yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Senin, 18 Maret 2013

Outbound itu Menyesatkan



Outbound itu Menyesatkan
Outbound itu menyesatkan, yah, itulah judul buku tentang outbound yang pertama kali saya beli pada tahun 2005. Saya membelinya bukan karena ingin tersesat, tetapi karena penasaran kenapa outbound itu bisa menyesatkan. Setelah saya membacanya dengan tuntas, dengan beberapa kali mengulang bagian yang membingungkan, akhirnya saya menyimpulkan bahwa yang yang dimaksud menyesatkan itu adalah ketika outbound dilaksanakan dengan sembarangan. Ketika outbound dirancang, dilaksanakan, apalagi sampai dimaknai dengan cara yang tidak pas, bahkan keliru, justru akan menghasilkan sesuatu yang kontraproduktif, alias ketersesatan tersebut.
Pengalaman yang akan saya ceritakan ini bukan menceritakan bagaimana supaya kita tidak “tersesat,” dalam melaksanakan outbound, namun mengenai kata “outbound” yang tampaknya sudah tersesat namun bebas berkeliaran di sekitar kita. Bagaimana bisa begitu? Kita simak saja segera.

Ketersesatan Outbound

Pada tahun 2010,  saya mengikuti pelatihan menjadi fasilitator experiential learning di Ciawi, Bogor. Experiential learning adalah metode pembelajaran yang menitikberatkan pembelajaran melalui pengalaman yang dialami oleh peserta didik itu sendiri. Experiential learning mempunyai siklus sederhana; peserta mengalami, menceritakan, mengambil makna pengalaman, dan terakhir peserta menerapkan makna tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Perwujudan experiential learning sangat beragam dalam berbagai kegiatan, misalnya melalui pendakian gunung, penjelajahan hutan, perkemahan, permainan, simulasi, berkano mengarungi danau, menyeberangi rawa, arung jeram, dan kegiatan lain yang bernuansa petualangan.

Suasana Training

Saat pelatihan tersebut saya baru mendapat pencerahan bahwa sebenarnya  “outbound” tidak punya arti dan makna ada-apa. Sungguh suatu pengetahuan baru yang mengejutkan. Sebelumnya saya memikirkan outbound adalah semacam pelatihan di alam terbuka. Saya baca pula dalam buku “Merancang Outbound Training Profesional” yang dengan gamblang menyebutkan bahwa outbound adalah metode pengembangan potensi diri melalui rangkaian kegiatan simulasi/permainan/ dinamika, yang memberi pembelajaran melalui pengalaman langsung. Salah satu pengertian “Outbound” yang terdapat dalam artikel kompasiana tak kalah dahsyat; “Sesungguhnya outbound adalah kegiatan belajar yang dikemas dalam bentuk permainan yang dilakukan di luar ruangan, dengan tujuan untuk mengembangkan karakter dan pola pikir seseorang.

Namun, dalam Kamus Bahasa Indonesia “outbound” itu tidak ada pengertian atau penjelasannya, atau dengan kata lain tidak mempunyai makna apa pun. Jika kita menelusuri kata “outbound” dalam Bahasa Inggris pun, kata  itu justru berarti istilah perjalanan berwisata ke luar negeri. Wah, jauh sekali dengan urusan pelatihan ataupun belajar. Benar-benar menyesatkan.

Di luar ketersesatan saya akan definisi “outbound” ternyata yang lebih memprihatinkan adalah banyak sekali di antara kita yang sebenarnya juga tersesat. Mau bukti? Coba kita ketik kata outbound dalam mesin pencari konten di internet. Sudah coba? Kalau sudah, kita lihat artikel/ tulisan yang memuat kata outbound yang konteksnya di Indonesia hampir semuanya mengarah bahwa outbound itu semacam kegiatan permainan di alam terbuka. Tidak sedikit pula yang mengaitkan outbound dengan suatu pelatihan pengembangan karakter atau kepribadian, luar biasa. Mau bukti lebih sahih? Gampang, ketika teman-teman membaca artikel ini dan mengira “outbound” adalah semacam kegiatan permainan di alam terbuka, maka valid sudah ketersesatan kita bersama.

Lalu, bagaimana duduk perkara sebenarnya dari kasus kemunculan dan keberedaran kata “outbound” ini? Ceritanya menarik.

Semua berawal ketika pada tahun 1990an, ketika sebuah lembaga pengembangan karakter bernama “Outward Bound International” membuka cabang di Indonesia. Lembaga ini sudah dirintis sejak tahun 1940 dan sudah berkembang di banyak negara. Ketika masuk ke negara kita ini, program tersebut dinamai “Outward Bound Indonesia” atau disingkat OBI. OBI mempunyai pusat pelatihan di seputar Waduk Jatiluhur Purwakarta. Lembaga ini mengembangkan karakter peserta didiknya melalui rangkaian kegiatan experiential learning yang berbasis pada petualangan di alam terbuka. Kegiatan yang sangat bagus ini bisa berlangsung 4 hari sampai 2 minggu lamanya, tergantung program apa yang diusung.

Pada waktu itu masyarakat sekitar Waduk Jatiluhur yang mayoritas Suku Sunda, susah melafalkan  kata “Outward Bound” sehingga mereka lebih mudah dan familiar menyebut outbon, outbound, otbond, outbond, atau kata-kata sejenisnya. Karena faktor kebiasaan itulah akhirnya masyarakat di Indonesia mengenal kosa kata “outbound” yang identik dengan pelatihan atau kegiatan di alam terbuka. Pihak peserta pelatihan, penyedia jasa, toko perlengkapan petualangan, perusahaan, obyek wisata, pemerintah, bahkan media masa sudah sangat jamak menggunakan kata “outbound” untuk mengidentifikasi kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pelatihan di alam tersebut. Selain mudah diucapkan, juga berkesan luar negeri; wah cocok dengan selera sebagian masyarakat kita.

Apa yang keliru?

Lalu apakah ada yang keliru dengan fenomena tersebut? Wah, sulit juga mengadilinya karena kata outbound sudah demikian kuat persepsinya sehingga dianggap suatu entitas tersendiri. Seorang teman bahkan berpendapat dengan ekstrim;  “outbound” itu  ibarat anak haram yang tidak diinginkan kelahorannya, namun terlanjur sudah lahir dan kini bahkan sudah bisa berlarian kesana kemari. Di sisi lain, tampaknya tidak ada pihak yang dirugikan dengan penggunaan kata tersebut.
Salah satu kaos yang menggunakan termin "outbound"


Sejauh ini penggunaan kata “outbound” dalam masyarakat lancar-lancar saja, tidak bermasalah secara umum. Namun, bagi sebagian teman-teman yang bergiat dalam kegiatan experiential learning, ini menjadi masalah prinsip. Semakin mereka tahu sejarah melegendanya kata “outbound,” biasanya makin kritis pula menyuarakan agar kita menggunakan istilah yang tepat. Diskusi dan perdebatan mengenai kata “outbound” tampaknya belum akan berakhir karena tiap pihak punya argumentasi masing-masing. Saya tahu persis dinamika ini karena kebetulan saya menjadi pengurus atau administrator Grup Facebook  “AELI/ Asosiasi Experiential Learning Indonesia”. Anggota grup ini ratusan orang dan beragam profesi, termasuk sebagian besar para pendiri dan instruktur Outward Bound Indonesia.

Pada bulan Mei 2012 saya bahkan sampai mengeluarkan jajak pendapat pada teman-teman tentang kata “outbound” ini yang dijuduli "Antara Aku dan Outbound.” Sebelum menjawab pertanyaan, pada anggota grup disajikan 3 artikel yang menjelaskan tentang sejarah kata “outbound.” Lebih kurang sejarahnya seperti yang sudah saya kemukakan tadi. Pertanyaannya sederhana. “Setelah tahu sejarah kata outbound, bagaimana pilihan sikap kita terhadap kata outbound tersebut?” Empat jawabannya adalah:

  1. Berusaha menjelaskan hubungan kata “outbound” dengan experiential learning, dipilih oleh 45% suara
  2. Berusaha memberi makna pada kata “outbound,” dipilih oleh 32% suara
  3. Berusaha menghindari kata “outbound,” dipilih oleh 20% suara, dan
  4. Sejujurnya saya tidak peduli, dipilih oleh 2% suara


Komposisi jawaban tersebut menggambarkan bahwa di antara teman-teman yang sudah tahu sejarah kata outbound saja, hanya seperlimanya saja yang akan tegas berusaha menghindari kita outbound. Sepertiganya bahkan akan “nekat” memberi makna pada kita “outbound” padahal mereka sadar bahwa selama ini sebenarnya “outbound” itu tidak punya definisi.  Saya adalah salah satu yang memilih opsi tersebut. Pertimbangannya sederhana, kata “outbound” sudah terlanjur populer, bahkan saya sendiri sudah “tersesat” menulis dua buku yang judulnya menggunakan kata “outbound.” Alih-alih masyarakat menafsirkan sendiri apa itu “outbound” mengapa saya tidak menawarkan sebuah definisi baru? Dan saya memilih melakukannya.

Masih ada kisah yang lebih menarik tentang pembatalan penggunaan kata “outbon” dalam suatu program Pemerintah Indonesia. Cerita bermula ketika Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (saat itu masih bernama Kementerian Kebudayaan an Pariwisata) hendak membuat sertifikasi profesi bagi petugas atau pemandu kegiatan outbound. Sertifikasi ini dianggap penting karena mulai banyak obyek wisata yang menawarkan menu outbound atau permainan-permainan menantang di ketinggian, atau yang kerap disebut high rope. Karena menyangkut keselamatan peserta outbound, maka segala jenis permainan tersebut harus dijalankan oleh operator/ petugas/ instruktur/ pemandu yang kompeten. Sertifikasi bagi para petugas tersebut dianggap solusi yang tepat guna mengantisipasi kecelakaan dalam berbagai kegiatan high rope di lokasi obyek wisata. High rope adalah permainan menantang yang menggunakan media tali di ketinggian tertentu.

Bukan sertifikasinya yang akan kita kritisi, tetapi penamaan terhadap petugas operator high rope tadi yang menjadi diskusi hangat. Semula, pemerintah menamai program tersebut dengan Sertifikasi bagi “Pemandu Outbon.” Mengapa nama “outbon” menjadi pilihan pertama yang digunakan? Tentu saja karena secara umum masyarakat berpengetahuan bahwa kegiatan high rope itu identik dengan outbound atau outbon. Padahal sebenarnya high rope hanya salah satu aktivitas yang bisa digunakan dalam experiential learning.

Beruntunglah kita karena ternyata dalam proses persiapan sertifikasi, Pihak Kementerian menggandeng AELI untuk merumuskan konten sertifikasi tersebut. Berkat diskusi yang intensif antara pihak pemerintah dan Asosiasi, akhirnya kata “Pemandu Outbon” dirubah menjadi “Fasilitator Experiential learning” atau disingkat dengan Fasel. Apa yang akan terjadi jika nama “Pemandu Outbon” terlanjur menjadi profesi yang “diresmikan” oleh pemerintah melalui sertifikasi yang tentu resmi adanya?

Walau sadar akan konteks kata “outbound” dalam dunia experiential learning, saya memilih tidak mempersoalkan hal itu sehingga tetap menggunakan kata tersebut dalam tiap kegiatan pendampingan atau pelatihan berbasis permainan yang saya kelola.

Mengurai Ketersesatan

Namun bulan Juni 2012 lalu saya meninjau ulang kenekatan tersebut setelah ada teman yang memajang fotonya di depan papan petunjuk di sebuah stasiun di Amerika. Bukan foto teman saya yang bepergian ke Amerika yang memeranjatkan saya, tetapi tulisan di papan petunjuk tersebut. Di situ tertulis dengan huruf besar “Track 2 Outbound” dan menurut dia hampir di setiap pintu kereta bawah tanah pasti ada kata “inbound” dan  “outbound.” Dia menduga yang dimaksud dengan dua
kata tersebut adalah pintu masuk dan pintu keluar.
Komentar teman saya masih saya ingat karena antik; begini. Coba misalnya kita kenalan dengan orang Amerika di stasiun tersebut dan memperkenalkan diri kita sebagai “Instruktur Outbound” barangkali dia akan heran, “Kenapa pintu keluar ada instrukturnya? Aneh sekali orang Indonesia satu ini.” Padahal kalau dia datang ke Indonesia dan menyadari bahwa banyak orang berprofesi sebagai instruktur atau fasilitator outbound, tentu dia akan tambah takjub. Ketakjubannya barangkali akan berubah menjadi keheranan jika mengetahui bahwa di Indonesia kata “outbound” itu identik dengan pelatihan di alam.

Jika diteruskan, tentu cerita dan diskusi ini akan tambah panjang dan belum tentu selesai, maka akan bijaksana jika kita bisa mengambil sesuatu dari kejadian ini. Hal ini sesuai juga dengan siklus experiential learning yang sedang kita bicarakan ini. Setelah kita mengalami sesuatu, kita berbagi cerita, lalu kini saatnya mengambil pemaknaan darinya, lalu nanti kita membuat gerakan perbaikan apa.

Ketersesatan penggunaan kata “outbound” berasal dari masuknya program pendidikan asing ke Indonesia. Sebenarnya tidak hanya dalam dunia pendidikan, kata atau istilah asing menghujani Indonesia, lebih banyak lagi tentu di bidang teknologi informasi. Ada istilah atau kata-kata asing yang bisa “diindonesiakan” baik secara resmi mau pun berdasar kesepakatan saja, namun ada pula yang memang belum tertemukan padanannya. Nah, sialnya ada juga nama produk asing yang kemudian bertransformasi menjadi semacam kata baku dengan pengertian yang termodifikasi pula, salah satu contohnya ya “outbound” tadi.

Dalam dunia pendidikan populer dan ekonomi, khususnya menyangkut kegiatan “outbound” sebagai sebuah rekreasi atau pendidikan, sejauh ini istilah “outbound” sudah diterima secara luas dengan persepsi yang bisa dikatakan seragam. Misalnya seorang karyawan yang tinggal di Kota Medan bercerita pada temannya yang tinggal di Kota Jayapura bahwa dia baru saja mengikuti pelatihan outbound, maka bisa dipastikan yang ditangkap oleh sang teman tadi tentang “outbound” sama dengan yang dimaksudkan oleh si orang di Medan tadi.

Bagi pelaku kegiatan “outbound” itu sendiri, sebagian besar asyik saja menggunakan terminologi tersebut tanpa merasa tersesat atau menyesatkan orang lain. Pemerintah dan media massa pun sudah tersesat dalam menggunakan kata “outbound” baik dalam menamai programnya maupun pemberitaannya. Pertanyaan pancingannya adalah “Kalau di Indonesia semua merasa baik-baik saja dengan “outbound” lalu apa masalahnya?” Masuk akal juga, di mana permasalahannya? Biarlah di Indonesia outbound diasumsikan punya definisi tertentu, walau berbeda dengan pengertian di luar negeri.

Dalam bidang lain, misalnya ekonomi, kesehatan, teknologi informasi, atau kesenian, mungkin kita akan menemukan kasus serupa. Sebuah istilah asing yang penamaannya tidak baku, tetapi terlanjur digunakan secara massal. Pemerintah sebenarnya sudah mengupayakan pembakuan kata-kata asing dalam bahasa Indonesia, terutama kosa kata baru yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi. Nah, bagi kita yang menemui kata asing yang populer digunakan namun belum ada padanannya dalam Bahasa Indonesia, tentu bisa menginformasikannya pada pihak terkait.

Bagi kita yang kita sendiri yang masih galau apakah mau tetap menggunakan kata yang populer tapi keliru, atau apakah tetap menggunakan versi aslinya, baik juga menyimak komentar teman saya yang tadi sudah muncul dalam cerita. Masih kelanjutan tentang kemunculan kata“outbound” pada papan petunjuk di stasiun kereta di Amerika sana.

Sah-sah saja kita mau menggunakan istilah apa, tapi mohon dipikirkan sejauh mana kita mau bergaul. Kalau kita dari awal membatasi tingkat interaksi kita sekedar lokal saja, sebutan “outbond” atau “outbound” sudah sah dan diterima. Namun kalau kita mau sedikit menerawang sejauh mana kita mau memperlebar dimensi dan wawasan kita, misalnya referensi ilmu, koneksi dengan fasilitator luar negeri, kerjasama lintas negara, dan lain-lain. Maka sikap kita terhadap 'salah kaprah' “outbound” di masyarakat perlu dipikirkan lagi. Kita bebas menentukan pilihan sekaligus menghormatinya.

Satu paragraf pendapat teman saya itu mengakhiri tulisan ini sambil berpikir ulang sejauh mana saya akan menyesatkan diri dalam “outbound;”  sebuah aktivitas pembelajaran populer yang menunggu  istilah bakunya.

Palembang, 28 Agustus 2012

1 komentar:

  1. nice post... pak agustinus saya sebagai pengelola situs aelijogja.wordpress.com hendak meminta ijin untuk mengutip salah satu postingan anda di facebook grup AELI mengenai "SEJARAH AELI".... postingan tersebut akan dipublish di halaman artikel aelijogja.wordpress.com, jika berkenan boleh juga mampir di situs kami untuk bisa bertukar pikiran mengenai artikel-artikel yang ada di situs kami... terimakasih...
    Salam Kenal....

    BalasHapus