yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Kompetensi Fasilitator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompetensi Fasilitator. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Mei 2017

"80% Pasar Outbound Indonesia Dikuasai EL-Preneurs"

Nangunang adalah seorang instruktur outbound yang handal. Dia sering disewa oleh banyak provider sehingga jadwal dampingan mingguannya sangat padat, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan ke luar pulau, berkarya dengan bermacam bendera, ….. itu duluuuuu…. 10-15 tahun lalu. Kini, dalam usianya yang 45an tahun, dia lebih banyak tinggal di rumah, di pinggiran kota, mengurus warung kecil dan 4 orang anaknya. Warung yang tiap hari dia jagai tak lagi ramai karena toko waralaba juga sudah menjamur di kotanya. Panggilan untuk ngisi outbound, atau menjadi fasilitator program pelatihan, sudah sangat jarang didapatnya, bahkan 6 bulan terakhir ini, dia belum pernah ada yang ngajak “manggung” outbound. Pun akhir-akhir ini ada yang ngajak, biasanya itu teman lama yang cenderung ingin bernostalgia saja mengenang kejayaan masa lalu.

Nangunang mendapati kenyataan bahwa kini sudah sangat banyak fasilitator muda yang beroperasi menjadi freelancer bagi program-program outbound atau sejenisnya. Hal yang dulu dirasa membanggakannya jika tampil di depan puluhan, bahkan ratusan peserta outbound, kini sudah jamak dilakukan oleh mereka-mereka yang lebih muda nan enerjik. Dulu, untuk mendapatkan uang ratusan ribu rupiah, serasa mudah hanya dengan “menjual” ketrampilan tampil dalam games-games maupun permainan heboh. Kini, untuk mendapat uang ratusan ribu seminggu dari warungnya sendiri, kok, terasa lebih susah. Untunglah sang istri yang guru SD Negeri masih menjadi penopang utama pergerakan ekonomi keluarga.

 “Ah, apa daya, masaku sudah lewat,” begitu akhirnya permenungan Nangunang selalu mentok. Matanya menerawang memandangi seisi warung kecilnya yang sedari pagi sampai siang ini hanya dikunjungi 5 pembeli. Foto kusam ketika dia sedang memfasilitasi outbound tertempel miring di atas tumpukan kotak air mineral. Sementara anak bungsunya yang masih balita terlelap di tikar sudut warung; entah apakah dia akan sanggup menyekolahkannya dengan layak kelak. Terawangannya terhenti ketika ada seorang pembeli mengetuk etalase warung mungilnya.

Itulah sekelumit kisah Fasel /fasilitator experiential learning atau dulu dikenal dengan istilah instruktur outbound, yang mungkin akan/ sedang dialami oleh kita para outbounder.

Tulisan ini akan menelisik lebih jauh tentang perkembangan bisnis outbound, atau dikenal dalam era kekinian dengan nama experiential learning, yang stakeholder utamanya tentu para fasilitatornya. Telaah ini didedikasikan terutama untuk acara Kopi Darat Nasional III Grup EL-Preneurs Indonesia,  yang hari-hari ini diadakan di Batam, Kepulauan Riau, 2-4 Mei 2017. EL-Preneurs Indonesia berawal dari grup WA yang dibentuk oleh AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia), beranggotakan para pemilik/ pemimpin usaha yang terkait dengan experiential learning/ outbound atau sejenisnya di bidang aktivitas olahraga/ pelatihan luar ruangan. Informasi lebih lanjut tentang AELI, bisa kita simak di sini 



Gokilnya EL-Preneurs Indonesia

Komunitas EL-Preneurs Indonesia yang baru 2 tahun terbentuk ini, sebelumnya sudah 2 kali mengadakan acara Kopdarnas pada tahun 2016 lalu. Yang pertama di Anyer, dan yang kedua di Yogyakarta; kebetulan keduanya saya ikut. Karena untuk Kopdarnas ketiga ini saya, absen, maka saya menghadirkan diri lewat catatan ini saja. Semoga bisa memberi warna perkembangan grup EL-Preneurs Indonesia , khususnya dalam membuat jejak untuk masa depannya. Tidak hanya untuk para pemilik atau pemimpin pucuknya, tetapi juga untuk rekan-rekan seperti Nangunang yang dalam kenyataannya jadi ujung tombak program di lapangan.

Sebagian besar anggota EL-Preneurs Indonesia adalah anggota AELI juga, namun yang khusus sebagai pemilik/ pemimpin usaha experiential learning. Diantara 150an anggotanya, ada yang memang pemilik lembaga pembelajaran/ outbound, ada yang pemilik usaha produk adventure/ outdoor, ada juga yang pemilik venue/ lokasi outbound, pegiat pegunungan, trainer, motivator, dan EO ada juga tercatat sebagai anggotanya. Tercatat ada beberapa orang yang sudah jadi “legenda hidup” karena kemahsyuran nama (provider) dan kiprahnya di dunia outbound, namun banyak juga yang merupakan pengusaha-pengusaha baru. Ada yang omzet tahunannya baru puluhan juta, namun ada juga yang sudah tembus milyardan. Ada yang sudah berumur, namun banyak juga yang masih muda, semua bersatu karena kesamaan unsur (bisnis) experiential learning. Adapun misi EL-Preneurs Indonesia belum terekam secara definitif karena ini memang baru sebuah komunitas saja. Harapannya sih, dalam Kopdarnas Batam ini, mulai tereka-reka mau seperti apa EL-Preneurs Indonesia mewujud kedepannya.

Kembali pada nasib Nangunang, kenapa dia jadi begitu? Rahasianya, boleh lihat dalam http://catatanpenggiatoutbound.blogspot.co.id/2015/11/perlukah-saya-ikut-sertifikasi-bagian-22.html karena kedua catatan ini saling terkait. Jangan-jangan Nangunang terlalu asyik di zona E (employee / pekerja / buruh) sehingga ketika provider yang  biasa memekerjakannya punya pilihan lebih baik (lebih muda, lebih enerjik, pun lebih murah honornya) maka Nangunang menjadi pilihan terakhir. Nangunang nggak punya daya tawar di hadapan provider outbound.

Nah, kita akan membahas anggota EL-Preneurs Indonesiayang mestinya masuk dalam kuadran B atau Business Owner alias pemilik usaha. Kalo hasil renungan saya sih, pengusaha outbound yang mantap itu memang pernah jadi instruktur / fasilitator outbound yang matang di lapangan, kemudian tergerak masuk ke kuadran B. bahwa kemudian bidangnya mengembang dari experiential learning, itu nggak masalah. Pertanyaannya adalah (sejatinya) untuk apa kita menggabungkan diri dalam EL-Preneurs Indonesia? Apa yang dicari?

Merujuk pada hirarki kebutuhan Maslow, maka ada 5 tingkat kebutuhan, yaitu Kebutuhan fisiologi/ fisik/ biologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Rasanya semua jenis kebutuhan tadi masuk menjadi pertimbangan seseorang masuk jadi anggota EL-Preneurs Indonesia, walau prosentasenya pasti beda-beda.

Merujuk pada catatan saya sebelumnya,  http://catatanpenggiatoutbound.blogspot.co.id/2017/05/hobby-makes-money.html Maka salah satu kunci seseorang yang menggeluti hobi outbound, lalu kemudian menjadi profesi, sampai akhirnya menghasilkan rejeki (uang) adalah “relasi.” Maka berjeraing seperti dalam EL-Preneurs Indonesia ini adalah bentuk komunitas yang baik secara langsung maupun tidak langsung akan lebih mengalirkan rejeki pada usaha tiap anggotanya. Lalu apakah motif ekonomi yang menggerakkan anggota EL-Preneurs Indonesia untuk berkomunitas, kalo mau jujur, mestinya sih iya. Namun, bagusnya di EL-Preneurs Indonesia ini, faktor pemenuhan kebutuhan fisiologis bukanlah yang mendominasi. Seperasaan saya, ternyata ada faktor lain yang juga memengaruhi, yaitu kebutuhan akan rasa aman, penghargaan,  dan terutama aktualisasi diri. Tentu saja konteksnya dalam dunia bisnis outbound / experiential learning ya. Susah menjelaskannya dalam bentuk tulisan, tetapi jika kita menjadi anggotanya dan sudah beberapa kali berinteraksi, baik secara langsung maupun lewat media sosial, maka hal-hal tersebut akan mudah terasakan.
Sinergi anggota AELI berbagai DPD dalam mendukung IIUOTFEST Jakarta 2017

Sebagai salah satu contoh betapa unik relasi di EL-Preneurs Indonesia , begini. Dalam suatu “beauty contest”/ tender untuk mendapatkan program pelatihan di PT ANU, seorang anggota EL-Preneurs Indonesia bertemu dengan mantan anak buahnya dulu yang pernah dia ajak. Sang anak buah lalu memisahkan diri untuk  membuat provider outbound sendiri. Ketika bertemu dalam sebuah kompetisi memenangkan tender, yang ada adalah keakraban, bukan permusuhan. Bahkan ketika sang anak buah yang memenangkan tender, si EL-Preneurs Indonesia tersebut justru memberi masukan beberapa tips mengelola pelatihan untuk PT ANU tersebut. Maklum si anggota EL-Preneurs Indonesia pernah juga beberapa kali mendampingi perusahaan tersebut. Wah, bagi saya itu pengalaman yang menarik, bagaimana kebesaran jiwa seorang senior dalam menghadapi dinamika bisnis, pun ketemu kompetitor yang adalah mantan anak didik yang pernah meninggalkannya.

Contoh lain, nih, dan ini lebih banyak. Beberapa orang anggota EL-Preneurs Indonesia kerap mendapatkan program outbound/ pelatihan di berbagai kota di Indonesia. Misalnya, minggu lalu dia main di Medan, di grup WA dia posting foto kolaborasinya dengan anggota EL-Preneurs Indonesia asal Medan. Minggu ini dia dapat proyek di Bali, maka dipostingnya kebersamaan nggarap proyeknya bersama teman-teman dari Bali. Minggu depannya dia ke Makassar, dan bisa dipastikan dia akan mencari anggota EL-Preneurs Indonesia di sana untuk diajak kolaborasi. Ya, sinergi adalah salah satu jargon yang coba dihidupi oleh tiap anggota EL-Preneurs Indonesia. Jargon lainnya apa? GOKIL, ya, walopun mayoritas pemilik usaha, tapi karena yang diusahakan itu outbound, maka gokil menjadi salah satu nafasnya. Serius tapi gokil, gokil tapi serius. Ya maklumlah, outbound khan juga bisnis yang “memermainkan” peserta lewat permainan.

Suasana Kopdarnas II ELPreneurs Indonesia yang jadi sampul website AELI
Saat Kopdarnas II di Yogyakarta bulan Juni 2016 lalu, 50an anggota EL-Preneurs Indonesia sempat mendiskusikan mau dibawa kemana gerakan tersebut? Namun ternyata saat itu belum ada upaya untuk membuat gerakan tertentu untuk lebih menegaskan keberadaan EL-Preneurs Indonesia. Yang ada justru EL-Preneurs Indonesia akan menjadi salah satu motor utama untuk mendorong AELI melebarkan sayapnya di tanah air. Kenapa anggota  EL-Preneurs Indonesia begitu bersemangat untuk bersekutu? Padahal mungkin di lapangan, terutama di kantor-kantor HRD perusahaan, mereka “berperang” mendapatkan proyek pelatihan?  Saya curiga karena pertama-tama yang menyatukannya adalah AELI. 

Ya, AELI itu asosiasi yang bervisi “Menjadi wadah dan mitra yang berkualitas bagi seluruh lembaga atau perorangan pengguna metode pelatihan berbasis pengalaman di Indonesia dan bertanggung jawab terhadap pengembangan kualitas manusia Indonesia.” Adapun 3 misinya adalah:

  • ·         Memasyarakatkan pelatihan berbasis pengalaman kepada masyarakat Indonesia. 
  • ·         Meningkatkan kualitas  pelatihan dan pendidikan berbasis pengalaman, sehingga menjadi metode pelatihan yang efektif dan diakui di Indonesia.
  • ·         Meningkatkan kualitas pelaksana pelatihan berbasis pengalaman sehingga menjadi pelaksana pelatihan yang bertanggung jawab terhadap pengembangan manusia Indonesia.
Jadi jelas, AELI itu asosiasi yang mendasarkan pada keilmuan experiential learning, bukan pada bisnis yang menggunakan experiential learning. Menjadi sebuah kewajaran ketika sebagian besar anggotanya yang adalah pelaku bisnis mulai berinisiatif membicarakan bisnis experiential learning secara lebih serius. Itulah latar belakang kemunculan EL-Preneurs Indonesia yang berafiliasi pada AELI. Maka, walau dibingkai dalam perspektif kepentingan bisnis, tetapi pendasaran EL-Preneurs Indonesia adalah visi mulia asosiasi.

Quo Vadis EL-Preneurs Indonesia?

Kini kita beralih pada hal yang menyangkut masa depan EL-Preneurs Indonesia nih, gimana bagusnya EL-Preneurs Indonesia mewujud? Tetap seperti saat ini sebagai komunitas grup WA yang sekali setahun menyepakati kopi darat sajakah? Atau bagaimana? Saya menafikkan dulu bahwa sebagian anggotanya sudah saling berinteraksi bekerjasama bisnis outbound ya, soalnya itu bukan program EL-Preneurs Indonesia, hanya jadi akibatnya saja sih.

Masih banyak anggota EL-Preneurs Indonesia yang sedang dalam taraf merintis usaha outbound, dan jauh lebih banyak lagi rintisan usaha experiential learning yang sedang dibuat di luar ELPI. Sebagian hanya bertahan singkat karena hanya mengikuti tren, sementara yang ingin tetap bertahan namun mengalami keterbatasan di sana sini juga ternyata lebih banyak lagi. Katakanlah orang-orang seperti Nangunang yang ingin berbisnis outbound, namun karena satu dan lain hal menjadi susah untuk mengembangkannya. Lantas, apakah kita di EL-Preneurs Indonesia akan membiarkannya, atau akan sekedar bilang, “Maka jadilah anggota AELI, di sana kalian akan belajar banyak tentang 9 kompetensi Fasel. Lalu setelah itu jadilah anggota EL-Preneurs Indonesia supaya ketemu teman-teman sepengusaha outbound.” Ya, apakah cukup segitu saja?

Saya belum lama mengecimpungkan diri sebagai pemilik usaha experiential learning, maklum masih pendatang baru di dunia entrepreneur, maka mungkin ulasan kebisnisan saya masih dangkal, nggak apa-apa ya, namanya juga usaha. Namun hasil permenungan saya terhadap keberadaan EL-Preneurs Indonesia dibandingkan lebih banyak pengusaha outbound lain di “luar” sana adalah begini. EL-Preneurs Indonesia, melalui sebagian anggotanya bisa memosisikan diri membuat konglomerasi bisnis experiential learning di Indonesia. Sudah ada zona nyaman yang selama 2 tahun berhasil dirintis dalam simbiosis mutualisme penyelenggaraan bisnis experiential learning. Jadi kasarnya, “mari kita mengeksklusifkan diri saja, toh selama ini sudah cukup anggota yang bisa diajak berlokaborasi. Pun mau mengembangkan, kita cari di kota-kota yang belum ada AELInya.”


AELI ketika mengisi acara dalam IIUOTFEST di Bandung
Memerhatikan konteks keanggotaan AELI di 16 provinsi, semangat EL-Preneurs Indonesia dan relasi dengan pemerintah, saya sih punya keyakinan jika EL-Preneurs Indonesiamau, hal tersebut bisa terjadi. Hukum pareto bisa mewujud dalam dunia outbound Indonesia, seperti judul tulisan inil  "80% pasar outbound Indonesia dikuasai hanya 20% pelaku bisnisnya," yang kebetulan jadi anggota EL-Preneurs Indonesia. Wow… amboy bagi EL-Preneurs Indonesia, tetapi menyeramkan bagi yang lain. Apakah itu yang akan mewujud dalam beberapa tahun ke depan? Apakah akan lebih banyak Nangunang-Nangunang lain yang pikirannya berkunang-kunang karena masa kejayaannya sebagai outbounder sudah lewat? Ah, saya hanya berandai-andai, silakan teman-teman di Batam mengobrolkannya...

Selamat melanjutkan Kopdarnas III, teman-teman EL-Preneurs Indonesia.

Palembang, 3 Mei 2017; 
Salam gokilers dari Agustinus Susanta


Senin, 01 Mei 2017

Hobby Makes Money


Itulah tema yang diusung AELI saat tampil dalam ajang IIOUTFEST di Senayan Jakarta pada Awal April 2017 lalu. Saya sempat datang ke acara itu; pertama sebagai simpatisan AELI yang kebetulan ketua DPD Sumsel, kedua, karena mau isi acara bincang-bincang bertema tersebut, ketiga, sekalian mau liat barang-barang pameran, siapa tahu ada yang sesuai kebutuhan dan berharga miring, jadi bisa dibawa pulang. Tema tersebut sangat menarik; bagaimana hobi bisa menghasilkan uang. Bagaimana cobaaa…? Saking menariknya, saya berencana membuat sebuah tulisan untuk menyambut momen itu, namun apa lacur, baru sekarang tulisan itu tersusun. Saya sih yakin, tema yang provokatif tersebut tak lekang dimakan jaman untuk dikonsumsi para pegiat experiential learning atau outbound di tanah air. Ya, membicarakan hobi yang lalu bisa menghasilkan duit, siapa sih yang nggak pengen?
"Hobby Makes Money," bersama sebagian kecil relasi yang sadar kompetensi

Salah satu pembicara dalam talkshow di panggung IIOUTFEST tersebut , Mas Enda Mulyanto berujar, “Janganlah kita yang mencari uang, namun biarlah uang yang mencari kita,” sangat enak kedengarannya, namun jika dipikir lebih lanjut, apa iya bisa ya. Mas Mul--panggilan Enda Mulyanto-- , tentu punya sekian banyak pengalaman hidup yang menimpa dan menempanya, sehingga bisa menyimpulkan bahwa dalam dunia outbound yang awalnya adalah hobi, uang bisa datang pada kita. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku.

Tulisan ini akan mengupas bagaimana hobby (memfasilitasi outbound atau experiential learning ) bisa mendatangkan money (uang) bagi kita para pelakunya. Saya modifikasi sedikit tagline tersebut menjadi “Dari Hobi menuju Profesi yang Merejeki,” intinya sih nyaris sama, hanya istilah rejeki tidak langsung berkonotasi dengan uang; ya, uang hanyalah salah satu konsekuensi yang mengikutinya saja.

Kita juga perlu membedakan antara hobi dan pekerjaan, sehingga tulisan ini jangan dibaca seperti tutorial bekerja yang memang ditargetkan menghasilkan sesuatu secara sistematis. Mengutip kamus, Hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Tujuan hobi adalah untuk memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan. Terdapat berbagai macam jenis hobi seperti mengumpulan sesuatu/ koleksi, membuat, memperbaiki, bermain, dan pendidikan dewasa. Jadi, makin jelas ya, aktivitas hobi yang saya sebut-sebut di sini bukanlah aktivitas seperti kita bekerja di perusahaan.

Bagaimana hobi para pelaku outbound—selanjutnya saya sebut sebagai outbounder—bisa menjadi sebuah profesi, yang lalu mendatangkan rejeki? Ternyata syaratnya hanya ada 3 SI, yaitu: Konsinstensi, Kompetensi, dan Relasi. Saya akan memaparkan 3 SI tersebut dalam kacamata pengalaman saya sendiri untuk menghindari kesan menggurui. Apalagi dunia outbound itu lekat dengan experiential learning, atau belajar dari pengalaman. Ijinkan saya berbagi pengalaman menghobii outbound selama lebih dari 14 tahun sampai kini malah menjadi profesi yang mendatangkan rejeki pada kehidupan dan penghidupan saya. Ceritanya agak panjang nggak apa-apa ya? Yaaa…

Konsistensi

Saya merantau ke Palembang sejak 2001, dan bekerja sebagai dosen arsitektur di salah satu perguruan tinggi di ibu kota provinsi Sumatera Selatan tersebut. Namanya, dosen, ya tiap hari ketemu dengan mahasiswa, dan itu selalu menggairahkan. Yang pernah merasakan bangku kuliah tahulah ya gimana dinamisnya kehidupan kampus, mulai dari urusan akademik sampai aneka kegiatan kemahasiswaannya. Sebagai dosen muda yang idealis, boleh dikatakan aneka kegiatan tridharma perguruan tinggi sudah saya lakoni, termasuk mengadakan berbagai penelitian, sampai diseminarkan di beberapa kampus ternama di Pulau Jawa. Saat itu pekerjaan saya sebagai dosen, dan belum ada hobi yang spesifik selain membaca dan main sepak bola.

Saya senang mengajar, sehingga panggilan mengajar dan mengembangkan orang lain rasanya lebih tersalurkan dengan berinteraksi di lingkup yang lebih luas dari sekedar pagar kampus. Maka saya mulai terlibat dalam komunitas sosial dan kerohanian.
Kenangan pertama "outbound" pada 28-30 Juni 2003
Tahun 2003 saya begabung dalam tim yang diminta memfasilitasi pertemuan 3 hari 2 malam di Kota Curup, Bengkulu, berpeserta 250an orang muda. Saat itu ada acara pemberian materi kerjasama, yang lalu saya rubah formatnya menjadi lintas alam. Panitia sih setuju-setuju saja, lha wong kita yang diminta ngisi, kok, he he he… survey di lokasi yang berjarak sekitar 10 jam perjalanan darat dari Palembang tersebut dilakukan sekali. Singkat cerita, kegiatan lintas alam berlangsung sukses dari pagi hingga sore hari. Persiapannya sungguh menguras energi; maklum itu kegiatan pertama kali kami berformat outdoor, atau yang lalu saya kenal dengan nama outbound.

Berbekal keberhasilan membuat “outbound” tahun sebelumnya, pada tahun 2004, saya menggagas juga kegiatan outbound pada pertemuan dalam skala yang lebih besar, yaitu 700an orang. Waktu outboundpun jadi 2 hari dari total waktu 4 hari kegiatan pertemuan yang berformat kemping tersebut. Apa hasilnya? Outbound hari pertama lumayan sukses, tetapi outbound hari kedua berantakan karena saya keliru memerhitungkan durasi terhadap lokasi serta aktivitasnya. Jika ada yang penasaran bagaimana berantakannya outbound tersebut, semoga kali lain sempat saya tuliskan pengalaman serunya, he he he…


Salah satu pos dalam outbound tahun 2004

Kegiatan games komersil pertama saya dilakoki pada akhir 2004. Disebut komersial karena saat itu sebagai fasilitator freelance yang direkrut sebuah lembaga pembelajaran, saya mendapat honor. Lanjut, outbound komersial saya selama 4 hari berpeserta para manager perusahaan terjadi pada tahun 2005 dengan lokasi di Sindang Jati - Rejang Lebong – Bengkulu. Dengan persiapan matang mengusung tema “How to Survive” outbound training pun berlangsung lancar. Di titik ini saya masih melihat bahwa outbound yang kami lakukan masih merupakan hobi, walau sudah mendatangkan pemasukan (uang)
Pelatihan pertama, bahkan nulis tema pun masih keliru, hehehe...
Sejak itu, kabar bahwa ada tim outbound di Palembang mulai menyeruak. Satu demi dua perusahaan mulai memanggil tim outbound kami  untuk memfasilitasi aneka outbound bagi karyawannya. Riwayat pendampingan outbound saya agak panjang, boleh diintip di sini saja Ada yang sekedar mau fun games saja, namun ada juga yang bersifat pelatihan, bahkan pengembangan karakter. Format keterlibatannyapun beragam, misalnya hanya ngisi beberapa permainan saja, ada yang sifatnya  mbantu teman dengan “benderanya,”, ada yang atas nama kampus, namun ada juga yang tanpa nama lembaga walau yang didampingi perusahaan. Pokoknya macem-macem lah formatnya.

Kerjasama untuk membuat lembaga outbound pun pernah beberapa kali dilaksanakan. Ada yang bertahan dengan 2 event saja, ada juga yang sampai belasan kali saja buat acara. Bahkan ada juga yang lembaganya kini sudah tidak jelas karena para pendirinya punya kesibukan lain. Ada yang sifatnya sosial/ kerohanian, namun banyak pula yang komersil. 12 September 2012 saya mulai menyeriusi dunia outbound ini dengan membuat sendiri lembaga pembelajaran bernama Sriwijaya EdFunture. Pun begitu, saya masih sering beroperasi dengan berbagai bendera juga. Yach, namanya juga hobi, dan saat itu belum jadi profesi, lho. Pun pula, pekerjaan resmi saya masih sebagai dosen.

Pada tahun 2006-2009 saya juga masuk dunia proyek dalam suatu perusahaan kontraktor, berstatus manager proyek. Jadi selain profesi utama sebagai, dosen, ada 2 lagi kegiatan saya, yaitu outbounder dan manager proyek. 2 tahun pertama, semua berjalan lancar, namun berikutnya, mulai terjadi benturan-benturan, terutama urusan alokasi waktu kegiatan. Akhirnya, dunia kontraktor saya istirahatkan, tetapi dunia outbound tetap saya geluti. Refleksi saya sih karena dunia kontraktor itu penuh perhitungan yang minim kreasi, sementara dunia outbound/ pelatihan bisa mengeksplorasi kreativitas, walau tetap dengan perhitungan. Intinya, berkarya sebagai outbounder lebih asyik daripada kontraktor, walau pemasukan dari kontraktor saat itu lebih menjanjikan daripada sekedar hobi outbound saya.
Outbound Departemen Hukum dan Ham Sumsel pada 16 Mei 2009; bersama tim outbound Sekolah Tinggi Teknik Musi, tempat saya mengajar. Lokasi juga di kampus Musi.


Tahun 2011, setelah 1 windu berkelindan dalam dunia outbound, 2 buku tentang outbound sudah saya tulis, dan diterbitkan secara nasional. Buku itu sebenarnya perwujudan kecintaan saya pada hobi outbound. Begitu banyak pengalaman sebagai outbounder yang sangat sayang jika tidak bisa dibagikan/ dicicipi oleh orang lain, apalagi yang punya hobi serupa. Niat utama saya buat buku tersebut adalah untuk berbagi pengalaman. Dalam perjalanan beberapa tahun berikutnya, buku kedua, ketiga, dan seterusnya juga berhasil saya tulis.

Saat saya mulai mengalami ada aliran rejeki pada hobi saya sebagai outbounder, membuat saya justru makin haus akan kedalaman dunia outbound. Pertanyaan yang menyeruak saat itu adalah, “Siapa sih, dedengkot outbound di Indonesia? Saya ingin belajar darinya.” Maklumlah, saya tahu outbound secara otodidak, coba-coba, praktik, dan lalu berkreasi lagi. Saya merasa sudah banyak kreativitas dalam dunia outbound yang saya buat, tetapi rasanya masih ada sesuatu yang misterius, yang lebih dahsyat dari sekedar kreasi. Apa itu? Itu juga yang lalu saya cari-cari.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba, pada 5-7 Maret 2012 saya ikut pelatihan Training of Trainer Bidang Kefasilitatoran (outbound) di Bogor. Saat itulah saya kenal dengan istilah experiential learning dan ternyata ada asosiasinya, yakni AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia). Kalo mau ngintip webnya ada di sini. Sungguh 3 hari yang mengesankan, ketemu teman-teman baru dari berbagai provinsi, dan yang paling penting, belajar lebih dalam tentang (teori) outbound dari para “pendekar”nya. Nah, pada bab selanjutnya kita akan masuk pada SI yang kedua, yaitu Kompetensi.

Kompetensi

Saat pelatihan kefasilitatoran, saya terhenyak mendapati kenyataan bahwa istilah outbound itu sebenarnya kecelakaan penyebutan istilah segala jenis pelatihan berbasis luar ruangan. Yaaaa… saya selama itu tahunya kegiatan semacam itu ya disebut outbound, peserta juga nggak bingung akan istilah itu, dan yang jelas, akibat istilah outbound tersebut, rejeki sudah mulai mengalir. Saya sih tidak ambil pusing dengan pengistilahan outbound, apalagi jika didikotomikan dengan istilah experiential learning. Bahwa ada kawan yang fanatik menolak istilah outbound, ya silakan, biasanya sih mereka itu justru bukan dapat rejeki dari situ, jadi vokalnya tinggi, he he he….

Ternyata, ilmu outbound adalah experiential learning, yang bahasa mudahnya belajar dari pengalaman. Sekedar contoh ilmunya nih. Untuk memaknakan sebuah pengalaman, itu ada 7 cara lho. Sebelumnya, saya hanya tahu satu saja, yaitu debriefing, atau dikenal dengan istilah refleksi. Untuk refleksi saja itu juga ada 5 urutannya supaya hasilnya efektif. Jadi, setelah tahu ilmu tersebut, jangan sampai deh, refleksi yang saya lakukan langsung dimulai dengan, “Jadi, apa manfaat permainan tadi bagi Bapak Ibu?” Apa artinya? Artinya, dalam kompetensi keilmuan experiential learning, khususnya mengenai pemaknaan pengalaman, pertanyaan tentang manfaat permainan itu ada di pertengahan proses, bukan di awal. Nah, sebelum saya tahu ilmunya, sepemahaman saya merefleksikan suatu permainan/ outbound itu ya hanya (langsung) tanya tentang manfaatnya.
Awal pengembangan kompetensi lewat TOT Kefasilitatoran


Setelah mengenal AELI Saya makin sadar, bahwa pemahaman saya akan tatacara outbound masih dangkal. Maka saya mulai mengikuti beberapa pelatihannya, yang saat itu diselenggarakan di Jawa.  Demi hobi, saya keluarkan investasi untuk menambah kompetensi, aliah ilmu pengetahuan tentang experiential learning nggak masalah sih.

Apakah ada pengaruh, ketika saya makin berkembang tatacara outboundnya? Ya, ada. Setidaknya saya tahu pendasaran sebuah skenario pelatihan berbasis experiential learning. Mungkin yang terjadi di lapangan hampir sama dengan masa lalu, namun setelah tahu ilmu experiential learning, saya mendasarkannya pada pendekatan keilmuan tertentu. Saya juga makin percaya diri dalam manjalankan hobi yang mulai mengarah pada profesi. Semua gara-gara saya terbuka untuk meningkatkan kompetensi. Perjumpaan dengan banyak “pendekar” outbound yang sarat ilmu dalam forum AELI, membuka wawasan bahwa outbound bisa “dijual” dengan harga (lebih) tinggi, namun tentu saja syarat dan ketentuan berlaku. Salah satunya ya outbound itu harus ada isinya, harus bernas, dan itu memerlukan kompetensi penyelenggara/ fasilitatornya.

Dalam perkembangannya, pada tahun 2013 pemerintah sudah menetapkan 9 kompetensi bagi para Fasel / pemandu outbound. Maka, siapa yang hobi bikin outbound dan tapi mau meningkatkan kompetensinya, sudah ada panduan yang bisa diikuti. Ya, hobi yang mau merejeki dalam format profesi tentu perlu ditunjang dengan peningkatan kompetensi. Kompetensi yang dimaksud mencakup urusan kefasilitatoran, maupun aspek penyelenggaraannya. Pada 2015, saya ikut Uji Kompetensi angkatan pertama dan Puji Tuhan, dapat sertifikasi kompetensi Fasel Tingkat Utama. Keberhasilan mendapatkan sertifikasi profesi menjadi penanda bahwa hobi yang saya seriusi sudah menjelma menjadi profesi.

Menjadi anggota AELI, bahkan jadi Ketua DPD Sumsel, membawa saya pada perjumpaan dengan banyak pegiat experiential learning se Indonesia. Banyak manfaat ketika saya bertambah teman dari dunia yang sama. Inilah nanti yang menjadi SI ketiga, yaitu RELASI. Ternyata faktor relasi atau jaringan pertemanan makin menderaskan keran rejeki hobi saya.

salah satu kostum tim outbound yang bersamanya saya mentransformasikan hobi jadi profesi

Relasi

Relasi yang dimaksud tidak sekedar hubungan dua belah pihak, atau malah yang berkonotasi kolusi. Relasi dalam konteks outbound adalah bagaimana kita sebagai outbounder terbuka menjalin relasi atau jaringan pertemanan dengan sesama fasilitator maupun stake holder experiential learning yang lain. Saya mulai merasakan kekuatan relasi ketika bergabung sebagai anggota AELI. Awalnya, jaringan terjalin ketika sama-sama mengikuti pelatihan, lalu makin terjalin dan meluas terutama dengan perkembangan teknologi media sosial.

Bermodalkan jaringan, ternyata ada unsur bisnis penyelenggaraan outbound yang bisa berkembang. Sekedar contoh nih, saya saya yang berdomisili di Palembang pernah mengadakan program pelatihan di Anyer, Banten berpeserta 100 orang. Saya khan asing dengan daerah Anyer, apalagi untuk bikin outbound serius di sana. Namun karena sudah punya teman-teman baru, terutama di sekitar Jakarta, maka jaringan merekalah yang membantu saya. Saya cukup menginformasikan konsep, lalu H min 1 saya sendirian datang dari Palembang, sementara para “relasi” saya sudah menyiapkan operasionalnya. Bayangkan jika saya tidak punya relasi di sekitar Jakarta, saya harus mempesawatkan paling tidak 5 orang fasilitator untuk mendukung outbound yang dimaksud.

Relasi juga membuat kita makin kaya akan khazanah ragam experiential learning. Hal ini makin terasa ketika pada tahun 2016 saya gabung dengan ELpreneur bentukan AELI. Berawal dari grup WA yang berisi para pemilik provider experiential learning/ outbound/ sejenisnya, sampai saat ini kami sudah kopi darat 2 kali. Kebetulan saya ikut semua, pertama di Anyer, kedua di Yogyakarta. Dalam ELPreneur, diskusi mengenai outbound/ experiential learning memang bernuansa bisnis alias rejeki. Sinergi adalah motto yang diusung para anggota ELP, padahal sebagian besar adalah pebisnis dengan bidang garapan yang sama. Keyakinan kami di grup tersebut, bahwa rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan, namun urusan peningkatan kompetensi dan berjejaring, itu adalah kehendak bebas para outbounder. Catatan lebih serius tentang ELPreneur semoga bisa dinikmati di tulisan berikutnya.
Brosur salah satu kegiatan hasil jalinan dengan relasi baru


Sekedar bercerita tentang manfaat saya ikut AELI/ ELPreneur misalnya saya pernah membeli tenda dome di Kota Malang saat ada discount besar. Bukan, bukan karena  yang jual itu sama-sama anggota AELI. Namun saat itu saya lagi kondangan dan iseng-iseng tanya di grup WA, siapa jual tenda dome. Eh, teman yang dari Jawa Timur malah bilang dia saat itu kebetulan ada di lokasi pameran (hari teakhir pula) yang njual tenda seperti  saya maksud. Akhirnya berbekal kepercayaan dan via telpon dan WA saja, teman saya tadi nalangi (maksudnya menghutangi, hehehe..) membelikan saya 18 tenda, sementara saya asyik makan di kondangan. Cerita setelahnya, seusai kondangan saya langsung transfer sih dana pembeliannya. Hebat, kan, kekuatan relasi yang berlandaskan kepercayaan?

Saya juga makin banyak menjalin relasi, tak hanya pada sesama outbounder, namun juga stakeholder experiential learning yang lain. Ada teman-teman dari lembaga yang biasa buat pelatihan/ seminar inhouse. Ada juga kenalan para pemilik/ pengelola tempat yang bisa untuk main outbound. Mulai kenal juga teman-teman marketing di beberapa hotel yang kadang pesertanya ingin outbound. Teman-teman (eks) Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) juga mulai diajak-ajak ketemuan ngobrolin tentang outbound. Tak lupa jaringan penyedia/ penjual perlengkapan outbound juga saya jadikan relasi. Banyak juga teman guru dan dosen kini makin tertarik ngobrol setelah beberapa kali diajak ketemuan untuk diskusi tentang experiential learning  dalam pendampingan siswa/ kemahasiswaan.
Salah satu manfaat unik dari relasi pernah saya catat di sini yaaa

Faktor yang membuat saya makin cepat memperluas relasi dan jaringan adalah AELI. Dalam naungan asosiasi tersebut, outbounder bisa lebih leluasa berwacana, mau dari sisi keilmuan, itu memang intinya, mau ngomongin bisnisnya bisa juga, obrolan tentang alternatif pendidikan bisa juga.

Hobi yang Memprofesi, lalu Merejeki

Saya lanjut sebentar riwayat keoutboundan saya. Pada tahun 2011, persis 10 tahun saya jadi dosen tetap, saya mengajukan diri menjadi dosen luar biasa/ dosen tidak tetap. Salah satu hal yang mendasarinya adalah saya ingin lebih serius mengembangkan hobi yang sudah merupa jadi profesi yang merejeki. Ternyata, menjadi dosen tetap yang berkewajiban “ngampus” seminggu 6 kali dari pagi ke siang, bahkan sore, secara waktu mulai sering bentrok dengan waktu pendampingan outbound. Walau sebagai dosen bisa saja saya mengganti jadwal kuliah, atau memberi tugas tambahan, namun hati kecil saya bilang itu tidak bagus. Kalo sekarang ini, ke kampus cukup satu atau dua kali seminggu hanya untuk ngajar saja. Dan di luar waktu tersebut, saya bisa makin bereksplorasi sebagai outbounder. Cerita selesai.

Nah, sudah saya bocorkan 3 SI yang menunjang hobi kita supaya bisa menjadi rejeki, yaitu: Konsistensi, Kompetensi, dan Relasi. Tiga hal tersebut mestinya saling terkait, walau mungkin tiap outbounder tidak sekaligus waktu berkelindannya; maklum, ini kan konteksnya hobi, bukan bekerja. Konsisten menjalankan hobi makin membuat kita sadar bahwa hobi juga perlu dikembangkan. Kompetensi dalam aspek-aspek kehobian kita membuat selalu ada penyegaran sekaligus peningkatan kapasitas kita sebagai pehobi. Mulai deh di titik ini, hobi bisa mulai mendatangkan rejeki alias pemasukan (uang). Jika konsistensi berhobi dan peningkatan kompetensi tentang hobi kita sudah dijalani, maka tak pelak, kita juga akan punya komunitas. Maka sangatlah aneh jika orang punya hobi tapi nggak punya komunitas/ jaringan sehobi. Inilah yang disebut dengan relasi. Semua hal terkait hobi kita akan direlasikan sehingga akan membentuk jaringan/ komunitas yang asyik saat kita menjalankan/ mengembangkan hobi kita, pun ketika sudah merupa jadi profesi dan mengalirkan rejeki
Mengembangkan hobi dalam bingkai kompetensi dalam relasi bersama Asosiasi Experiential Learning Indonesia DPD Sumatera Selatan
Demikianlah refleksi saya tentang hobi outbound yang menjelma jadi profesi serta mendatangkan rejeki bagi saya, cukup dengan 3 SI. Masih ada lagi sambungan catatan tentang bagaimana rejeki dalam berprofesi bisa makin deras mengisi pundi, yang ternyata mengandung 5 SI, yaitu: Koleksi, Variasi, Kolaborasi, Investasi, dan Promosi. Nantikan saja tulisannya ya…

Palembang, 2 Mei 2017

Agustinus Susanta

Sabtu, 26 November 2016

7 Dusta Fasilitator Outbound Lebay


Dalam kegiatan outbound atau sejenisnya, instruktur, fasilitator, game master, -atau apa pun istilah yang digunakan untuk pemandu acara- dituntut untuk selalu menjaga suasana agar kondusif. Nah, kadang seorang fasilitator, entah disadari atau tidak, mengungkapkan hal-hal yang sebenarnya mengandung dusta guna “memelihara” suasana dengan peserta tersebut. Mungkin maksudnya bikin lelucon atau untuk menghidupkan suasana, namun dengan menyampaikan hal-hal yang lebay mengandung kedustaan.

Tulisan ini akan menyingkap 7 dusta fasilitator lebay yang sering dikemukakan demi memelihara suasana outbound (menurut yang bersangkutan). Apa saja 7 duta tersebut? Mari kita simak.

1.       Jam Karet
“Ya, waktu tinggal SEPULUH menit lagi” begitu teriak seorang fasilitator pada rombongan peserta outbound yang sedang main games pipa bocor. Maka para peserta pun lebih giat bermain. Eeee… lima menit kemudian, si fasilitator tersebut kembali berkata, “Yak, waktu tinggal SATU menit lagi!” akibatnya peserta makin giat sambil diiringi rasa panik dalam menyelesaikan permainan.
Dusta “memermainkan” waktu atau durasi kerap dilakukan fasilitator yang nggak punya konsep jelas dalam pendampingan. Mungkin maksud si fasilitator adalah supaya proses lebih dramatis, maka maka ketentuan waktu yang sudah dia ucapkan di awal, ditengah-tengah atau di akhir proses dengan mudahnya dimanipulasi. Tak hanya memercepat proses, memerlama proses pun juga manipulasi, misalnya dari 10 menit yang disebutkan tersisa, setelah lewat sepuluh menit, dibilang masih ada waktu tiga menit lagi.
Bagi sebagian peserta, waktu yang berubah-ubah mungkin tak menjadi masalah karena fokus mereka bermain. Namun bagi sebagian yang lain, apalagi yang kritis, ini bisa menjadi masalah karena mereka merasa dipermainkan; walau dalam konteks sedang melakukan suatu permainan.

2.       Hadiah Mewah, Sanksi Keji
“Ya, pemenang lomba ini akan mendapat hadiah menginap tiga malam lagi di villa ini” demikian papar seorang fasilitator sebelum beberapa kelompok akan lomba dalam sebuah permainan outbound. Peserta tertawa, pun fasilitatornya, seolah itu hal yang lucu. Padahal sang fasilitator pasti tahu itu adalah dusta, sedangkan hampir semua peserta juga beranggapan itu juga dusta. Variasi dusta hadiah yang lain, misalnya peserta yang menang akan mendapat hadiah mobil, dalam bentuk brosur. Apakah pemenang memang mendapat hadiah nginep tiga malam lagi di vila tersebut? Atau dapat brosur mobil? Ah… ada-ada saja
Bentuk pendustaan kebalikan dari hadiah adalah hukuman atau sanksi bagi yang kelompok yang kalah, misalnya “Kelompok yang kalah dalam permainan ini tidak akan dapat makan malam.” Atau “Kelompok yang kalah pulang dari Puncak ke Jakarta Jalan kaki.” Apakah memang begitu adanya? Tanyakan pada sang fasilitator yuk…

3.       Kawasan Rawan
“Kak, sungai itu dalam ya?” tanya seorang peserta outbound pada seorang fasilitator, “Wah, dalam sekali, Dik; kira-kira 3 meter” jawabnya dengan lagak kurang meyakinkan. Jawaban itu membuat si peserta agak takut sambil membatin, “Wow, 3 meter, berbahaya sekali nih.”
Padahal, sang fasilitator tahu bahwa kolam itu hanya 1 meter dalamnya, tetapi kenapa sampai mengungkapkan kedustaan mengenai dalam kolam? Apakah supaya peserta takut?
Ada pula fasilitator yang hobinya menakut-nakuti peserta akan kawasan di sekitar tempat outbound, misalnya. “Di kolam itu banyak ular dan buayanya, lho,” atau “Jangan sampai masuk hutan itu ya, masih banyak harimau di sana, bisa diterkam nanti kamu kalau masuk ke sana.”  Kalau dia tahu persis kondisinya seperti itu, nggak apa-apa, namun kalau dia hanya ngarang-ngarang cerita, ya dusta itulah. Padahal untuk mengungkapkan kewaspadaan peserta akan lokasi outbound, masih bisa dengan cara yang lebih masuk akal, kok, alih-alih dusta. Emang peserta outbound mau dijebloskan untuk perang gerilya di hutan belantara?


4.       Perbandingan Berlebihan
“Kami sudah sering memainkan games ini, minggu lalu, ada grup dari anak-anak SD yang menyelesaikannya ini hanya dalam waktu 15 menit. Nah apakah teman-teman dari PT Jayabotol bisa memecahkan rekor tersebut?” Demikian penjelasan sang fasilitator pada kelompok outbound sebelum memainkan suatu games. Sang fasilitator memang sudah sering memainkan games tersebut, tetapi dia tahu bahwa minggu lalu dia tidak memainkannya untuk anak SD, pun sekian bulan lalu dia pernah memainkannya untuk anak SD, waktu penyelesaiannya 25 menit, bukan 15 menit seperti yang dipaparkan barusan.
Kenapa dia berdusta? Mungkin karena ingin memberi tambahan tantangan pada kelompok yang hendak main. Atau dia tidak punya ide lain untuk lebih menyemangati peserta sebelum main, entahlah.

5.       Semua Luar Biasa
Dalam suatu sesi penutupan outbound, seorang fasilitator berkata di hadapan peserta, “Akhirnya kita akan mengakhiri outbound hari ini. Saya melihat semua kelompok sudah bermain sangat bagus, walau akhirnya hanya satu yang akhirnya menjadi pemenang, namun bagi saya, semua adalah pemenang,” peserta pun bergemuruh dalam tepuk tangan. Lalu sang fasilitator melanjutkan, ”Dalam tiap permainan, saya melihat bahwa kerjasama sudah terjalin dengan sangat baik, kompak. Komunikasi antar pesertapun sudah berjalan dengan efektif. Saya juga mengamati bahwa daya juang teman-teman dalam menyelesaikan outbound sungguh mengagumkan, luar biasa…” peserta pun kembali menenggelamkan diri dalam tepuk tangan kebanggan. Sang fasilitator tak kalah bangganya, sehingga melanjutkan puja pujinya pada peserta; bla bla bla….
Padahal, padahal nih, sang fasilitator mendapati bahwa tidak semua kelompok peserta menjalin kerjasama dan komunikasi dengan baik, bahkan beberapa kelompok malah gagal menyelesaikan permainan. Sang fasilitator mendapati pula kelompok yang justru menyerah di tengah permainan karena capek atau putus asa. Pendeknya, sebenarnya dinamika outbound tersebut biasa-biasa saja, ada kelompok yang bagus, ada yang kurang maksimal, dan ya biasa-biasa saja lah secara statistik teknis permainan.
Tetapi kenapa sang fasilitator mengatakan bahwa semuanya sangat bagus, Luar biasa semua…? Coba tanya kenapa…

6.       Ah, Payah
Sebenarnya, dinamika peserta dalam suatu outbound dikategorikan standar. Ada kelompok yang pencapaiannya sangat bagus, ada yang lumayan bagus, namun ada pula yang biasa-biasa saja. Namun, dalam pemaknaan proses di akhir outbound, sang fasilitator berkata. “Sebenarnya permainan-permainan tadi itu mudah sekali, tapi kenapa ya masih ada peserta yang gagal menyelesaikannya?” peserta yang mendengarnya pun jadi senyap. “Saya lihat, strategi teman-teman tadi kurang jitu, apalagi banyak yang kurang kompak, malah ada beberapa yang malah berdebat terus. Pantas saja nilainya kecil-kecil.” Peserta makin senyap sementara sang fasilitator makin berapi-api “menistakan” pencapaian peserta. Pendek kata, yang dia bahas adalah sebagian kecil proses yang menurutnya belum maksimal; sementara pengalaman-pengalaman keberhasilan yang justru dialami sebagian besar peserta malah seolah diabaikan.
Dan akhirnya, ketidakobyektifan paparannya ditutup dengan motivasi ala dia, “Nah, dalam outbound ini kita sudah belajar dari banyak kesalahan. Semoga nanti setelah kembali ke tempat kerja, teman-teman bisa memerbaikinya sehingga kinerjanya makin bagus.”

7.       Dukun
“Tadi ada kelompok yang sempat tercebur saat main rakit,” demikian seorang fasilitator memberi evaluasi saat akhir suatu outbound. Lalu dia melanjutkan paparan tentang pentingnya sebuah perhitungan dan koordinasi, khususnya dalam konteks permainan rakit. Peserta menyimak dengan hikmat, sambil bertanya-tanya dalam hati, “Wah, kelompok siapa nih yang tadi kecebur?”
Sang Fasilitator lalu melanjutkan, “Dalam permainan pipa bocor, tadi ada juga kelompok yang sangat luar biasa, bisa mengeluarkan 20 bola, hebat,” Peserta masih menyimak dengan takjub sambil bertanya-tanya dalam hati “Wah, kelompok siapa tuh yang hebat begitu?” sementara sang fasilitator berceramah tentang betapa kerjasama yang baik bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Keesokan harinya, di kantor, peserta saling bertanya, kelompok siapa yang kecebur saat main rakit, ternyata nggak ada tuh… Diselidiki juga, kelompok mana yang bisa ngeluarkan 20 bola dalam permainan pipa bocor; ternyata nggak ada juga, karena rata-rata hanya mengeluarkan 7 bola. Nah, berarti si fasilitator berdusta dong. Tapi, penjelasannya tentang pentingnya perhitungan, koordinasi, kerjasama, komunikasi dan lain-lain itu benar dan menarik sih, bermanfaat. Tapi yang tetap menjadi misteri itu, siapa sih yang sebenarnya kecebur? Coba tanya tuh sang fasilitator.
Fasilitator pasti tidak melihat semua proses peserta dalam tiap lokasi permainan, apalagi jika jaraknya berjauhan. Memang dia sudah sering outbound dengan permainan yang sama, dan yang terjadi juga lebih kurang sama. Tetapi menyatakan sesuatu yang tidak terjadi, tentu sebuah kedustaan, pun itu maksudnya dijadikan pintu masuk untuk sebuah pemaknaan bagi peserta. Emang dukun, bisa meramal atau menerawang yang nggak kelihatan?


Nah, itu tadi 7 dusta yang kadang dilakukan fasilitator outbound demi menjaga suasana atau (seolah-olah) ketercapaian suatu proses.
Namun yang jelas, instruktur/ fasilitator outbound itu adalah profesi yang menarik, yang menuntut penguasaan experiential learning. Banyak hal yang perlu dipelajari dan dipraktikkan sebelum kita bisa memfasilitasi outbound dengan elegan, tanpa harus menyampaikan sesuatu yang mengandung dusta.
Akhirnya, jika ada yang belum yakin dengan 7 kedustaan fasilitator outbound, sebaiknya, jangan langsung percaya ya, karena siapa tahu tulisan ini juga mengandung dusta. Nah, lo…

Palembang, 27 Nopember 2016.
Agustinus Susanta, Fasilitator Utama


Sabtu, 30 April 2016

ARSITEKTUR EXPERIENTIAL LEARNING



5 minggu terakhir ini, saya “terjerumus” lagi dalam dunia arsitektur praktis sebagai seorang arsitek; peran yang praktis saya tinggalkan dalam 5 tahun terakhir. Lha apa emangnya yang saya praktikkan, sebagai seorang sarjana arsitektur dalam 5 tahun terakhir ini? Ya, praktik sebagai seorang FASEL, alias Fasilitator Experiential Learning. Keduanya adalah sebuah profesi, baik Arsitek maupun Fasel.  Kenapa bisa begitu? Dan apakah ada hubungan antara arsitek dan Fasel? Oh, agak panjang ceritanya, saya ceritakan sekarang yha, eng ing engggg….

Arsitek adalah profesi yang secara umum dipahami sebagai seorang yang merancang/ mendisain sebuah obyek arsitektur, yang mayoritas adalah bangunan/ gedung. Obyek arsitektur selain bangunan misalnya taman, monumen, dan bentang alam/ landscape. Apakah arsitek juga membangun? Oh, tidak sepenuhnya begitu, peran utama arsitek selesai ketika rancangan/ disain sudah jadi, biasanya dalam bentuk gambar. Memang menjadi sebuah kelaziman, bahwa ketika pembangunan, arsitek tetap dilibatkan sebagai arsitek atau pengawas disain. Khan, dia yang merancang, wajar dong jika dalam eksekusi rancangannya dia terlibat untuk memastikan bahwa apa yang dirancang dan dituangkan dalam bentuk gambar memang bisa dibangun sesuai yang dipikirkannya.

Dalam praktiknya, arsitek lazim bekerjasama dengan pihak lain, misalnya insinyur sipil, kontraktor, insinyur utilitas, ahli taman, ahli listrik, dan sebagainya.  

Nah, sekarang cerita dikit tentang Fasel, profesi apa pula itu? Kita harus memahamkan diri lebih dahulu dengan experiential learning, sebelum mengupas tentang fasilitatornya. Experiential learning adalah metode pembelajaran menggunakan pengalaman yang dimaknai. Konteks metode ini sering digunakan dalam suatu pelatihan pengembangan diri. Suatu “pengalaman” biasanya dirancang sedemikian rupa dalam jangka waktu tertentu (misalnya 5 hari 4 malam) untuk di-alam-kan pada peserta pelatihan/ pengembangan diri. Nah, berdasarkan pengalaman tersebut, peserta distimulus untuk mengambil nilai-nilai dan manfaatnya untuk digunakan dalam memerbaiki kualitas hidupnya. Ituah gambaran sederhana tentang experiential learning, atau “belajar melalui pengalaman.”

Lalu apa itu Fasel? Fasel adalah kependekan dari “fasilitator experiential learning,” dia adalah orang yang memfasilitasi/ memandu peserta dalam proses pelaksanaan experiential learning. Fasel terlibat mulai dari merancang sampai melaksanakan program. Dalam tahap perancangan, seorang Fasel membuat alur “pengalaman” apa yang akan ditimpakan pada peserta. Apa saja contoh aktivitas yang bisa digunakan dalam experiential learning?  ooo banyak, misalnya berkemah, hiking, berlayar, mendaki gunung, berkuda, permainan, simulasi, mencari jejak, arung jeram, mendaki gunung, dan sebagainya.

Bagaimana segala aktivitas tadi bisa memberikan nilai lebih bagi pelakunya sehingga bisa menimba manfaat? Nah, itulah salah satu ilmu yang perlu dikuasai oleh seseorang yang berprofesi sebagai Fasel. Dalam praktik, seorang Fasel bisa bekerjasama dengan orang dengan keahlian/profesi lainnya, disesuaikan dengan rancangan pengalaman yang disusunnya; misalnya dengan operator arung jeram, pemandu penyelaman, pelatih bekuda, operator high rope, dan sebagainya.

Saya kira cukup yha, pengantar tentang profesi Arsitek dan Fasel, kini saatnya menyandingkan keduanya.

3 Pilar Arsitektur

Ada 3 hal yang integral berkelindan dalam dunia arsitektur, yaitu: Fungsi, Kekuatan, dan Keindahan. 3 hal ini adalah prinsip utama ilmu arsitektur. Segala hal mengenai arsitektur berakar dari 3 hal ini.

FUNGSI

Jelas, bahwa obyek arsitektur dirancang (dan dibangun) untuk mewadahi fungsi tertentu. Misalnya, “rumah” dibuat untuk mewadahi fungsi bermukim. Karena fungsi yang sudah jelas itu, maka ruang-ruang di dalam rumah dibuat supaya bisa mewadahi aktivitas bermukim; misalnya ruang tidur untuk tempat tidur, ruang makan untuk tempat makan, kamar mandi untuk mandi, dan sebagainya. Karena fungsi rumah berbeda dengan, misalnya gedung olahraga, maka tentu saja tata ruang rumah akan berbeda dengan gedung olahraga. Arsitektur yang mengabaikan fungsi, bisa dikatakan sebagai obyek abal-abal, misalnya disain rumah yang diperuntukkan sebagai tempat olahraga, atau disain gedung olahraga yang justru digunakan untuk rumah sakit.

Jadi, pertama-tama arsitek akan berkarya membuat obyek arsitektur berdasarkan fungsi yang dikehendaki pemilik rancangan. Ada adagium terkenal tentang “fungsi” dalam dunia arsitektur, yaitu “bentuk mengikuti fungsi.”

KEKUATAN

Sering juga disebut sebagai faktor struktur, kekuatan fisik adalah keniscayaan dalam perancangan obyek arsitektur. Bisa membayangkan sebuah rumah sakit 6 lantai yang dirancang tanpa menggunakan fondasi? Hmmm…. bisa jadi, rancangan tata ruangnya sudah memenuhi kaidah “fungsi,” sebagai rumah sakit; misalnya ada ruang perawatan, lobby, ruang operasi, dapur umum, ruang linen, kamar mayat, dan sebagainya. Namun tanpa ada perhitungan kekuatan, mustahillah rancangan tersebut bisa dibangun. Pada akhirnya disain seperti itu akan jadi “sampah arsitektur”

Contoh sebaliknya; sebuah rancangan pos penjagaan keamanan kompleks perumahan, ukuran 2,5 x 2 meter dibangun dengan fondasi cakar ayam dan 6 tiang dari beton bertulang ukuran 40x40 cm. Bisakah disain semacam itu dibangun? Ooo tentu bisa, tetapi itu khan amat sangat lebay, cenderung menuju kemustahilan. Kenapa harus membuat struktur sedemikian “gigantik” untuk sebuah pos  seluas 5 meter persegi, kalau masih bisa menggunakan 4 tiang praktis beton bertulang seukuran 15x15 cm?

Ya, faktor kekuatan/ struktur mutlak diperlukan supaya sebuah obyek arsitektur bisa “berdiri” dan kokoh digunakan. Sehebat apa pun rancangan tata ruang sebuah bangunan, mestinya itu dibuat supaya bisa berdiri/ dibangun khan?


ESTETIKA

Bisakah sebuah bangunan, didirikan hanya berdasarkan pemenuhan faktor “fungsi” dan “struktur” saja? Pada dasarnya bisa, namun ketika sebuah obyek arsitektur terwujud, otomatis, mau tak mau ada unsur estetika yang mengemuka. Estetika atau keindahan merupakan pilar ketiga yang menopang ilmu arsitektur. Sesederhana apa pun sebuah obyek arsitektur, maka sudah terpancar unsur keindahan di sana, bahkan ketika sisi estetika tidak dipikirkan oleh perancanganya. Nah, ketika sedari awal sisi estetika dipikirkan dalam perancangan obyek arsitektur, hasilnya tentu lebih bernas, dan itulah proses yang benar.

Secara kasat mata, unsur keindahan tampil melalui gaya arsitektur; misalnya sekedar menyebut contoh, gaya tradisional, modern, art deco, minimalis, dan sebagainya. Unsur keindahan pun terbentuk melalui perbandingan/ skala, komposisi warna, pilihan material, dan aneka aksesoris/ ornamen arsitektur. “Keindahan” adalah soal rasa perasaan kita ketika melihat/ menikmati sebuah karya arsitektur. Sebagian besar orang susah mendefinisikan bagaimana sebuah keindahan terpancar dalam suatu obyek arsitektur, namun jauh lebih mudah merasakan apakah sebuah bangunan itu tampak indah, atau sebaliknya, kacau.

Apakah kita mau menyekolahkan anak kita di Taman Kanak-kanak yang bangunannya sudah fungsional, strukturnya kuat, namun dinding kelasnya dicat hitam dengan eksyen percikan-percikan dan leleran darah, serta aksesoris tengkorak? Hiiii…. sudah jauh dari indah, mengerikan pula, emangnya rumah hantu? Ya, keindahan bagi sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat belajar anak-anak usia TK, diidentikkan dengan warna-warna yang cerah, kalau perlu warna-warni, dengan hiasan gambar-gambar yang menginsipirasi si anak.

Unsur estetika atau keindahan dalam dunia arsitektur otomatis melekat dalam sebuah obyek arsitektur, entah itu melalui perencanaan atau tidak. Unsur inilah yang secara kasatmata memberi nilai rasa terhadap keberadaan obyek arsitektur.

Nah, itu tadi sekilas (banget) tentang 3 hal yang menjadi akar dunia perarsitekturan. Dalam menilai keberhasilan sebuah obyek arsitektur, kita cukup memilahnya dalam 3 hal tadi, apakah berfungsi sesuai peruntukannya, apakah strukturnya mantap dan proporsional, dan terakhir apakah keindahannya menyamankan penggunanya. Ketika ketiga hal tadi terpenuhi, maka cukuplah bahwa obyek arsitektur itu dinyatakan baik atau berhasil.

3 Pilar Experiential Learning  

Kini kita masuk ke dunia experiential learning, yang ternyata mengandung 3 hal integral yang menopangnya, yaitu sisi: Fisik, Intelektual,dan Emosi.

FISIK

Apa mau, kita mengikutkan karyawan kita dalam program pelatihan peningkatan kerjasama, namun selama 4 hari hanya diisi ceramah saja? Pelatihnya terkenal lho, Profesor Anu, materinya sangat bagus, hasil riset tahun terakhir, kelasnya oke, dilengkapi sarana audiovisual tercanggih. Mau? Ya terserah sih…. , kalau saya sih nggak mau. Kenapa? Karena saya mengharapkan setelah pelatihan, para karyawan betul-betul bisa meningkat kerjasamanya, bukan sekedar “pengetahuan/ ilmu bekerjasama,” dan saya meyakini itu bisa ditempuh dengan latihan-latihan bekerjasama, bukan sekedar mendengarkan teori dan ceramah tentang kerjasama yang baik. Contoh pelatihan tadi bukannya jelek, namun itu bukanlah metode tertepat jika tujuannya adalah peningkatan kerjasama.

Kegiatan fisikal, psikomotorik, atau pergerakan adalah salah satu unsur utama dalam sebuah experiential learning. Ya, pembentuk utama dalam experiential learning adalah pengalaman yang melibatkan fisik atau tenaga peserta, misalnya membuat sesuatu, berjalan, berenang, berlari, menari, berkemah, menyeberangi danau, dan sebagainya. Mengambil contoh sebelumnya, jika bertujuan meningkatkan kerjasama, maka secara fisik, yang perlu dilakukan peserta pelatihan adalah aktivitas yang memang bisa memerlihatkan dinamika bekerjasama antarpeserta. Banyak, kok, permainan yang bertujuan mengembangkan kerjasama antarpemain, dan itu menjadi salah satu pilihan aktivitas fisiknya. Apapun hasil dari pengalaman fisik, itu bisa dilihat, dirasa, dan dianalisis/ dinilai bersama untuk diambil maknanya. Tanpa aktivitas fisik, experiential learning jadi absurd, dan pada akhirnya kita geser itu bukan lagi aktivitas experiential learning.


INTELEKTUAL

Sisi intelektual merupakan pengetahuan atau pemikiran yang ingin dipahamkan ketika seseorang mengikuti proses experiential learning. Contoh sederhananya begini, sebuah perusahaan ingin meningkatkan kualitas kerjasama antarkaryawannya, menggunakan pelatihan bermetode experiential learning. Maka jelaslah bahwa maksud experiential learning dalam konteks tersebut ditujukan untuk meningkatkan  kualitas kerjasama peserta. Dalam proses pelatihan, peserta dianimasi sedemikian rupa sehingga konten-konten bagaimana meningkatkan kerjasama (dilakukan dan) direnungkan/dipikirkan oleh peserta.

Proses berpikir atau mengolah pengetahuan (baru) mutlak diperlukan dalam experiential learning karena tanpa proses ini, susah bagi peserta untuk memaknai nilai-nilai dari pengalaman yang sudah dilaluinya. Dalam contoh pengalaman yang dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama, maka perlu dibuat sebuah dinamika/ pengalaman yang menuntut pengolahan pengetahuan/ sisi intelektual peserta. Kita perlu membuat skenario jika sebuah pengalaman tanpa dilandasi olah intelektual peserta, maka hasilnya bisa beda jika menggunakan olah “pengetahuan”. Ini bukan tentang gagal atau keberhasilan fisik semata, yha, namun tentang memertanggungjawabkan modal pengetahuan peserta dalam mengarungi pengalaman (baru). Bisa jadi lho, justru peserta yang secara intelektual dipandang pandai, justru “kalah” dalam hal bekerjasama dari peserta dari kalangan berkepintaran biasa-biasa saja.

EMOSI

Apa pun aktivitas dalam program experiential learning; hal itu menimbulkan dampak psikologis bagi pelakunya, entah senang, sedih, gembira, biasa-buiasa saja, membosankan, terkejut, heran, tersanjung, tertekan, dan sebagainya. Experiential learning yang baik harus menyertakan faktor “emosi” ini, karena tanpa unsur emosi, pengalaman akan terasa biasa saja, datar, tanpa sensasi, dan pada akhirnya tidak membawa kesan bagi pelakunya. Nah, kalau si pelaku sendiri kurang atau tidak terkesan, bagaimana mau mengangkat pengalaman tersebut sebagai sebuah pembelajaran? Berat, khan?

Sisi emosional dalam experiential learning memang relatif tidak terlihat secara fisik, namun bisa tercermin dalam suasana selama proses. Dengan ilmu yang bisa dipelajari saat akan menjadi fasel, maka kita bisa memprediksi dengan aktivitas fisik tertentu, maka akan timbul emosi-emosi tertentu dari peserta, dan itu justru yang diharapkan mendukung dalam proses pemaknaan pengalaman. Namun, bisa jadi kekacauanlah yang terjadi gara-gara kita tak memerhitungkan faktor emosi peserta. Kalau tidak karena tanpa greget, sebaliknya emosi peserta tak terkendali sehingga menutup hati untuk diajak memaknai pengalaman. Sama-sama kacau khan?

Bersanding

Itu tadi penjelasan singkat tentang dunia arsitektur dengan experiential learning. Ternyata keduanya sama-sama didasari tiga hal saja yang fundamental. Prinsip dasar dalam berarsitektur adalah merancang dan membangun (hanya) dengan 3 tolok ukur saja, yaitu: Fungsi, Kekuatan, dan Estetika. Prinsip dasar ber-experiential learning juga (hanya) mengolah 3 unsur saja, yaitu sisi: Fisik, Intelektual, dan Emosi, sama-sama tiga deh, mantaph… lha, gitu aja kok mantap sih. Tentu akan lebih mantap kalau bisa kita sandingkan keenam hal tersebut, kita coba yach.

Aspek “Fungsi” dalam dunia arsitektur mirip dengan unsur “Fisik” dalam experiential learning. Dalam arsitektur, fungsi menjelaskan apa saja aktivitas yang hendak dilakukan, dan itu akan menurunkan apa saja ruang-ruang yang diperlukan. Jika dalam sebuah bangunan misalnya ada ruang lobby, kantor, dapur, dan gudang, itu sudah jelas fungsinya. Arsitek yang baik tentu bisa mengorganisir perletakan berbagai ruang tadi sehingga membuat nyaman penggunanya.  Aktivitas “Fisik” dalam experiential learning merupakan proses yang kasat mata, dan itu menjadi fondasi yang jelas akan pengalaman-pengalaman si pelaku. Misalnya ada kegiatan mendirikan tenda, berkemah, berkano, dan memancing; jelas khan apa kegiatannya? Nah, Fasel yang baik tentu bisa mengalurkan kapan saja berbagai kegiatan tadi dikronologiskan sehingga ketika dimaknai bisa nyambung.


Sisi “Kekuatan” dalam arsitektur, bisa disamakan dengan sisi “intelektual” dalam experiential learning. Seefektif dan seindah apapun rancangan bangunan, toh harus bisa didirikan, dan itu memerlukan perhitungan struktur/ kekuatan. Mirip dengan itu, melakukan perbuatan/ pengalaman tanpa ada pemikiran, analisis, atau perhitungan, itu jauh dari mengesankan karena dipastikan tidak akan menimbulkan “resiko” bagi pelakunya. Tanpa pengolahan sisi intelektual, experiential learning bagaikan bangunan yang rapuh karena strukturnya tidak kokoh. Seseorang kelihatannya sibuk menjalankan berbagai kegiatan fisik, tetapi itu tidak berdasar pada sesuatu, dan parahnya tidak disasarkan pada sesuatu pula, gawaaattt…

Akhirnya, sisi “Keindahan” dalam arsitektur bolehlah dianalogikan dengan sisi “Emosi” dalam experiential learning. Merancang bangunan agar tampak indah dan memberi sumbangan (setidaknya kontribusi visual) bagi lingkungannya, mirip dengan sisi psikologis yang perlu diolah sedemikian rupa, sehingga pada akhirnya, dengan suasana hati yang mendukung, muatan experiential learning bisa terserap maksimal. Fasel yang mumpuni bisa merancang dan mengeksekusi experiential learning dari aktivitas yang sederhana; yang tentunya bisa menyentuh sisi emosi si pelaku. Hal itu setali tiga uang dengan seorang arsitek handal yang bisa menyiratkan aura keindahan dari komposisi atau material bangunan  yang sederhana. Sebaliknya, Fasel yang sontoloyo bisa saja gagal menyampaikan makna pada peserta akan sebuah aktivitas yang rumit, dan mahal; mirip arsitek yang disainnya kurang estetis walau menggunakan material yang bagus dan mahal harganya.

Yakin nih, Apakah memang hanya 3 hal yang melingkupi arsitektur dan experiential learning? Kalau halnya tentu banyak, tetapi sepengetahuan saya, semuanya bisa ditarik dalam hanya 3 hal itu saja. Yang perlu dicamkan adalah walau semua hanya berakar dalam 3 hal saja, namun ilmu dan kompetensi yang perlu dikuasai agar menjadi Arsitek maupun Fasel yang lihai sangatlah banyak; percayalah. Catatan saya edisi berikutnya akan menguak lebih lanjut bahwa dunia arsitektur itu makin mirip dengan dunia experiential learning; seru!

Arsitektur yang baik bisa diproses oleh arsitek yang kompeten; yang secara sederhana berhasil menggabungkan sisi fungsi, kekuatan, dan estetika pada obyek yang dirancangnya. Demikian juga proses experiential learning yang maksimal hanya bisa difasilitasi oleh Fasel yang juga kompeten, yang bisa meramu sisi fisik, intelektual, dan emosional peserta sehingga memaksimalkan proses pembelajaran.

Palembang 1 Mei 2016
Agustinus Susanta;

Arsitek sejak 1999, Fasel sejak 2001.