yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Senin, 02 Mei 2011

Urgensi Catatan Pendampingan


Lega rasanya setelah mandi, ganti baju dan sekarang  bisa ngetik untuk nulis refleksi pengalaman hari ini. Sekilas info saja yach teman-teman. Pagi tadi saya telah mengarungi jarak lebih dari 30 kilometer untuk menuju lokasi pelatihan berbasis outbound di sebuah tempat wisata. Sebenarnya, jarak terdekat dari rumah saya sekitar 15 kilometer saja, namun akibat pekerjaan pelebaran jalan semua jadi kacau, eh kalo “semua jadi kacau” itu lebay deh, namun intinya beberapa urusan jadi kacau dan lebih repot. Kalo hanya jalan yang dilebarin, tidak akan semengacaukan jika ditimpa hujan yang sering mengguyur Kota Palembang. Jalan utama menuju kota tergenang air (selokannya dihajar sama ekskavator sih) terutama di daerah cekungan, itulah yang bikin kendaraan pada antri, sementara beberapa terpaksa mogok karena mati mesin. Setelah menempuh waktu lebih dari 50 menit dengan melalui jalan lingkar (demi menghindari macet), akhirnya tibalah saya ke lokasi outbound. Itulah kisah pertama saya hari ini; itu tadi baru pembukaan, sekarang cerita penutupnya, lho kok langsung ditutup, isinya mana? Sabar, sabaaarrr..

Penutupnya, ketika saya pulang usai mendampingi pelatihan 90 peserta outbound, saya tempuh jalan normal (yang sekitar 15 kilometer itu lho) lewat tengah Kota Palembang, ke arah Kota Jambi, kilometer 9. Sampai di Simpang Charitas, (ini nama perempatan utama di Kota Palembang) semuanya normal, termasuk dengan kadar kemacetannya. Ketika menunggu lampu menyala hijau, sekonyong-konyong hujan turun, dan dalam waktu singkat menderas. Apa lacur, jas hujan tertinggal di rumah. Pilihannya ada 2, nekat menerobos hujan, atau menepi sambil tunggu hujan reda. Pilihan pertamalah yang akhirnya saya tempuh dengan pertimbangan basah nggak apa-apa, masih ada persediaan sepatu dan kostum untuk pelatihan esok hari, lagian kalo basah sampai di rumah, pendek bacaannya. Yang jadi masalah adalah ketika basah (kuyup pula) ketika mau memulai aktivitas, itu yang harus dihindari. Pertimbangan kedua, makin ditunggu, dipastikan nanti makin sore (apalagi jika hujan telah reda) jalanan akan tambah macet 1,5 kali lipat karena orang pada pulang kerja, dan yang tadi pada berteduh juga pasti berduyun-duyun pulang. 
Dulllu, ketika 16 Juli 2009

Perjalalan sekitar 3 kilometer saya tempuh dalam hujan, dan masuk kilometer 5, hujan mulai reda (kayaknya lebih tepat di tempat itu nggak hujan lagi). Matahari sore kembali terik bersinar, namun apa daya, jaket dan sebagian pakaian telah basah. Asyiiikkk hujan berhenti, eit, urusan belum selesai, di depan, jalanan dipenuhi kendaraan sejauh mata memandang, yang artinya terjadi kemacetan parah. Apalagi kalo bukan karena pelebaran jalan tadi. Eng ing eeeng, perlus segera ambil tindakan, nih. Masuk kilometer 6, segera putar haluan, balik lagi mencari jalan tembus, daripada berlama-lama memeriahkan macet sambil badan kedinginan. Akhir cerita, sampailah saya di rumah, melalui jalan  alternatif tentunya, cerita berikutnya, mandi dan sebagainya nggak perlu lah diceritakan. Itulah dua kelumit kisah pengantarnya, kini kita masuk ke cerita intinya.

Hari ini, (dan besok), saya diminta mendampingi kegiatan pelatihan yang dibalut kegiatan “semacam” outbound, manager mereka sih menyebutnya “outing”. Apa pun sebutannya, nggak masalah lah, yang penting saya sadar, bahwa beberapa permainan yang akan peserta terima, akan direfleksikan, dimaknai, dan dibuat rencana tindak lanjutnya. Lalu apa istimewanya kegiatan ini hari? Toh saya sudah lebih dari 150 kali mendampingi kegiatan semacam ini, ini dia, teman. Begini, 2 tahun lalu saya juga mendampingi perusaahaan ini dalam berkegiatan “outbound” jumlah pesertanya juga relatif sama, 2 hari kegiatan dengan masing-masing 100an orang peserta. Kalo dulu mainnya di Kilometer 29, kini mainnya di OPI. Saya curiga, sebagian besar peserta yang dulu ikut, kini ikut lagi, buktinya masih cukup banyak yang mengenal saya, kalo mereka sih, beberapa saja yang masih saya ingat. 

Coba teman-teman bayangkan, ayo bayangkan... gimana reaksi peserta jika permainan/ dinamika yang dulu pernah mereka ikuti, kini diulang lagi, apalagi fasilitator utamanya juga sama. Dugaan saya, sebagian bilang “yach ini khan sudah pernah,” atau “ini lagi ini lagi, apa nggak ada permainan yang lain?” Jika memang itu terjadi, apakah ada masalah dengan hal itu? Kalo bagi saya itu masalah, masalah besar malahan; lalu apa masalahnya? Toh walau permainannya sama, refleksinya bisa berbeda, atau permainan sama, tapi kelompok bermainnya khan beda, atau permainan sama, tapi lokasi mainnya beda. Memang itu bisa dimaklumi, teman. Tapi yang tidak bisa dimaklumi adalah ketika saya secara sadar memberikan permainan yang sama dalam 2 kali kesempatan yang berbeda, padahal pesertanya sebagian besar sama. Saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri jika hal itu terjadi (cieeee, lebay). Itu sama saja menyatakan bahwa saya kurang kreatif, itu sebenarnya masalahnya, he he he...
Tadi, 2 Mei 2011

Beberapa hari lalu, ketika tim kami berdiskusi mengenai materi pelatihan, terpilihlah permainan-permainan yang berbeda untuk pelatihan ini hari. Berkat catatan yang saya punya, nggak ada permainan yang terulang, wah sip nih (minimal itu menurut saya). Oh yha, tadi ada respon menarik dari peserta ketika mau saya ajak goyang nyanyi, spontan mereka nyeletuk, “wah nyanyi ayam-ayam bebek nih” sambil beberapa memperagakan gerakannya. Saya jadi maklum, karena dulu memang gerak dan lagu itu pernah mereka terima, untunglah tadi siang sudah saya siapkan lagu lain yang bagi mereka baru, jadi asyik deh. Coba saya nggak punya perbendaharaan lagu lain, bisa mati kutu deh. Kalo kutunya sudah mati, mau diapakan coba?
Tak hanya sekali ini saya menjumpai kejadian serupa ini; kejadian dimana dulu saya pernah mendampingi suatu kelompok, dan kini mereka minta didampingi lagi. Rata-rata sih interval antara 1-3 tahun siklus tersebut berulang. Syukurlah, sampai saat ini, saya selalu memberikan dinamika yang realtif baru bagi para peserta tersebut. Bahwa dinamika tersebut pernah mereka terima oleh orang lain, saya nggak terlalu peduli. Lalu, dari mana saya yakin bahwa saya nggak memberikan dinamika/ permainan yang sama? Jawabannya dari catatan pendampingan saya. Apa maksudnya, ini dia yang mau saya bagikan pada teman-teman, siapa tahu bisa menginspirasi. 

Sejak tahun 2003, tepatnya ketika saya memulai terlibat dalam pendampingan pelatihan berbasis experiential learning (outbound hanya salah satunya) saya selalu (iseng) mencatat (pada format excel) beberapa poin yang menurut saya penting, yakni:
  1. Nama  kegiatan, biasanya mengandung pesertanya, misalnya “Outbound PT PDF”
  2. Waktu pelaksanaan,
  3. Tempat pelaksanaan,
  4. Jenis/ nama dinamika/ permainan yang dilakukan, dan
  5. Jumlah peserta.
Saya sempat mencoba mencatatkan nama-nama para fasilitator yang terlibat, namun saya kurang telaten untuk melengkapi catatan ini.
duluuuuu....
Sebagian besar (lebih dari 90%) catatan tadi dilengkapi juga dengan foto-foto dan video. Wow, apakah itu sesuatu yang patut “wow-i” terserah teman-teman deh. Barangkali yang mengusik benak teman-teman kokya, Agus bikin semacam itu, apa dia spesialis tukang foto atau seksi dokumentasi? Wah itu logika yang nggak sepenuhnya salah. Memang kalau saat pelaksanaan, saya lebih banyak jalan-jalan foto sana foto sini, film sini film sana. Sesekali kasih pengarahan pada fasilitator di pos. Kadang ngelamun, merenung, mengevaluasi proses. Kadang harus memodifikasi alur saat sedang berjalan. Yach kurang lebih begitulah peran saya kalo pelatihan (berbasis experiential learning) sudah jalan. Karena itulah saya bisa leluasa fota-foto, enak khan? Ah, itu sih relatif. 

Ternyata, kebiasaan (rutin) mencatat dan merekam tiap kegiatan yang saya libati, ada manfaatnya.  Pertama, ketika saya mau bikin buku, sebagian materi (gambar sudah ada). Apalagi saya menyimpan semua skenario pelatihan, itu lho, alur pelatihan yang dibuat untuk panduan pelaksanaan. Kenapa saya bisa menyimpannya? Ya karena saya yang bikin, minimal yang ngetik lah. Skenario sih kadang digarap bareng dengan teman-teman, cuman saya yang sering mewujudkannya sampai berbentuk dokumen tercetak yang siap ditenteng-tenteng saat pelaksanaan. Oh, yha kempbali ke manfaat, apa sih manfaat lainnya. Ketika saya mempersiapkan untuk memberi pelatihan pada kelompok yang sama untuk kedua kalinya, saya selalu buka catatan untuk melihat, duluuuu mereka sudah pernah saya apakan, maksudnya mereka pernah berdinamika apa gitu lho. Berdasar itulah saya buatkan skenario yang berbeda, segampang itu kok. 

Hmmmm saya pernah juga punya pengalaman mirip, gini. Suatu saat saya ketemu pembina OSIS sebuah sekolah yang akan mengadakan latihan kepemimpinan, dimana ada outbound sebagai salah satu mata kegiatan. Saya ceritanya diminta mengisi kegiatan outbound tersebut. Dari rumah, sudah saya siapkan beberapa alternatif permainan, oh yha, sebelumnya saya sudah pernah juga memberikan dinamika pada sebagian peserta latihan kepemimpinan tersebut, maka yang sudah saya siapkan, permainan-permainan yang berbeda. Eeee apa yang terjadi, ternyata sebelum latihan kepemimpinan, sebagian besar dari peserta pernah ikut kegiatan kemah pramuka, dan di sana ada pula permainan-permainan yang dilakukan, sebagiannya sama persis dengan yang sudah saya siapkan. Syukurlah di kepala saya masih ada perbendaharaan beberapa permainan sejenis yang bisa menggantikan permainan yang pernah peserta lakukan. Kalo saya nggak punya perbendaharaan dinamika, kayaknya saya saat itu harus pamit pulang, ngubek-ubek buku untuk cari permainan baru, dan besoknya baru ketemuan lagi sama sang guru pembina OSIS tersebut. Singkat cerita, ketika pelaksanaan, peserta bisa mengikuti permainan-permainan yang masih baru bagi mereka.
sekarang

Teman-teman, saya nggak akan memperjelas bahwa tiap permainan punya tema tertentu dan harus direfleksikan dan dimaknai secara pas. Saya juga nggak akan cerita bahwa fasilitator harus punya kemampuan untuk mentransformasi makna permainan. Bagi saya itu wajib hukumnya bagi kegiatan  yang diembel-embeli kata “pelatihan atau training, atau pengembangan”. Inspirasi tulisan ini adalah bahwa ketika kita rajin membuat catatan tentang apa yang pernah kita lakukan dalam suatu kegiatan pelatihan, itu akan sangat membantu. Baik ketika merencanakan kegiatan serupa untuk kelompok yang sama, ataupun sebagai cadangan amunisi koleksi dinamika. Apa nggak membosankan bikin catatan secara rutin? Ah, nggak perlu lah saya jawab itu karena kayaknya nggak signifikan mempengaruhi teman-teman untuk mulai (lebih) rajin lagi membuat catatan.

Selamat mencatat,
Palembang, 2 Mei 2011
Agustinus Susanta, seorang penggiat outbound.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar