yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Permainan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permainan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Mei 2017

Pendidikan Berbasis Petualangan

Naskah “Pendidikan Berbasis Petualangan” ini adalah materi LOMBA MENULIS ESAI HUT KANISIUS KE-95 TEMA: “Menggagas Pendidikan untuk Indonesia,” yang diadakan oleh PT Kanisius pada Desember 2016. Namun janji pengumuman pada Januari 2017 malah nggak ada kabarnya, bahkan kelanjutan tentang lomba ini pun lenyap. Maka saya berinisiatif memuat tulisan ini dalam blog, persis pada Hari Pendidikan Nasional tahun 2017 ini. Yaaa... daripada mendem nggak jelas di Kanisius, semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita bersama bahwa pendidikan yang berkualitas namun seru dan asyik bisa kita kelola berbasiskan permainan atau petualangan. 


Sinopsis

Pendidikan Pengalaman, atau dikenal dengan experiential learning, atau disebut secara populer sebagai outbound merupakan metode pembelajaran yang sudah berusia lebih dari 1 abad, dimulai oleh Baden Powell dengan gerakan Kepanduannya. Metode pendidikan ini berkembang melintas jaman dan waktu sampai akhirnya sampai ke Indonesia pada awal tahun 1990an.
Metode Pendidikan Pengalaman memunyai banyak pendekatan keilmuan karena sudah dikembangkan sejak lama oleh berbagai kalangan, terutapa pendidik. Basis Pendidikan Pengalaman adalah menggabungkan unsur fisik, emosi, dan intelektual peserta didik. 4 tahap Pendidikan Pengalaman  adalah mengalami, merefleksikan, mengambil makna, serta menerapkan. Ada 4 sifat Pendidikan Pengalaman, yaitu rekreatif, edukatif, developmental, dan terapi.
Pendidikan Pengalaman fleksibel diterapkan pada berbagai kalangan karena lebih menyenangkan dan memunyai perbedaan dengan pola pendidikan tradisional. Indonesia pun sudah memunyai asosiasi profesi yang mewadahi olah pikir para pegiat experiential learning. Pemerintah pun mendukung peningkatan kompetensi para fasilitator experiential learning/ Pendidikan Pengalaman dengan menerbitkan sertifikasi.
Indonesia memerlukan terobosan sistem pendidikan yang efektif menunjang kebijakan saat ini, terutama untuk pengembangan karakter manusianya. Pendidikan Pengalaman, experiential learning, atau outbound adalah pilihan yang efektif; hal tersebut dijelaskan dengan beberapa  alasan yang relevan.



Pendidikan Berbasis Petualangan

Manusia adalah “Homo Ludens” atau mahkluk bermain. Tak akan pernah lekang semangat bermain dalam diri manusia, pun secara umur, dia sudah menginjak dewasa, bahkan lanjut usia. Bermain selalu menawarkan kegembiraan dan gairah yang membuncah, ditingkah sedikit misteri, siapa pememang dari permainan tersebut.
Ya, sebagai homo ludens, peluang metode “bermain” jauh lebih besar digunakan untuk mendidik/ mengembangkan karakter seseorang daripada sekedar “belajar” secara formal. Apakah kita bisa menggunakan metode bermain untuk mengembangkan karakter seseorang? Bisa, asal permainan tersebut dilakukan dengan serius, dalam arti kita tahu metodenya. Catatan ini akan memberi penegasan bahwa ada metode, yang sungguh tepat diterapkan untuk mengembangkan karakter, yaitu experiential learning.


Perkembangan Metode “Pendidikan berbasis Petualangan”

Ketika istilah permainan lalu diluaskan menjadi sebuah “experience” atau pengalaman, maka ternyata ada metode yang memang sudah berkembang sejak awal abad ke-20; yaitu metode experiential learning; atau belajar melalui pengalaman, atau pendidikan pengalaman Metode ini mulai dikenal sejak tahun 1907, saat Baden Powell, mengadakan Perkemahan Kepanduan pertama di Brownsea Island, Inggris. Kegiatan yang sebagian besar diisi dengan berbagai “permainan” tersebut bertujuan membentuk karakter pemuda supaya kuat, ulet, berwaswasan, ksatria, mampu bertahan di alam, dan berjiwa patriot.
Pada era Perang Dunia II, Kurt Hahn dan Sir Lawrence Holt melakukan pelatihan selama 28 hari untuk menggembleng fisik, intelektual, dan emosi pelaut muda Inggris menghadapi pelayaran niaga yang tak luput dari gempuran kapal selam Jerman. Saat itu banyak pelaut muda Inggris yang mati di lautan akibat kurang mempunyai jiwa survival saat terjebak dalam kekacauan perang.  Materi utama pelatihan yang dikenal dengan nama Outward Bound tersebut adalah: kerjasama, keterbukaan, percaya diri dan saling bantu, serta prinsip navigasi dan perkapalan. Ternyata metode tersebut dianggap berhasil, sehingga Kurt Hahn mendirikan sekolah kedua yaitu Gordonstoun School. Nama “Outward Bound” pun dalam perkembangannya menjadi sebuah merek dagang pelatihan pengembangan karakter.
Pada tahun 1938, John Dewey menerbitkan buku “Experience and Education” yang terinspirasi oleh metode pendidikan Kurt Hahn. Dewey berpendapat bahwa siswa perlu mendapat keseimbangan nilai, antara “kegiatan yang menantang sebagai pembentuk karakter” dengan kegiatan akademis. Ia meyakini bahwa pendidikan sejati terbentuk melalui pengalaman.
Pada tahun 1962, Josh Miner, seorang Amerika yang pernah berkarya di  Gordontoun School mendirikan Outward Bound School di Colorado, AS. Setelah momen ini, Outward Bound School akhirnya lebih cepat menyebar ke berbagai belahan dunia. Metode yang diusung tetap sama, yaitu model Kurt Hahn yang menekankan pengalaman petualangan/ tantangan.
Pada 1967, David Kolb, menggagas Experiential Based Learning System. Kolb merilis 4 tahapan experiential learning yang paling banyak dirujuk, yaitu: Concrete Experience, Reflective Observation, Abstrac Conceptualization, dan Active Experimentation. Gagasan dasarnya adalah bahwa seseorang bisa belajar melalui pengalaman.
Sejarah pendidikan melalui petualangan masuk ke Indonesia pada tahun 1990, ketika Outward Bound Indonesia berdiri di tepian Waduk Jatiluhur Purwakarta, Jawa Barat. Ini adalah lembaga yang rintisannya dibuat oleh Kurt hahn pada tahun 1914. Pada tahun-tahun pertama, hanya perusahaan-perusahaan kelas “atas” di Indonesia yang bisa mengikutkan karyawannya dalam pelatihan di tempat ini.
Selepas pertengahan tahun 90an, mulai bermunculan berbagai penyelenggara pelatihan/ provider yang mengusung model pelatihan yang bernuansa petuangan/ permainan/ simulasi, terutama di luar ruangan. Penamaannya pun beragam, termasuk yang sangat populer adalah Outbound. yang merupakan perkembangan penyebutan dari “outward bound.” Outbound secara populer menggambarkan sebuah proses pelatihan di luar ruangan yang disisipi makna-makna tertentu dalam refleksinya. Istilah outbound sendiri sebenarnya serapan dari dunia pariwisata yang berarti bepergian ke luar negeri. Pun istilah experiential learning sampai saat ini belum menemukan padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia, selain “Pendidikan (melalui) Pengalaman.”
Pada tahun 2002, Prof. Djamaluddin Ancok menulis buku “Outbound Management Training; Aplikasi Ilmu Perilaku dalam Pengembanan Sumber Daya Manusia. Penerbitan buku ini seakan-akan menjadi “pengesahan” bahwa ada metode pendidikan/ pelatihan yang bernama outbound.
Pada tahun 2007, Berdiri AELI/ Asosiasi Experiential Learning Indonesia atas keprihatinan bahwa mulai banyak ditemukan persaingan kurang sehat antar penyelenggara kegiatan “outbound,” kecelakaan dalam proses pelatihan juga meningkat, serta mulai ditinggalkannya kaidah pendidikan dalam pelatihan-pelatihan luar ruangan. AELI menjadi wadah dan mitra bagi pengguna metode experiential learning untuk memasyarakatkan dan meningkatkan kualitasnya demi  pengembangan karakter manusia Indonesia. Sampai akhir tahun 2016 ini, AELI sudah tersebar di 14 provinsi, dan akan terus mengembangkan dirinya.
Akhirnya, pada tahun 2015 Pemerintah Indonesia melalui BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sudah melakukan sertifikasi/ uji kompetensi bagi para pemandu outbound/ fasilitator experiential learning. Walau sekedar “bermain-main,” ternyata fasilitatornya harus menguasai 9 kompetensi utama, termasuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran dengan metode experiential learning.
Menilik catatan sejarah, ternyata pendidikan berbasis pengalaman sudah dikembangkan dengan serius, walaupun di Indonesia kurang terasa gaungnya. Mungkin karena kita terlalu mengagungkan pola pendidikan tradisional yang kental dengan penyampaian materi secara satu arah saja.

Karakter Pendidikan berbasis Pengalaman

Semua orang membutuhkan buah dari pengalaman, namun tidak setiap orang harus mengalami pengalaman tersebut. Untuk itulah ilmu pedagogi ada, untuk mentransfer makna/ buah pengalaman (orang lain).
Prinsip pendidikan berbasis pengalaman adalah menggabungkan 3 hal dalam sebuah program/ proses pembelajaran, yaitu unsur fisik/ psikomotorik, emosi/ psikologis, dan intelektual/nalar/ pengetahuan. Artinya, peserta didik memang harus melakukan kegiatan secara fisik, emosinya ikut terlibat, namun tetap ada unsur penalaran/ analisis di dalalamnya. Biasanya, peserta didik dibawa pada kondisi di luar kebiasaannya, masuk dalam suasana ketidaknyamanan sehingga tiga hal tadi dapat tereksplorasi secara maksimal.

Bagaimana Pendidikan Pengalaman dilaksanakan? Ada 4 pentahapan dalam metode tersebut, yaitu:
  • Peserta didik MENGALAMI sendiri pengalaman nyata,
  • Pengalaman tersebut DIREFLEKSIKAN,
  • Peserta didik mengambil MAKNA atau MANFAAT dari pengalaman yang direfleksikan tadi, lalu
  • Peserta MENERAPKAN makna atau manfaat tersebut dalam kesehariannya.

Pendidikan Pengalaman sendiri dibagi menjadi 4 kategori berdasarkan hal yang ingin dirubah/ dikembangkan pada peserta didik, yaitu:
  1. Rekreasional, dengan fokus merubah perasaan; misal peserta didik yang awalnya merasa jenuh/ bosan menjadi bergairah/ bersemangat.
  2. Edukasional, dengan fokus merubah cara berpikir peserta didik; biasanya dilakukan dengan praktik,observasi dan refleksi.
  3. Developmental, dengan fokus merubah prilaku/ kebiasaan; misalnya pengalaman yang direfleksikan, serta dimaknai bisa sampai memengaruhi sikap peserta didik ketika kembali ke sekolah/ rumah.
  4. Terapi, dengan fokus merubah resistensi peserta didik, misalnya dalam hal pemikiran atau kebiasaan yang ingin ditinggalkan.


4 kategori Pendidikan Pengalaman tersebut tentu saja berbeda dalam metodologinya, sehingga porsi 4 tahap Pendidikan Pengalaman akan disesuaikan sesuai tujuan pembelajarannya.
Mengapa Pendidikan Pengalaman efektif sebagai metode pembelajaran, khususnya dalam upaya pengembangan karakter? Berikut ini 7 aspek yang berbeda antara pendidikan tradisional dengan pendidikan pengalaman.

No
Aspek
Tradisional
Pendidikan Pengalaman
1.              
Inisiatif utama
Guru
Individu
2.              
Kebebasan
Banyak aturan
Ekspresif, bebas
3.              
Sumber belajar
Buku dan guru
Pengalaman (diri, teman, lingkungan)
4.              
Perolehan ketrampilan
Indoktrinasi
Berdasar kebutuhan untuk diaplikasikan
5.              
Prospek hasil
Cenderung untuk masa depan saja
Untuk saat ini dan masa depan
6.              
Materi
Cenderung tetap
Ikut perkembangan
7.              
Komunikasi
Satu arah
Dua arah

Bagaimana pengalaman dimaknakan? Ternyata ada 7 metode yang terus berkembang sejak tahun 40an, dan yang paling terkenal adalah Debriefing/ pemaknaan di akhir proses. Sekedar menyebut metode yang lain, ada pula makna yang disampaikan justru sebelum peserta didik melakukan/ mengalami “pengalaman”

Mengapa Pendidikan Pengalaman Perlu Segera dipopulerkan di Indonesia?

Ada beberapa alasan mengapa metode pendidikan pengalaman perlu segera dipopulerkan dalam sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam upaya mengembangkan karakter peserta didik.
  1. Metode Pendidikan Pengalaman sudah lebih dari 1 abad berlangsung, dan tentunya telah banyak kajian keilmuannya. Jadi kita harus yakin, bahwa selalu ada landasan keilmuan/ilmiah dalam tiap ragam metode pendidikan pengalaman.
  2. Metode Pendidikan Pengalaman sangat fleksibel dan menyenangkan digunakan pada semua rentang usia, mulai dari anak-anak sampai lanjut usia. Apalagi jika pendekatannya melalui permainan. Hal ini bisa menjadi solusi guna membelajarkan orang-orang dewasa; maklum, budaya Indonesia masih kental dengan sopan santun dan rasa “segan” terhadap orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya
  3. Alam Indonesia yang kaya dengan bentang alam serta seni budayanya yang sangat beragam bisa menjadi materi yang tak akan habis digali sebagai sumber “pengalaman” bagi peserta didik. Hal ini akan menjadi “kawah candradimuka” bagi pengembangan mental manusia-manusia muda Indonesia.
  4. Metode Pendidikan Pengalaman bisa memerkuat metode pendidikan tradisional, atau apa pun metode yang sedang menjadi kebijakan negara. Artinya, untuk materi-materi pembelajaran yang efektif dilakukan dengan pedagogi, silakan dilanjutkan. Mana yang sebenarnya efektif dengan andragogi juga pendidikan pengalaman, kita harus berani mencobanya.
  5. Indonesia sudah memunyai asosiasi bagi lembaga/ individu yang bergiat di Pendidikan Pengalaman, yaitu AELI. Hal ini akan memudahkan proses saling belajar terkait keilmuan maupun praksis pelaksanaan metode experiential learning.
  6. Melalui sertifikasi profesi, pemerintah sudah mengakui bahwa pemandu outbound adalah keahlian yang harus bisa dipertanggungjawabkan, termasuk dalam hal keilmuannya. Artinya, pemerintah mulai mengakui bahwa Pendidikan Pengalaman itu “sesuatu yang bernas” sehingga perlu dibuat regulasinya.



Akhirnya, mari kita makin terbuka dan kreatif dalam upaya memajukan bangsa Indonesia melalui pendidikan. Ketika ada metode yang sebenarnya sudah teruji dan efektif digunakan, kenapa tidak kita coba? Experiential learning atau pendidikan pengalaman, atau populer dengan istilah outbound patut kita pertimbangkan secara serius sebagai salah satu metode pendidikan karakter bangsa. Belajar dengan bermaian, apalagi bertualang, Wow, pasti seru!


Brebes, 20 Desember 2016
Agustinus Susanta; 
Fasilitator Experiential Learning Tingkat Utama; Ketua Asosiasi Experiential Learning Indonesia DPD Sumatera Selatan.

Kamis, 29 September 2016

Merancang Lokasi Outbound




Outbound tidak sekedar flying fox, lho... Maka merancang lokasi outbound tidak sama dengan membuat instalasi high rope/ flying fox.
Seperti ada rahasia takterpendam di antara para Fasel (Fasilitator Experiential Learning) atau Outbounder (istilah untuk pemandu/ instruktur outbound) mengenai lokasi-lokasi favorit kegiatan outbound/ pelatihan luar ruangan. Pun saya yang berlatar belakang Arsitek namun juga mendapatkan sertifikasi Fasel tingkat Utama, merasakan nuansa tertentu tiap melaksanakan kegiatan “outbound” di tempat-tempat yang baru. Tak sekedar ngurusin program, tetapi tanpa tersadari, benak ini akan mengalkulasi seberapa asyik tempat tersebut menjadi lokasi outbound. Ya, apalagi saya juga beberapa kali terlibat merencanakan dan mewujudkan berbagai lokasi outbound (dengan hasil sebagian mati suri, dan separuhnya masih jalan); kepenasaranan untuk membandingkan efektivitas lokasi outbound selalu merunyak. Nah, pengalaman itulah yang ingin saya bagikan dalam catatan ini, yaitu mengenai bagaimana sih merancang lokasi outbound yang efektif, dari kacamata Arsitek sekaligus Outbounder?


   
Sebelum dilanjutkan, perlu ditegaskan kenapa saya menggunakan frasa “outbound,” bukan pelatihan luar ruangan, experiential learning, adventure based learning program, atau sebutan lainnya untuk merujuk kegiatan “itu.” Bagi saya, istilah outbound atau experiential learning masih seru untuk terus diperdebatkan (bagi mereka yang ingin mendebatkannya, tentunya). Outbound dalam catatan ini mengacu pada kegiatan/ dinamika/ tantangan/ permainan di luar ruangan, petualangan, penjelajahan alam, perkemahan, diskusi, olahraga, dan sebagainya. Itulah upaya paling sederhana menjelaskan apa saja contoh aktivitas fisik dalam outbound; tanpa merujuk pada tujuannya. Apakah kegiatan itu bersifat rekreatif atau diklaim sebagai program edukasi, experiential learning, atau bahkan terapi, ya silakan saja.



Karena urusan perancangan itu adalah domain para perancang atau Arsitek, maka saya akan mengawalinya dari kacamata arsitektur. Apa itu arsitektur? Arsitektur adalah seni, ilmu, dan teknologi yang berkaitan dengan perancangan bangunan, dan atau penciptaan ruang untuk mewadahi kegiatan manusia.  Menurut Vitruvius, seorang Arsitek legendaris pada jaman Romawi, yang bukunya De Architectura menjadi patron ilmu arsitektur; karya arsitektur yang baik cukup memiliki 3 unsur utama saja, yaitu: Venustas atau Keindahan/ Estetika, Firmitas atau Kekuatan, dan Utilitas atau Kegunaan/ Fungsi. Arsitektur dapat dikatakan sebagai hasil karya manusia yang menyeimbangkan ketiga unsur tersebut, tanpa satu unsur pun yang melebihi unsur lainnya. Cukup simpel, khan?


Prinsip Merancang

Kini kita masuk dalam alur perancangan umum suatu karya arsitektur; yang sejatinya mirip dengan perancangan program experiential learning/ outbound. Jika pada proses perancangan outbound diperlukan data tujuan dan kondisi peserta untuk diolah berprogram di lokasi tertentu, dalam waktu tertentu pula; maka untuk merancang karya arsitektur juga diperlukan 2 informasi/ data dasar, yaitu seperti apa eksisting/ lokasi atau tempat yang akan dirancang, dan apa fungsi/ aktivitas yang akan dilakoni di sana. Nah, dalam konteks pembuatan lokasi outbound sebagai sebuah usaha/ bisnis, maka tinjauan tentang nilai investasi (di dalamnya termasuk pengelolaannya) juga perlu dipertimbangkan. Hasil olahan 3 hal tadi akan menghasilkan suatu disain; yang biasanya dituangkan dalam sebuah gambar, maket, dan atau animasi visual; ya sesederhana itu alurnya. Namun dalam praktiknya, ditambah dengan pemenuhan tuntutan 3 pilar arsitektur yaitu fungsi, kekuatan, dan estetika, maka lengkaplah sudah ekspektasi perancangan lokasi outbound tersebut. Tinggal kini sang Arsitek yang pening mengolah semua hal tadi menjadi suatu disain yang ciamik; ilmu mengolah yang lebih cocok disebut sebagai  seni merancang.


Suasana diskusi/ refleksi di luar ruangan sebagai pelengkap outbound

“Sekedar” membuat lokasi outbound, adalah hal yang mudah bagi mereka yang punya modal/ pendanaan. Namun urusan melanggengkannya sehingga tetap menjadi lokasi outbound favorit outbounder, itu adalah hal yang berbeda. Hal merancang dan membangun lebih didominasi oleh kompetensi Arsitek dan Kontraktornya, namun hal “kelangsungan hidup” lebih pada domain pengelolaannya. Saya punya beberapa pengalaman menarik betapa pengelolaan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan lokasi outbound; salah duanya seperti ini.

Saya pernah merancang dan membangunkan lokasi outbound seluas sekitar 3 hektar di lokasi milik negara yang awalnya adalah semak belukar. Karena ada itikad dari “penguasa” lokasi, terutama dalam hal pendanaan, maka dalam waktu singkat terbangunlah sebuah lokasi outbound yang dilengkapi dengan instalasi high rope, flying fox, kolam, camping ground, arena penjelajahan, lapangan, dan beberapa instalasi permainan terpasang. Awalnya lokasi tersebut ramai digunakan, karena petinggi lembaga memang mendukung program outbound tersebut, dengan mengerahkan stafnya untuk aktif menjadi instruktur. Namun seiring beberapa kali pergantian kepala di lembaga tersebut, maka sistem pengelolaan arena outbound tersebut juga bergeser. 3 tahun setelah peresmian, sekarang yang teramati di sana adalah kesepian, dedaunan kering beterbangan kemari kesana, instalasi high rope entah kemana, serta beberapa instalasi permainan terlepas atau rusak bagai baru saja dimainkan oleh raksasa, dan pendopo pertemuannya pun diseraki aneka perlengkapan outbound yang sebagian sudah rusak. Bisa dipastikan bahwa tempat itu sudah sangat jarang digunakan. Tragis memang.

Kisah kedua. Seumumnya hutan pinus bertinggi belasan meter yang dijadikan lokasi outbound, itu adalah kondisi ideal yang diidamkan para outbounder untuk berkegiatan. Hutan itu menjadi tempat wisata yang berada di tengah kota besar dengan pencapaian yang sangat mudah, mestinya menjadi magnet yang sangat mendukung untuk menarik wisatawan. Namun anomali terjadi di tempat yang indah dan asri tersebut. Sepengamatan saya, beberapa provider outbound sudah silih berganti menangani outbound sampai memasang berbagai instalasi permainan di sana, termasuk high rope dan flying fox. Namun faktanya, lokasi tersebut justru tidak menjadi pilihan utama untuk outbound. Berdasarkan perbincangan dengan beberapa teman yang pernah terlibat di sana,  hutan yang dikelola negara tersebut menerapkan pengelolaan yang ribet bagi investor yang ingin mengembangkannya sebagai lokasi outbound. Apa yang kini terjadi di sana? Instalasi yang dulu ramai untuk outbound saat pertama dipasang, kini terbengkalai dan malah membahayakan jika digunakan tanpa perbaikan; sayang memang.

Itu tadi 2 contoh ribetnya pengembangan lokasi outbound yang berafiliasi pada instansi milik negara/ pemerintah. Namun jangan khawatir, masih banyak juga lokasi outbound yang bisa berkembang walau berada di lokasi milik negara; salah satu kunci keberhasilannya adalah metode (kerjasama) pengelolaannya. Lalu apakah lokasi outbound yang dikembangkan oleh individu/ swasta pasti berhasil? ternyata tidak selalu juga. Perjalanan saya ke puluhan lokasi outbound, baik di Jawa maupun Sumatera menegaskan hal itu. Ada sebagian yang masih berjaya, tetapi ada pula yang tinggal artefak atau bekas-bekasnya saja. Penyebabnya tentu bermacam-macam, namun sayangnya tidak akan kita bahas dalam catatan ini, itu nanti di catatan yang lain saja. Saya hanya mau menegaskan, bahwa hal penting untuk melanggengkan hasil pembangunan lokasi outbound adalah pengelolaan; itu saja sih.

pertemuan kelompok besar
Cmping Ground di lokasi wisata

Kebetulan saat ini ada 1 lokasi outbound yang sedang saya kelola, dan 2 lokasi lain yang sedang saya rancang sebagai tempat outbound. Bagaimana sih sebenarnya teknik merancang lokasi outbound? Berdasarkan pengalaman belasan tahun sebagai Arsitek dan juga Fasilitator Outbound, maka yang lalu terpikir di kepala adalah proses, eh, seni merancang yang melibatkan 3 hal utama, yaitu:
  1. Kondisi lokasi/ bentang alam yang akan dikembangkan,
  2. Jenis aktivitas/ dinamika yang (biasa dilakukan dan) bisa di lakukan di lokasi tersebut,
  3. Berbagai skema investasi & pengelolaan lokasi.


Banyak hal yang bisa diuraikan dari 3 hal tersebut; dalam hal ini Arsitek, pemilik lokasi/ pemodal, dan pegiat outbound yang memahami seluk beluk kegiatan outbound perlu duduk bersama guna menyamakan persepsi tentang aktivitas outbound yang akan dibuatkan tempatnya.  Semua informasi, data, dan idealisme tentunya tak bisa berdiri sendiri-sendiri, namun berkelindan saling memengaruhi proses perancangan yang diupayakan memenuhi kaidah:
  1. Utilitas/ kegunaan/ fungsi; artinya bisa mewadahi aktivitas yang sesuai dengan segala unsur penunjangnya,
  2. Firmitas/ kekuatan; artinya lokasi tersebut harus kuat dan aman untuk digunakan, baik secara struktur bangunan, maupun bentang alamnya.
  3. Venustas/ keindahan/ estetika; artinya kompleks outbound tersebut perlu tampil indah, menawan enak dilihat dan dirasa.


Dalam catatan ini, kita hanya akan membahas beberapa hal yang prinsip saja, sedangkan pengembangannya bisa fleksibel disesuaikan dengan kondisi setempat. Nah, berikut ini adalah prinsip-prinsip perancangan lokasi outbound.


Batasan Rancangan

Tidak semua keinginan atau idealisme pemilik/ pengelola bisa sekaligus ditampung dalam suatu lokasi. Pastikan bahwa ekspektasi rancangan memang sudah kontekstual. Sebagai contoh nih, pada lahan seluas 1 hektar (saja) akan dibuat fasilitas outbound yang bisa menampung sampai 500 orang untuk outbound, bisa berkemah, ada ruang aula, serta 1 kolam untuk permainan kano. Wajarkah? tunggu, jika ditelisik, apa ya mungkin dalam lahan misalnya 100 x 100 meter persegi (itu = 1 hektar) bisa mewadahi aktivitas yang dicontohkan tadi? Lha untuk parkir seandainya separuh pengunjung bawa mobil saja sudah kewalahan.
Ya, baik Arsitek maupun pemilik perlu realistis dan menetapkan batasan akan sejauh apa apa lokasi tersebut mau dibangun? Tentu ada analisis awal kenapa sang investor berkehendak membangun lokasi outbound di tempat tersebut.

Analisis Tapak dan Zoning

Analisis tapak adalah proses mengaji kondisi tapak yang akan memengaruhi karakter aktivitas di lokasi tersebut guna menentukan zoning/ tata ruang atau bentuk bangunan.  Apa yang dianalisis? macam-macam, misalnya: kondisi tanah, pencapaian ke lokasi, ketersediaan sumber air bersih, jenis tanaman yang ada dan bisa tumbuh, kemiringan lahan, dan orientasi terhadap sinar matahari. Sebagai contoh, ketika kita akan membuat lapangan bola voli, disain yang keliru adalah membuat lapangan membujur pada sisi timur dan barat, kenapa? Karena jika lapangan tersebut digunakan saat pagi atau sore hari, maka ada kondisi taknyaman ketika suatu tim terpapar langsung silau matahari saat bermain. Nah, sepele, tapi bisa menyebalkan khan?

Analisis tapak juga bisa digunakan untuk memaksimalkan bentang alam yang ada untuk menunjang fungsi lokasi. Jika memungkinkan, saya akan membagi zoning lokasi outbound menjadi 4 bagian, yaitu: darat, air, udara, dan dalam ruang. Apa maksudnya?


Zona Darat


Aktivitas grup kecil di daratan
Zona “darat” digunakan untuk sebagian besar basis permainan dan area pertemuan, baik kelompok  besar maupun kecil.  Beberapa kondisi yang mendukung misalnya:
  • Secara umum sebaiknya tanah berrumput, terutama di lapangan dan lokasi perkemahan/ pertendaan.
  • Pada beberapa titik dinamika, perlu mendapat perlindungan pohon-pohon besar, supaya ketika berkegiatan pada siang hari, terik sinar matahari bisa tertahan.
  • Daratan direkayasa sedemikian rupa sehingga tidak menggenangkan air hujan, apalagi berpotensi menjadi becek pada titik-titik permainan.

Zona Air

Perairan merupakan area yang bisa digunakan sebagai lokasi dinamika, juga menjadi sumber air untuk  dinamika di darat. Unsur air sungguh sangat membantu proses outbound, mengapa? karena
  • Bermain di atau dengan air berpotensi membuat basah seseorang. Basah adalah kondisi yang tidak biasa dialami seseorang, kondisi luar biasa biasanya selalu dikenang seseorang. Ketika kita memberikan nilai-nilai tertentu ketika seseorang sedang mengalami kondisi luar biasa, yakinlah nilai-nilai tersebut lebih terinternalisasi.
  • Bermain di atau dengan air mempunyai resiko basah sampai tenggelam, maka seseorang akan berusaha maksimal untuk menyelesaikan dinamika supaya tidak menanggung resiko tersebut. Usaha maksimal adalah sesuatu yang bagus dalam sebuah proses. Keberhasilan dalam dinamika yang berhubungan dengan air juga bisa membawa kebanggaan tersendiri bagi seseorang.
  • Kebersamaan suatu kelompok ketika dalam kondisi basah atau berjuang di perairan akan lebih terasa. Dalam banyak hal, kebersamaan dan kekompakan berperan penting dalam mengembangkan kualitas seseorang/ kelompok.
  • Air juga bisa menyegarkan seseorang, terutama ketika sudah melampaui banyak dinamika di darat maupun udara.




Beberapa kondisi perairan yang menunjang proses outbound misalnya: 


  1. Ketersediaan kolam yang dapat menjadi lokasi permainan yang bersifat menyeberang (rakit, membuat jembatan, meniti tali, meniti bambu, meluncur)
  2. Ketersediaan sumber air  yang cukup untuk permainan yang menggunakan air sebagai salah satu unsurnya. Ketika titik permainan tersebut jauh dari kolam, maka baik jika disiapkan sumber pengambilan air di dekat lokasi tersebut.
  3. Selalu memperhatikan keselamatan semua pihak yang terlibat dalam dinamika di perairan, terutama pada dinamika yang berpotensi menenggelamkan seseorang. Perhatian dapat direalisasikan dengan penyediaan peralatan penyelamat dan tim yang terlatih untuk menyelamatkan korban.

serunya main di atas air


wow wow wow...


Zona Udara

Pengertian zona udara adalah area dinamika/ permainan yang berada di ketinggian. Aktivitas low rope dan high rope masuk dalam zona ini. Dinamika yang dilaksanakan pada area udara identik dengan tantangan yang mencekam, karena secara psikologis seseorang menjadi berdebar-debar atau berhati-hati ketika keluar dari zona nyamannya memijak tanah. Area outbound di udara dapat dibuat di atas daratan, perairan, maupun kombinasinya dengan rekayasa pada misalnya:
  • Secara alami, memanfaatkan kondisi alam yang ada, misalnya membuat instalasi antara 2 buah bukit/ tebing, atau antara suatu tebing dengan daratan. Hal yang cukup lazim dilakukan adalah memanfaatkan kekokohan dan ketinggian pohon-pohon besar.
  • Secara buatan, kita bisa membuat bangunan atau tiang menara yang digunakan sebagai platform instalasi high rope.
      
high rope

Zona Dalam Ruang

Lokasi di dalam ruang bisa kita gunakan sebagai area pertemuan, misalnya pada acara pembukaan, pengantar, makan, diskusi, refleksi, serta penutupan. Kebutuhan ruang dalam juga diperlukan jika pada saat pelaksanaan kegiatan dinamika luar ruang terjadi hujan lebat yang berpotensi menggagalkan dinamika. Tidak semua dinamika memang bisa dipindahkan di dalam ruang, namun keberadaan ruang dalam bisa memberi inspirasi pada fasilitator untuk melakukan penyesuaian proses.
Ruang dalam yang baik dapat direkayasa sehingga:
  • Bisa menampung minimal 30 orang untuk melakukan aktivitas dinamika dalam ruang, minimal untuk kegiatan diskusi atau pengarahan.
  • Bisa bersifat bangunan berdinding penuh, maupun hanya separuh, atau bahkan tanpa dinding penutup. Silahkan pertimbangkan faktor keamanan, penggunaan listrik untuk penerangan, gangguan binatang, dan biaya pemeliharaan, sebelum memutuskan jenis dindingnya.
  • Memenuhi beberapa aspek arsitektural standar yang menunjang kenyamanan pengguna, misal : gangguan terhadap suara air hujan yang menimpa atap, terpaan air hujan, terpaan angin, kesejukan ruang, dan kelembaban yang cukup.
  • Mendapat sumber listrik untuk kepentingan penerangan di malam hari, tata suara, presentasi menggunakan LCD/ slide proyektor.

Berbagai zona permainan atau aktivitas utama outbound tadi tentu akan ditata bersamaan dengan zona lain dalam lokasi outbound, misalnya zona pelayanan (kantor pengelola, kamar mandi umum, gudang, dapur, dan sebagainya), zona penginapan (villa/ kamar tidur, camping ground), jalur sirkulasi (parkir jalan masuk, jalan penghubung), dan zona pendukung (kolam hias, taman, gazebo). Kecerdikan Arsitek akan membuat zoning lokasi outbound terpetakan dengan efektif. Zona yang baik akan memudahkan peletakan dan sirkulasi antar sarana dan fasilitas yang akan dibangun di atasnya. Akan sangat bijaksana juga bila tiap aktivitas di suatu ruang/ bangunan sudah dipikirkan jalur evakuasinya jika terjadi kondisi darurat.
Aktivitas gathering dalam suatu ruang semiterbuka


Tema/ Konsep


Ketika unsur fungsi sudah terpenuhi, bisa saja kita menentukan tema atau konsep tertentu dalam keseluruhan atau bagian-bagian lokasi outbound. Tema atau konsep, paling gampang dicerminkan dalam bentuk, ornamen, warna, dan pilihan material bangunan serta landcape. Semisal kita ingin mengusung tema “alami,” maka nuansa kayu, pohon, perdu, batu alam, batu bata ekspose, dan bambu bisa menjadi pilihan dominan dalam sentuhan berbagai fasilitas di lokasi outbound tersebut. Apakah lokasi outbound harus punya tema tertentu? tidak juga, sih. Tema lebih pada kreativitas perancangnya dalam membuat lokasi yang fungsional lebih punya nuansa tertentu saja. Harapannya, pengejawantahan tema/ konsep yang menarik atau unik justru meningkatkan nilai jual lokasi outbound tersebut.

Fleksibilitas Pemanfaatan

Akan baik jika lokasi outbound dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis acara secara fleksibel, termasuk untuk menampung lebih dari dua grup outbound secara bersamaan. Fleksibilitas akan membuat lokasi lebih dilirik pengguna karena bisa menampung beberapa fungsi, misalnya untuk:
  1. Outbound, entah yang sifatnya rekreatif atau edukatif,
  2. Berkemah dan berbagai aktivitas pendukungnya,
  3. Pertemuan-pertemuan yang menggunakan aula/ pendopo/ ruang setengah terbuka,
  4. Menginap dalam rangka sebuah kegiatan, misal pelatihan atau rapat kerja.
Pondok/ saung/ pendopo yang sangat menunjang keberadaan lokasi outbound; bisa untuk makan atau diskusi.


Ya, makin banyak pilihan atau variasi kegiatan yang bisa dilakukan di suatu tempat, tentu makin memberi keleluasaan dan kreativitas bagi eksekusi beragam kegiatan outbound atau sejenisnya.
Sebenarnya bahasan tentang bagaimana merancang suatu lokasi outbound akan lebih seru dan menarik ketika sudah berhadapan langsung dengan lokasi yang akan dikembangkan. Tiap lokasi punya karakter dan keunikan tersendiri yang bisa dieksploitasi demi kemanfaatan kegiatan outbound. Arsitek, pemilik/ investor, dan fasilitator outbound perlu duduk bersama untuk menentukan batasan sekaligus eksplorasi kreativitas kegiatan yang diwadahi dalam ruang dan bangunan secara pas, supaya pas pula dalam hal investasinya. Pembagian peran dan wewenang tiap pihak perlu disepakati dari awal sehingga proses perencanaan dan pembangunan bisa berlangsung mulus.

Selamat merancang lokasi outbound yang asyik