karena dinamika tersebut mencakup pengetahuan & pemahaman yang luas, yang mungkin saja perspektifnya belum dipunyai oleh si pembaca.
Pertanyaan-pertanyaan tentang “pengelolaan lokasi” seperti di atas tadi hanya bisa dijawab dengan pemahaman teori dan penerapan experiential learning, juga jangan abaikan "feel" atau "insting" fasilitator tentang  penetapan layaknya suatu lokasi di lapangan. Jadi kalau yang  sudah pernah ikut TOT Basic, lanjutkan dengan yang  Advance dan seterusnya dan seterusnya. Lalu selesai training dalam  tiap tingkatan usahakan bisa ikut pendampingan dalam beberapa  kali pelatihan (ini tantangan untuk  para penyelenggara TOT hehe..). Nah dalam forum TOT itulah yang  paling tepat dilakukan berbagi pengalaman & diskusi tentang  lokasi pelatihan. Kalau hanya perpatokan yang di sini saja, wah bisa keselip itu learning by doing sama trial n error.
Namun mari kita setidaknya-melalui tulisan-ini coba berbagi tentang pedoman umum memilih lokasi untuk proses experiential learning. Pedoman khususnya nanti kita buat pengayaan sendiri, entah melalui buku, ataupun pelatihan. Jadi, kondisi alam terbuka yang seperti apa yang bisa kita gunakan untuk proses experiential learning?"
Misalnya nih, Klien pengen buat pelatihan 3 hari di perkebunannya, dengan salah satu mata kegiatannya pendakian gunung/ bukit tertentu di dekat areal perkebunan tersebut. Apa yang semestinya kita lakukan?
Salah satu syarat dasar pelatihan experiential learning  outdoor adalah UNFAMILIAR & UNCOMFORTABLE SETTING. Hal ini yang menjadi salah satu kunci pemilihan lokasi. Program experiential learning itu kalau mau dicapai secara maksimal, harus bisa menciptakan lingkungan yang ekstrim secara fisik dan sosial, jadi tidak bisa dimana pun tempatnya. Kalau misalnya dilakukan di tempat rekreasi yang banyak orang nonton dan banyak yang jualan makanan, wah pada nggak konsen tuh peserta (juga fasilitatornya). Penerjemahannya adalah bagaimana kita bisa melola dan menciptakan situasi yang  “unique/extreme physical and social environment?” Penggunaan kata extreme dipakai untuk mewakili situasi yang berada di luar batas nyaman peserta, dan juga  secara sosial. Sebagai contoh, misalnya, kalau kita  ikut program tour wisata dengan  orang-orang yang tidak dikenal, pasti nggak masalah banget, nggak ekstrim gitu. Tapi kalau programnya ikut Adventure Training, pasti akan mengalami situasi hubungan sosial yang  ekstrim.
Jadi, extreme yang dimaksud tidak selalu atau cenderung hanya pada lokasi atau area saja, tapi kondisi “extreme” ini lebih kreatif dan luas lagi pemahamannya. Dikembangkan pada pencapaian objective dengan pendekatan atau mungkin semacam skenario program. Extreme dalam skenario program bisa juga situasinya terlihat begitu sederhana dan konyol, tapi ternyata impact pada pencapaian nilai pembelajarannnya cukup signifikan...
Ada juga aliran pendapat yang masih mengutamakan pada nilai pembelajaran yang ingin dicapai dalam sebuah program, baru lokasi bisa lebih efektif ditentukan. Artinya kita bisa membuat experiential learning dimana saja bahkan di mall, di pasar, atau di perkampungan ramai, atau bila perlu di stasiun. Berdasarkan pandangan ini, banyak dan beragam tempat potensial bisa dipakai untuk aktivitas experiential learning, tinggal bagaimana kretivitas kita membuat sebuah program dengan pendekatan yang efektif dalam mencapai nilai pembelajaran dari setiap aktvitas tersebut. Intinya, apa programnya, baru dicari tempat yang sesuai.

Mengenai lokasi yang ramai, sebagai  contoh saja, Outwardbound New York, pernah bikin orientering dan beraktivitas di keramaian kota New York. Kalau sekarang bisa kita lihat seperti di acara Amazing Race. Tapi beberapa contoh tadi tetap dengan catatan, pengkondisiannya tetap dilakukan di base camp yang  tidak terganggu oleh masyarakat umum.
Jika experiential learning  mengacu ke siklus proses Aksi , Refleksi, Mengonsep, dan Rencana Aksi/ aplikasi; tampaknya hampir semua tempat bisa digunakan untuk Experiential Learning, mengapa? karena experiential learning adalah metode belajar, bukan kegiatan/ aktivitas. Nah, kalau sudah begitu, yang bisa membatasi pemilihan tempat adalah pilihan Programnya. Kita harus tetap mengacu pada kebutuhan nilai pembelajaran yang ingin dicapai oleh sebuah program.
Pertimbangan unsur keselamatan bukan hanya bicara prosedur tapi ini juga menyangkut hak yang harus kita berikan pada setiap peserta/klien kita. Dalam hal ini, provider pelatihan/ experiential learning berposisi juga sebagai konsultan, karena tidak semua klien kita juga mengerti tentang faktor keselamatan ini. Sudah sepantasnyalah kita para fasel (fasilitator experiential learning) yang harus mengedukasi klien-klien kita atau calon klien kita. Hal ini harus terintegrasi didalam format kerja dalam setiap kali kita mengelola kegiatan dan khususnya saat memutuskan untuk memilih tempat aktivitas yang cocok.
Jadi, mana yang lebih dahulu kita tentukan, lokasi atau programnya?
Ada kalanya kita mencari/suvey lokasi (yang di alam terbuka, lho) lebih dahulu, baru menentukan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan di lokasi tersebut. Tapi ada kalanya juga kita membuat programnya lebih dahulu, baru kita mencari lokasi yang  tepat untuk menunjang program tersebut. Kadang kita kesulitan jika berhadapan dengan calon klien. Misalnya mereka menanyakan program kegiatannya apa;  setelah dipresentasikan, baru mereka bertanya, lokasi pelatihannya di mana. Kalau mereka pikir cocok dengan ide mereka, aman; tetapi kalau tidak, dan mau lokasi yang lain, wah belum tentu cocok detil programnya. Jika kita menghadapi situasi semacam ini, ya, tentunya kita sebagai provider perlu menyiapkan beberapa alternatif kombinasi, baik program maupun lokasinya.
Untuk kegiatan dasar di alam terbuka semisal: hiking, canoeing, biking, climbing dll., lokasi yang paling ideal adalah tempat yang belum tercemar oleh modernisasi. Hayoooo, jaman sekarang di mana coba ada lokasi yang  kayak gini?  Banyak, kok, tapi aksesnya pasti akan lama/ sulit. Kegiatan kita pun idealnya jangan mengganggu/ terganggu oleh lingkungan dan tata kehidupan masyarakat sekitar. Kalau bisa, justru kita harus bisa membantu masyarakat. Waduk Jatiluhur (Purwakarta, Jawa Barat) 23 tahun yang lalu adalah salah satu contoh yang  sangat mendekati syarat tersebut. Kalau sekarang, wah parah deh, meskipun masih bisa dilakukan juga sih berbagai program experiential learning.
Akhirnya, di penghujung cerita kita, Pak Stephen R. Covey, (Penulis Buku The 7 Habits of Highly Effective People) ikut meramaikan wacana. Menurutnya kita harus memulai dari akhir pikiran, alias tujuan, baru bicara teknis, jadi segala sesuatu bisa menjadi sumber inspirasi dan pendukung untuk indoor maupun outdoor training, termasuk experiential learning.  Tidak perlu mempermasalahkan kucing hitam atau kucing putih, yang penting bisa menangkap tikus (kalau ini ungkapan Deng Xiaoping). Atau perlukah kita membandingkan kucing liar sama kucing rumahan dalam menangkap tikus? Lho, kok malah cerita tentang tikus sih? Konteks si tikus-tikus tadi dalam cerita kita ini adalah, tidak usah dipermasalahkan mengenai lokasi/ media belajarnya, yang penting tujuan pembelajaran tercapai. Tapi, ups tunggu dahulu.
Masalahnya adalah bisakah kita membuat kucing hitam, kucing putih, kucing liar, atau kucing rumahan tadi menangkap tikus? Atau pertanyaan yang lebih “hot” lagi, “Jadi apa ada syarat tertentu sehingga seekor kucing bisa dapat menangkap tikus dengan baik?” Tambah mumet khan? He he he….
Maka, apa pun medianya, sebenarnya bisa kita gunakan sebagai sarana/media dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hanya, kalau ada media yang paling tepat yang bisa kita upayakan, tentu itu lebih baik. Dan harus diingat, cerita tentang media/ lokasi yang tepat untuk proses experiential learning tentu harus integral dengan program, metode dan seberapa mumpuni fasel memfasilitasinya.  Bisa jadi suatu kombinasi tempat dan program tertentu bisa dieksekusi dengan baik oleh fasilitator dengan kompetensi A, tapi menjadi bencana jika kompetensi fasilitatornya E.
Yang jelas, kalau kita sudah berbicara mengenai lokasi di outdoor (yang murni lho) maka kita akan mempertimbangkan hingga hal-hal kecil yang akan mempengaruhi tujuan pelatihan. Jika kembali ke teori  yang paling dasar, peserta harus dibawa dan mampu keluar dari comfort zone, baik dari sisi fisik maupun sosialnya. Secara Fisik dapat mencakup: lokasi, fasilitas dan aktivitas yang sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Secara sosial, berarti hubungan yang unik antara peserta, instruktur dan lingkungan melalui program yang sesuai.
Pesan terakhir, boleh-boleh saja divariasikan dengan “dimana pun tempatnya, apa pun programnya.” Tinggal mari kita persepsikan sendiri, apakah dengan itu tujuan pelatihan di Outdoor sudah dapat dicapai secara Optimal dan Maksimal? Mari kita renungkan bersama, Dan terakhir sekali, kucing hitam mengucapkan, “Meooongggg…”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar