yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Profil Fasel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Fasel. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Mei 2017

Hobby Makes Money


Itulah tema yang diusung AELI saat tampil dalam ajang IIOUTFEST di Senayan Jakarta pada Awal April 2017 lalu. Saya sempat datang ke acara itu; pertama sebagai simpatisan AELI yang kebetulan ketua DPD Sumsel, kedua, karena mau isi acara bincang-bincang bertema tersebut, ketiga, sekalian mau liat barang-barang pameran, siapa tahu ada yang sesuai kebutuhan dan berharga miring, jadi bisa dibawa pulang. Tema tersebut sangat menarik; bagaimana hobi bisa menghasilkan uang. Bagaimana cobaaa…? Saking menariknya, saya berencana membuat sebuah tulisan untuk menyambut momen itu, namun apa lacur, baru sekarang tulisan itu tersusun. Saya sih yakin, tema yang provokatif tersebut tak lekang dimakan jaman untuk dikonsumsi para pegiat experiential learning atau outbound di tanah air. Ya, membicarakan hobi yang lalu bisa menghasilkan duit, siapa sih yang nggak pengen?
"Hobby Makes Money," bersama sebagian kecil relasi yang sadar kompetensi

Salah satu pembicara dalam talkshow di panggung IIOUTFEST tersebut , Mas Enda Mulyanto berujar, “Janganlah kita yang mencari uang, namun biarlah uang yang mencari kita,” sangat enak kedengarannya, namun jika dipikir lebih lanjut, apa iya bisa ya. Mas Mul--panggilan Enda Mulyanto-- , tentu punya sekian banyak pengalaman hidup yang menimpa dan menempanya, sehingga bisa menyimpulkan bahwa dalam dunia outbound yang awalnya adalah hobi, uang bisa datang pada kita. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku.

Tulisan ini akan mengupas bagaimana hobby (memfasilitasi outbound atau experiential learning ) bisa mendatangkan money (uang) bagi kita para pelakunya. Saya modifikasi sedikit tagline tersebut menjadi “Dari Hobi menuju Profesi yang Merejeki,” intinya sih nyaris sama, hanya istilah rejeki tidak langsung berkonotasi dengan uang; ya, uang hanyalah salah satu konsekuensi yang mengikutinya saja.

Kita juga perlu membedakan antara hobi dan pekerjaan, sehingga tulisan ini jangan dibaca seperti tutorial bekerja yang memang ditargetkan menghasilkan sesuatu secara sistematis. Mengutip kamus, Hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Tujuan hobi adalah untuk memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan. Terdapat berbagai macam jenis hobi seperti mengumpulan sesuatu/ koleksi, membuat, memperbaiki, bermain, dan pendidikan dewasa. Jadi, makin jelas ya, aktivitas hobi yang saya sebut-sebut di sini bukanlah aktivitas seperti kita bekerja di perusahaan.

Bagaimana hobi para pelaku outbound—selanjutnya saya sebut sebagai outbounder—bisa menjadi sebuah profesi, yang lalu mendatangkan rejeki? Ternyata syaratnya hanya ada 3 SI, yaitu: Konsinstensi, Kompetensi, dan Relasi. Saya akan memaparkan 3 SI tersebut dalam kacamata pengalaman saya sendiri untuk menghindari kesan menggurui. Apalagi dunia outbound itu lekat dengan experiential learning, atau belajar dari pengalaman. Ijinkan saya berbagi pengalaman menghobii outbound selama lebih dari 14 tahun sampai kini malah menjadi profesi yang mendatangkan rejeki pada kehidupan dan penghidupan saya. Ceritanya agak panjang nggak apa-apa ya? Yaaa…

Konsistensi

Saya merantau ke Palembang sejak 2001, dan bekerja sebagai dosen arsitektur di salah satu perguruan tinggi di ibu kota provinsi Sumatera Selatan tersebut. Namanya, dosen, ya tiap hari ketemu dengan mahasiswa, dan itu selalu menggairahkan. Yang pernah merasakan bangku kuliah tahulah ya gimana dinamisnya kehidupan kampus, mulai dari urusan akademik sampai aneka kegiatan kemahasiswaannya. Sebagai dosen muda yang idealis, boleh dikatakan aneka kegiatan tridharma perguruan tinggi sudah saya lakoni, termasuk mengadakan berbagai penelitian, sampai diseminarkan di beberapa kampus ternama di Pulau Jawa. Saat itu pekerjaan saya sebagai dosen, dan belum ada hobi yang spesifik selain membaca dan main sepak bola.

Saya senang mengajar, sehingga panggilan mengajar dan mengembangkan orang lain rasanya lebih tersalurkan dengan berinteraksi di lingkup yang lebih luas dari sekedar pagar kampus. Maka saya mulai terlibat dalam komunitas sosial dan kerohanian.
Kenangan pertama "outbound" pada 28-30 Juni 2003
Tahun 2003 saya begabung dalam tim yang diminta memfasilitasi pertemuan 3 hari 2 malam di Kota Curup, Bengkulu, berpeserta 250an orang muda. Saat itu ada acara pemberian materi kerjasama, yang lalu saya rubah formatnya menjadi lintas alam. Panitia sih setuju-setuju saja, lha wong kita yang diminta ngisi, kok, he he he… survey di lokasi yang berjarak sekitar 10 jam perjalanan darat dari Palembang tersebut dilakukan sekali. Singkat cerita, kegiatan lintas alam berlangsung sukses dari pagi hingga sore hari. Persiapannya sungguh menguras energi; maklum itu kegiatan pertama kali kami berformat outdoor, atau yang lalu saya kenal dengan nama outbound.

Berbekal keberhasilan membuat “outbound” tahun sebelumnya, pada tahun 2004, saya menggagas juga kegiatan outbound pada pertemuan dalam skala yang lebih besar, yaitu 700an orang. Waktu outboundpun jadi 2 hari dari total waktu 4 hari kegiatan pertemuan yang berformat kemping tersebut. Apa hasilnya? Outbound hari pertama lumayan sukses, tetapi outbound hari kedua berantakan karena saya keliru memerhitungkan durasi terhadap lokasi serta aktivitasnya. Jika ada yang penasaran bagaimana berantakannya outbound tersebut, semoga kali lain sempat saya tuliskan pengalaman serunya, he he he…


Salah satu pos dalam outbound tahun 2004

Kegiatan games komersil pertama saya dilakoki pada akhir 2004. Disebut komersial karena saat itu sebagai fasilitator freelance yang direkrut sebuah lembaga pembelajaran, saya mendapat honor. Lanjut, outbound komersial saya selama 4 hari berpeserta para manager perusahaan terjadi pada tahun 2005 dengan lokasi di Sindang Jati - Rejang Lebong – Bengkulu. Dengan persiapan matang mengusung tema “How to Survive” outbound training pun berlangsung lancar. Di titik ini saya masih melihat bahwa outbound yang kami lakukan masih merupakan hobi, walau sudah mendatangkan pemasukan (uang)
Pelatihan pertama, bahkan nulis tema pun masih keliru, hehehe...
Sejak itu, kabar bahwa ada tim outbound di Palembang mulai menyeruak. Satu demi dua perusahaan mulai memanggil tim outbound kami  untuk memfasilitasi aneka outbound bagi karyawannya. Riwayat pendampingan outbound saya agak panjang, boleh diintip di sini saja Ada yang sekedar mau fun games saja, namun ada juga yang bersifat pelatihan, bahkan pengembangan karakter. Format keterlibatannyapun beragam, misalnya hanya ngisi beberapa permainan saja, ada yang sifatnya  mbantu teman dengan “benderanya,”, ada yang atas nama kampus, namun ada juga yang tanpa nama lembaga walau yang didampingi perusahaan. Pokoknya macem-macem lah formatnya.

Kerjasama untuk membuat lembaga outbound pun pernah beberapa kali dilaksanakan. Ada yang bertahan dengan 2 event saja, ada juga yang sampai belasan kali saja buat acara. Bahkan ada juga yang lembaganya kini sudah tidak jelas karena para pendirinya punya kesibukan lain. Ada yang sifatnya sosial/ kerohanian, namun banyak pula yang komersil. 12 September 2012 saya mulai menyeriusi dunia outbound ini dengan membuat sendiri lembaga pembelajaran bernama Sriwijaya EdFunture. Pun begitu, saya masih sering beroperasi dengan berbagai bendera juga. Yach, namanya juga hobi, dan saat itu belum jadi profesi, lho. Pun pula, pekerjaan resmi saya masih sebagai dosen.

Pada tahun 2006-2009 saya juga masuk dunia proyek dalam suatu perusahaan kontraktor, berstatus manager proyek. Jadi selain profesi utama sebagai, dosen, ada 2 lagi kegiatan saya, yaitu outbounder dan manager proyek. 2 tahun pertama, semua berjalan lancar, namun berikutnya, mulai terjadi benturan-benturan, terutama urusan alokasi waktu kegiatan. Akhirnya, dunia kontraktor saya istirahatkan, tetapi dunia outbound tetap saya geluti. Refleksi saya sih karena dunia kontraktor itu penuh perhitungan yang minim kreasi, sementara dunia outbound/ pelatihan bisa mengeksplorasi kreativitas, walau tetap dengan perhitungan. Intinya, berkarya sebagai outbounder lebih asyik daripada kontraktor, walau pemasukan dari kontraktor saat itu lebih menjanjikan daripada sekedar hobi outbound saya.
Outbound Departemen Hukum dan Ham Sumsel pada 16 Mei 2009; bersama tim outbound Sekolah Tinggi Teknik Musi, tempat saya mengajar. Lokasi juga di kampus Musi.


Tahun 2011, setelah 1 windu berkelindan dalam dunia outbound, 2 buku tentang outbound sudah saya tulis, dan diterbitkan secara nasional. Buku itu sebenarnya perwujudan kecintaan saya pada hobi outbound. Begitu banyak pengalaman sebagai outbounder yang sangat sayang jika tidak bisa dibagikan/ dicicipi oleh orang lain, apalagi yang punya hobi serupa. Niat utama saya buat buku tersebut adalah untuk berbagi pengalaman. Dalam perjalanan beberapa tahun berikutnya, buku kedua, ketiga, dan seterusnya juga berhasil saya tulis.

Saat saya mulai mengalami ada aliran rejeki pada hobi saya sebagai outbounder, membuat saya justru makin haus akan kedalaman dunia outbound. Pertanyaan yang menyeruak saat itu adalah, “Siapa sih, dedengkot outbound di Indonesia? Saya ingin belajar darinya.” Maklumlah, saya tahu outbound secara otodidak, coba-coba, praktik, dan lalu berkreasi lagi. Saya merasa sudah banyak kreativitas dalam dunia outbound yang saya buat, tetapi rasanya masih ada sesuatu yang misterius, yang lebih dahsyat dari sekedar kreasi. Apa itu? Itu juga yang lalu saya cari-cari.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba, pada 5-7 Maret 2012 saya ikut pelatihan Training of Trainer Bidang Kefasilitatoran (outbound) di Bogor. Saat itulah saya kenal dengan istilah experiential learning dan ternyata ada asosiasinya, yakni AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia). Kalo mau ngintip webnya ada di sini. Sungguh 3 hari yang mengesankan, ketemu teman-teman baru dari berbagai provinsi, dan yang paling penting, belajar lebih dalam tentang (teori) outbound dari para “pendekar”nya. Nah, pada bab selanjutnya kita akan masuk pada SI yang kedua, yaitu Kompetensi.

Kompetensi

Saat pelatihan kefasilitatoran, saya terhenyak mendapati kenyataan bahwa istilah outbound itu sebenarnya kecelakaan penyebutan istilah segala jenis pelatihan berbasis luar ruangan. Yaaaa… saya selama itu tahunya kegiatan semacam itu ya disebut outbound, peserta juga nggak bingung akan istilah itu, dan yang jelas, akibat istilah outbound tersebut, rejeki sudah mulai mengalir. Saya sih tidak ambil pusing dengan pengistilahan outbound, apalagi jika didikotomikan dengan istilah experiential learning. Bahwa ada kawan yang fanatik menolak istilah outbound, ya silakan, biasanya sih mereka itu justru bukan dapat rejeki dari situ, jadi vokalnya tinggi, he he he….

Ternyata, ilmu outbound adalah experiential learning, yang bahasa mudahnya belajar dari pengalaman. Sekedar contoh ilmunya nih. Untuk memaknakan sebuah pengalaman, itu ada 7 cara lho. Sebelumnya, saya hanya tahu satu saja, yaitu debriefing, atau dikenal dengan istilah refleksi. Untuk refleksi saja itu juga ada 5 urutannya supaya hasilnya efektif. Jadi, setelah tahu ilmu tersebut, jangan sampai deh, refleksi yang saya lakukan langsung dimulai dengan, “Jadi, apa manfaat permainan tadi bagi Bapak Ibu?” Apa artinya? Artinya, dalam kompetensi keilmuan experiential learning, khususnya mengenai pemaknaan pengalaman, pertanyaan tentang manfaat permainan itu ada di pertengahan proses, bukan di awal. Nah, sebelum saya tahu ilmunya, sepemahaman saya merefleksikan suatu permainan/ outbound itu ya hanya (langsung) tanya tentang manfaatnya.
Awal pengembangan kompetensi lewat TOT Kefasilitatoran


Setelah mengenal AELI Saya makin sadar, bahwa pemahaman saya akan tatacara outbound masih dangkal. Maka saya mulai mengikuti beberapa pelatihannya, yang saat itu diselenggarakan di Jawa.  Demi hobi, saya keluarkan investasi untuk menambah kompetensi, aliah ilmu pengetahuan tentang experiential learning nggak masalah sih.

Apakah ada pengaruh, ketika saya makin berkembang tatacara outboundnya? Ya, ada. Setidaknya saya tahu pendasaran sebuah skenario pelatihan berbasis experiential learning. Mungkin yang terjadi di lapangan hampir sama dengan masa lalu, namun setelah tahu ilmu experiential learning, saya mendasarkannya pada pendekatan keilmuan tertentu. Saya juga makin percaya diri dalam manjalankan hobi yang mulai mengarah pada profesi. Semua gara-gara saya terbuka untuk meningkatkan kompetensi. Perjumpaan dengan banyak “pendekar” outbound yang sarat ilmu dalam forum AELI, membuka wawasan bahwa outbound bisa “dijual” dengan harga (lebih) tinggi, namun tentu saja syarat dan ketentuan berlaku. Salah satunya ya outbound itu harus ada isinya, harus bernas, dan itu memerlukan kompetensi penyelenggara/ fasilitatornya.

Dalam perkembangannya, pada tahun 2013 pemerintah sudah menetapkan 9 kompetensi bagi para Fasel / pemandu outbound. Maka, siapa yang hobi bikin outbound dan tapi mau meningkatkan kompetensinya, sudah ada panduan yang bisa diikuti. Ya, hobi yang mau merejeki dalam format profesi tentu perlu ditunjang dengan peningkatan kompetensi. Kompetensi yang dimaksud mencakup urusan kefasilitatoran, maupun aspek penyelenggaraannya. Pada 2015, saya ikut Uji Kompetensi angkatan pertama dan Puji Tuhan, dapat sertifikasi kompetensi Fasel Tingkat Utama. Keberhasilan mendapatkan sertifikasi profesi menjadi penanda bahwa hobi yang saya seriusi sudah menjelma menjadi profesi.

Menjadi anggota AELI, bahkan jadi Ketua DPD Sumsel, membawa saya pada perjumpaan dengan banyak pegiat experiential learning se Indonesia. Banyak manfaat ketika saya bertambah teman dari dunia yang sama. Inilah nanti yang menjadi SI ketiga, yaitu RELASI. Ternyata faktor relasi atau jaringan pertemanan makin menderaskan keran rejeki hobi saya.

salah satu kostum tim outbound yang bersamanya saya mentransformasikan hobi jadi profesi

Relasi

Relasi yang dimaksud tidak sekedar hubungan dua belah pihak, atau malah yang berkonotasi kolusi. Relasi dalam konteks outbound adalah bagaimana kita sebagai outbounder terbuka menjalin relasi atau jaringan pertemanan dengan sesama fasilitator maupun stake holder experiential learning yang lain. Saya mulai merasakan kekuatan relasi ketika bergabung sebagai anggota AELI. Awalnya, jaringan terjalin ketika sama-sama mengikuti pelatihan, lalu makin terjalin dan meluas terutama dengan perkembangan teknologi media sosial.

Bermodalkan jaringan, ternyata ada unsur bisnis penyelenggaraan outbound yang bisa berkembang. Sekedar contoh nih, saya saya yang berdomisili di Palembang pernah mengadakan program pelatihan di Anyer, Banten berpeserta 100 orang. Saya khan asing dengan daerah Anyer, apalagi untuk bikin outbound serius di sana. Namun karena sudah punya teman-teman baru, terutama di sekitar Jakarta, maka jaringan merekalah yang membantu saya. Saya cukup menginformasikan konsep, lalu H min 1 saya sendirian datang dari Palembang, sementara para “relasi” saya sudah menyiapkan operasionalnya. Bayangkan jika saya tidak punya relasi di sekitar Jakarta, saya harus mempesawatkan paling tidak 5 orang fasilitator untuk mendukung outbound yang dimaksud.

Relasi juga membuat kita makin kaya akan khazanah ragam experiential learning. Hal ini makin terasa ketika pada tahun 2016 saya gabung dengan ELpreneur bentukan AELI. Berawal dari grup WA yang berisi para pemilik provider experiential learning/ outbound/ sejenisnya, sampai saat ini kami sudah kopi darat 2 kali. Kebetulan saya ikut semua, pertama di Anyer, kedua di Yogyakarta. Dalam ELPreneur, diskusi mengenai outbound/ experiential learning memang bernuansa bisnis alias rejeki. Sinergi adalah motto yang diusung para anggota ELP, padahal sebagian besar adalah pebisnis dengan bidang garapan yang sama. Keyakinan kami di grup tersebut, bahwa rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan, namun urusan peningkatan kompetensi dan berjejaring, itu adalah kehendak bebas para outbounder. Catatan lebih serius tentang ELPreneur semoga bisa dinikmati di tulisan berikutnya.
Brosur salah satu kegiatan hasil jalinan dengan relasi baru


Sekedar bercerita tentang manfaat saya ikut AELI/ ELPreneur misalnya saya pernah membeli tenda dome di Kota Malang saat ada discount besar. Bukan, bukan karena  yang jual itu sama-sama anggota AELI. Namun saat itu saya lagi kondangan dan iseng-iseng tanya di grup WA, siapa jual tenda dome. Eh, teman yang dari Jawa Timur malah bilang dia saat itu kebetulan ada di lokasi pameran (hari teakhir pula) yang njual tenda seperti  saya maksud. Akhirnya berbekal kepercayaan dan via telpon dan WA saja, teman saya tadi nalangi (maksudnya menghutangi, hehehe..) membelikan saya 18 tenda, sementara saya asyik makan di kondangan. Cerita setelahnya, seusai kondangan saya langsung transfer sih dana pembeliannya. Hebat, kan, kekuatan relasi yang berlandaskan kepercayaan?

Saya juga makin banyak menjalin relasi, tak hanya pada sesama outbounder, namun juga stakeholder experiential learning yang lain. Ada teman-teman dari lembaga yang biasa buat pelatihan/ seminar inhouse. Ada juga kenalan para pemilik/ pengelola tempat yang bisa untuk main outbound. Mulai kenal juga teman-teman marketing di beberapa hotel yang kadang pesertanya ingin outbound. Teman-teman (eks) Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) juga mulai diajak-ajak ketemuan ngobrolin tentang outbound. Tak lupa jaringan penyedia/ penjual perlengkapan outbound juga saya jadikan relasi. Banyak juga teman guru dan dosen kini makin tertarik ngobrol setelah beberapa kali diajak ketemuan untuk diskusi tentang experiential learning  dalam pendampingan siswa/ kemahasiswaan.
Salah satu manfaat unik dari relasi pernah saya catat di sini yaaa

Faktor yang membuat saya makin cepat memperluas relasi dan jaringan adalah AELI. Dalam naungan asosiasi tersebut, outbounder bisa lebih leluasa berwacana, mau dari sisi keilmuan, itu memang intinya, mau ngomongin bisnisnya bisa juga, obrolan tentang alternatif pendidikan bisa juga.

Hobi yang Memprofesi, lalu Merejeki

Saya lanjut sebentar riwayat keoutboundan saya. Pada tahun 2011, persis 10 tahun saya jadi dosen tetap, saya mengajukan diri menjadi dosen luar biasa/ dosen tidak tetap. Salah satu hal yang mendasarinya adalah saya ingin lebih serius mengembangkan hobi yang sudah merupa jadi profesi yang merejeki. Ternyata, menjadi dosen tetap yang berkewajiban “ngampus” seminggu 6 kali dari pagi ke siang, bahkan sore, secara waktu mulai sering bentrok dengan waktu pendampingan outbound. Walau sebagai dosen bisa saja saya mengganti jadwal kuliah, atau memberi tugas tambahan, namun hati kecil saya bilang itu tidak bagus. Kalo sekarang ini, ke kampus cukup satu atau dua kali seminggu hanya untuk ngajar saja. Dan di luar waktu tersebut, saya bisa makin bereksplorasi sebagai outbounder. Cerita selesai.

Nah, sudah saya bocorkan 3 SI yang menunjang hobi kita supaya bisa menjadi rejeki, yaitu: Konsistensi, Kompetensi, dan Relasi. Tiga hal tersebut mestinya saling terkait, walau mungkin tiap outbounder tidak sekaligus waktu berkelindannya; maklum, ini kan konteksnya hobi, bukan bekerja. Konsisten menjalankan hobi makin membuat kita sadar bahwa hobi juga perlu dikembangkan. Kompetensi dalam aspek-aspek kehobian kita membuat selalu ada penyegaran sekaligus peningkatan kapasitas kita sebagai pehobi. Mulai deh di titik ini, hobi bisa mulai mendatangkan rejeki alias pemasukan (uang). Jika konsistensi berhobi dan peningkatan kompetensi tentang hobi kita sudah dijalani, maka tak pelak, kita juga akan punya komunitas. Maka sangatlah aneh jika orang punya hobi tapi nggak punya komunitas/ jaringan sehobi. Inilah yang disebut dengan relasi. Semua hal terkait hobi kita akan direlasikan sehingga akan membentuk jaringan/ komunitas yang asyik saat kita menjalankan/ mengembangkan hobi kita, pun ketika sudah merupa jadi profesi dan mengalirkan rejeki
Mengembangkan hobi dalam bingkai kompetensi dalam relasi bersama Asosiasi Experiential Learning Indonesia DPD Sumatera Selatan
Demikianlah refleksi saya tentang hobi outbound yang menjelma jadi profesi serta mendatangkan rejeki bagi saya, cukup dengan 3 SI. Masih ada lagi sambungan catatan tentang bagaimana rejeki dalam berprofesi bisa makin deras mengisi pundi, yang ternyata mengandung 5 SI, yaitu: Koleksi, Variasi, Kolaborasi, Investasi, dan Promosi. Nantikan saja tulisannya ya…

Palembang, 2 Mei 2017

Agustinus Susanta

Kamis, 06 April 2017

3 Aliran Utama Outbound

Sering orang hanya menyebut , "Outbound" untuk menyebut kegiatan pelatihan-khususnya yang di luar ruangan- bagi perusahaan/ lembaga/ sekolahnya. 
Si Bangau pun bertanya, "Eh, kalian lagi Outbound, apa cuma main-main?"

Ya... bagi yang mendengarnya, bisa jadi yang dibayangkan sama dengan bayangan si penyebut, namun acap kali malah meleset. Dan jika meleset, hasilnya bisa berabe, lho. Sudah terlanjur "Outbound," namun hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Sudah capek, keluar budget banyak (ceritanya ke luar kota nih), eee... hasilnya jauh panggang dari api. Tapi, amit-amit, jangan sampai deh hal itu menimpa kita ya.

Jadi... ada apa dengan Outbound? kalo mau serius, kajiannya bisa kita simak di sini saja namun bagi yang nggak sabar sudah mau "outbound", ijinkan kami mengontekskan "outbound" dalam pilahan pengertian tentang program Rekreatif/ Gathering, Training/ Pelatihan, dan Pengembangan. Ya, secara umum, kita bisa mengategorikan "Outbound" dalam 3 aliran utama; setidaknya seperti ratusan program yang pernah kami fasilitasi.

Apa saja itu? yuk kita simak. 
Yuk...


Perihal
Rekreatif/ Gathering
Training/Pelatihan
Pengembangan Diri/ Developing
Prinsip pencapaian
Peserta mengalami perubahan perasaan/ feeling; misalnya menjadi lebih senang, akrab, gembira, segar, dan sebagainya
Peserta mengalami pengembangkan cara berpikir dan atau peningkatan ketrampilan/ pengetahuan tertentu.
Peserta mengalami pengembangkan/ perubahan mindset dan prilaku/ kebiasaan.
Contoh tema/ penekanan program
·         Kekompakan
·         Keakraban
·         Kompetisi
·         Kerjasama
·         Kreativitas,
·         Komunikasi,
·         Pemecahan masalah

·         Kepemimpinan,
·         Analisis,
·         Komunikasi,
·         Pemecahan masalah,
·         Pencapaian target,
·         Konsep diri/ kepribadian
Durasi
½ sampai 1 hari
minimal 2 hari 1 malam
minimal 3 hari 2 malam
Contoh aktivitas
Dinamika kelompok/ permainan/ games
·         Dinamika kelompok/ permainan/ games,
·         Dinamika individu,
·         Latihan/ penugasan,
·         Berkemah.
·         Dinamika kelompok// permainan/ games,
·         Dinamika individu,
·         Latihan/ penugasan,
·         Berkemah & memasak,
·         Refleksi/ pemaknaan (individu dan kelompok)
Fasilitas
Program, tempat, fasilitator, & konsumsi (1x makan, 2x coffee break)
Program, tempat (tenda), fasilitator, konsumsi.
Program, tempat (tenda), fasilitator, konsumsi.
Ideal jumlah peserta
30-150 orang
15-50
15-35

Semoga pengategorian tersebut bisa membantu kita untuk merumuskan kebutuhan program sesuai konteks perusahaan/ lembaga/ sekolah, sehingga program yang dilaksanakan bisa tepat sasaran. Intinya sih, kalo ada yang mau "otbound" harus diperjelas dahulu, maunya itu berformat rekreatif, training, atau developing? Walau permainan yang digunakan bisa sama, tetapi prinsip tujuannya pasti beda lho.

Nah, saat urusan tujuan "outbound" sudah jelas, kini kita perlu lembaga/ provider/ EO yang bisa memfasilitasinya. Tentunya lembaga yang kredibel dong, iya nggak... Jangan sampai kita terjerumus difasilitasi oleh lembaga yang bahkan tidak bisa membedakan tujuan "outbound yang rekreasi" dengan "outbound yang pelatihan."

Sebagai penggiat outbound sejak 2003, kami mereferensikan "SRIWIJAYA ED-FUN-TURE" sebagai lembaga yang tepat guna memfasilitasi "outbound." Mengusung muatan Education, Fun, dan Adventure; lembaga tersebut memunyai fasilitator yang berpengalaman memfasilitasi lebih dari 28 Ribu peserta, dalam lebih dari 400 event outbound berragam format. Catatan sepak terjangnya ya bisa dilihat-lihat di blog ini.

Sekedar contoh nih, misalnya kita mau bikin outbound di waterboom/ waterpark, bisaaa... boleh intip keseruannya di tempat basah ini

Untuk urusan pengembangan kompetensi, para fasilitator Sriwijaya EdFunTure juga selalu belajar, misalnya sekedar contoh, dengan refleksi Fasilitator yang Lebay

Dalam hal legalisasi dan jaringan provider-outbound se Indonesia,  Sriwijaya EdFunTure  sudah tergabung dalam AELI/ Asosiasi Experiential Learning Indonesia (info tentang asosiasi ini ada di sini, kumpulan provider outbound se Indonesia 

istirahat tempat, grak...

Yachhh... terlalu banyak untuk diceritakan perihal Sriwijaya EdFunTure ini, maka silakan ubek-ubek profilnya di blog ini. Kalau ingin kontak lebih lanjut, bisa hubungi saya di HP/WA 08127397697 ya...

Selamat ber-outbound.

Selasa, 16 April 2013

"Saat Ini Setiap Bulan Pasti Muncul Provider Outbound Baru," Lalu?

Sampul Buletin Forum AELI edisi April 2013




Nama lengkap
:
Agoes Susilo JP

Nama panggilan
:
Agoes

Tempat dan tanggal lahir
:
Solo, 25 Agustus 1969

Aktivitas keseharian
:
Trainer pengembangan SDM (Sumber daya Manusia) dan sedang menyukai membuka usaha ( Yoghurt KeBUNRAYA, Beras organik, susu sapi dan susu kambing dan jambu kristal serta nanas bogor, makanan khas Solo )

Hobi
:
Menjaga kesehatan (olah raga  dan yoga), menulis dan berkreatif



Status perkawinan
:
Menikah, sudah dikaruniani 2 orang putri.

Riwayat pendididkan
:
Dari SD sampai SMA di Solo
S-1 di IPB jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan

Karya
:
Telah menulis 4 buah buku
1)      Membaca Indonesia Sambil Senyam Senyum ( politik )
2)      Outbound itu Menyesatkan
3)      Rahasia Menjadi Outbound Trainer
4)      Outbound dari Titik Nol
Ketiga buku dengan tema outbound tersebut merupakan
Trilogi

Riwayat profesional
:
Menekuni pengembangan SDM dan outbound training Di P3SDM Bumi Arasy – Jakarta, dari tahun 1995 s.d. 1998
Menekuni pengembangan SDM  di Bina Cendekia, Tahun 1998 s.d. 2001
Berkarya di salah satu sister company salah satu Bank Swasta nasional, 2001 s.d. 2004
Kembali diminta join di Bumi Arasy 2004 s.d. 2007
Mendirikan Keep in Spirit Institute 2007 s.d. saat ini




Bagaimana cerita awal ketertarikan Mas Agoes dalam dunia experiential learning?


Cerita awal tertarik dalam dunia outbound, atau experiential learning  ya Mas.
Terus terang awalnya tidak mudeng atau tidak mengerti outbound training tersebut karena ada salah seorang teman yang “memaksa” untuk join di sebuah perusahaan konsultan SDM. Menurut temen karena saya dulunya pernah aktif di Resimen mahasiswa jadi kemungkinan besar bisa melakukan pekerjaan tersebut.
Pertama kali melihat peserta training memainkan game-biasa kami menyebutnya-Menjinakkan Bom,  rasanya aneh.  Kemudian malam harinya diminta presentasi tentang masalah baris berbaris, karena nantinya diminta ngisi materi tersebut. Waktu itu saya menerangkan tentang sejarah materi baris berbaris dengan mengambil cerita Sun Tzu........dari situ lah cerita tentang saya menekuni bidang experiential learning  berlanjut hingga hari ini.  Dan tanpa disadari ternyata saya lebih tertarik untuk mendalami bidang debrief / pemaknaan dari sebuah game yang dimainkan.
Saya pertama kali belajar menjadi logistic technical support, lalu asisten fasil/ fasilitator, lalu fasil, lalu diminta handel sebuah training yang satu batchnya berlangsung selama 1 bulan dengan total batchnya 12. Itulah pengalaman pertama yang “nyebur” di dunia experiential learning dan organize sebuah team.  Selanjutnya alhamdulillah diberikan kesempatan untuk handle beberpa perusahaan di negeri ini mulai dari Batam hingga Makassar.
Jadi saya murni tidak mempunyai pengalaman akademis tentang experiential learning  Mas, bahkan kursus sekalipun, kalau memberikan kursus tentang EL  malah beberapa kali.  Saya hanya mempunyai pengalaman di lapangan.  Guru dan mentor saya lebih banyak senior saya, temen-temen di lapangan, para peserta dan alam sekitar.  Semakin lebih menyenangkan kebetulan saya suka membaca dan bercerita sehingga hal itu terasa lebih menyenangkan lagi.



Mas Agoes khan sudah menulis beberapa buku tentang outbound atau experiential learning atau sejenisnya, boleh dong cerita tentang buku-buku tersebut, misalnya tentang latar belakang dan tujuannya.



Keinginan untuk mempunyai karya dalam bentuk buku dan bisa dipajang di toko buku terkenal di negeri ini awalnya adalah sekedar mimpi.  Tetapi hal itu menguat ketika ada seseorang yang mendorongnya (she is so special he..he..). Buku pertama tergolong unik karena mulai dari judul yang didapat sedangkan isinya belum kebayang sama sekali.  Judulnya cukup menghebohkan yaitu “Outbound itu Menyesatkan”.  Singkat cerita naskah jadi lalu di tawarkan ke beberapa penerbit dan alhamdulillah mereka menolak semuanya.
saat ini setiap bulan pasti muncul provider outbound baru
Saat itu mimpi untuk mempunyai buku itu pun pudar sudah.  Tetapi suatu hari secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang teman yang sudah terbiasa nulis buku.  Maka perjalanan kedua dimulai.  Saya diajari mulai dari membuat mock up atau contoh buku, lalu membuat film, mencetak buku hingga memasarkannya dengan bekerja sama dengan sebuah agen pemasaran buku. Alhamdulillah buku pertama saya dengan judul “Outbound itu Menyesatkan” 3 bulan kemudian sudah nangkring di toko buku terbesar di negeri ini dan di seluruh cabangnya di Indonesia.
Buku tersebut juga pernah menjadi tema utama dalam pertemuan seluruh provider outbound di Jawa Timur.  Kejadian lucu diawal pemberian materi tersebut beberapa temen sempat “mencak-mencak,” kenapa judulnya OUTBOUND ITU MENYESATKAN? Kenapa tidak pakai judul yang lain.  Setelah saya terangkan itu hanya masalah strategi pemasaran saja, maka mereka akhirnya mengerti karena sejatinya isi buku tersebut bukan untuk menyesatkan. Alhamdulillah dari sekitar 3.000 eksemplar saya cetak yang terjual di toko buku sekitar 1.200-an dan sisanya kami bagikan kepada para teman dan sahabat serta para peserta training kami.  Oya, buku pertama tersebut sebetulnya lebih menyoroti tentang paradoks yang sering terjadi pada provider outbound.  Salah satunya kita senantiasa mengajarkan tentang bagaimana teamwork yang baik itu dengan berbagai game dan teorinya, tetapi ternyata di dalam provider tersebut malah sering terjadi tidak bekerja sama. Misalnya antara pimpinan dan anak buahnya, sehingga mereka menjadi pecah dan membuat provider baru lagi dan lagi dan lagi.  Kemudian di antara provider saling jatuh-jatuhan harga dan “menjelekkan” atau memberikan info yang kurang baik terhadap provider lain.
Setelah buku pertama terbit dengan saya terbitkan sendiri yang mana saya harus mengurus ISBN di Perpusatkaan Nasional sendiri, muncullah ide untuk melengkapinya menjadi trilogi.  Alhamdulillah dalam perjalanannya, setelah tahu bagaimana membuat buku tersebut dan menerbitkannya- ternyata memang mudah-saya bertemu dengan teman SMA di Solo dulu yang bisa membantu dalam lay out, perwajahan luar dan dalam serta sampai mencetaknya sehingga proses pembuatannya relatif lebih cepat.
Buku kedua dengan judul “Rahasia Menjadi Outbound Trainer” , idenya, saat ini belum ada semacam buku panduan untuk temen-temen di lapangan.  Beberapa ada yang saat menjalankan profesi lupa dengan ibadah, tidak bisa mengatur keuangan, jarang membaca dan lain-lain.  Buku ini saya tulis dengan harapan bisa memberikan semacam referensi tentang etika dan attitude apabila kita bisa lebih enjoy dan berhasil menekuni di bidan EL ini.
Buku ketiga dengan judul OUTBOUND DARI TITIK NOL, berisi 21 cerita true story pengalaman temen–temen yang saya potret.  1001 cerita temen temen dilapangan, dan peserta kami potret tetapi disetiap akhir ceritanya kami selipi sebuah pesan positif.
Buku-buku tersebut sebetulnya saya tulis dengan harapan bisa turut mengedukasi  temen–temen yang bergelut dan menekuni bidang outbound atau experiential learning.  Alhamdulillah dengan hanya saya pasarkan via online untuk buku ke-2 dan ke-3 saya bisa berkenalan dan bersilaturahim dengan teman dan sahabat yang satu profesi, mulai dari Batam hingga Bone.  Harapan besarnya kita bisa bersama-sama dan bekerja sama memajukan experiential learning ini di negeri indah ini.  Saya berpendapat ujung dari kita menekuni experiential learning ini adalah kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat baik  bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan alam raya ini.



Wah, luar biasa sekali karya-karya Mas Agoes ini, sangat inspiratif. Namun, tampaknya Mas Agoes sekarang fokus ke Indoor Training, kenapa nih?


Sebetulnya saya tidak fokus di indoor training Mas, tetapi klien dan patner saya saat ini sering memberikan kesempatan untuk mengisi materi soft skill di ruangan.  Tetapi walaupun ngisi di ruangan saya tetap mainkan game dan mengaitkan game tersebut dengan makna materi yang sedang saya bahas.  Kegiatan outdoor pun masih kok Mas. Kemaren malah barusaha handel klien lama dengan konsep tenda.  Dan beberapa teman lama kalau kontak pasti pertanyaannya “Gus, masih di outbound? “

(Ketika wawancara sedang berlangsung ada phone masuk) Ini dari salah satu provider baru yang saya kenal, kebetulan beliau searching di fb dan menemukan nama saya. Insya Allah mengajak kerja sama minggu depan.  Provider tersebut yang menghandel kegiatan outdoornya dan saya diminta untuk mengisi debrief nya.   Alhamdulillah kalau dulu punya basic outdoor ketika diminta untuk mengisi materi indoor yang  sebelumnya melakukan kegiatan outdoor jadi lebih mudah Mas.

Alasan lain, mengingat usia Mas, he..he...lama kelamaan fisik juga akan menurun.  Tapi suara sungai yang mengalir, suara burung bersautan dipagi hari, tidur beralasakan sleeping bag, makan bersama dengan beralaskan daun pisang atau bermain air dibawah air terjun, atau jumping ke tengah laut.......masih selalu memanggil-manggil kok Mas.



Bagaimana sih resep Mas Agoes dalam memersiapkan sebuah training?



Ada 3 hal yang selalu saya tanyakan terlebih dahulu kepada temen atau klien yang minta training
a.       Tujuan dari training tersebut,
b.       Audiens/ siapa peserta training tersebut dan berapa jumlahnya,
c.       Dimana training tersebut akan dilakukan ( resort, hotel, kantor, dll. )
Dari 3 informasi tersebut kami baru buat disain dan terakhirnya rundown acara.  Setelah itu kami prepare materi indoor dalam bentuk slide.

Untuk training indoor yang durasi paling pendek 15 menit dan paling panjang 7 jam efektif sama saja saya tetap buat semacam rundown.  Rundown tersebut saya buat sesimpel mungkin yaitu jam dan topik yang akan saya ajarkan serta game pendukung yang akan saya mainkan.

Untuk kegiatan outdoor.  Saya langsung kontak team saya. Team inti saya, saat ini terdiri dari 1 orang logistic technical support dan 2 orang fasil.  Saya termasuk orang yang sangat selektif dalam mengajak seorang freelance.  Pengalaman yang mengajarkan saya untuk “harus” berbuat seperti itu. 

Setelah itu saya menyiapkan perlengkapan permainan pendukung game.  Alhamdulillah saya mempunyai perbendaharaan game saat ini kurang lebih 167 game dan sekitar 25 alat game yang ready for use.  Saya saat ini sedang menyukai game yang tanpa alat dan yang menggunakan alat yang sederhana.  Apabila dirasa perlu harus menggunakan game yang “komplek” seperti  high rope, paint ball dan rafting, saya akan kontak patner saya yang biasa men- support kegiatan saya. 

Saat ini saya sering mengarahkan kepada klien untuk memainkan game yang benar-benar sesuai dengan programnya sehingga tidak terfokus kepada gamenya.  Dengan cara demikian saya juga bisa meminimalkan resiko, meminimalkan jumlah team.  Salah satu pengalaman suatu hari diminta untuk handle program internalisasi visi dan misi sebuah perusahaan dengan jumlah peserta sekitar 120 orang, cukup kami tangani bertiga.  Saya sendiri sebagai trainer dan 2 orang logistic technical support.



Menurut Mas Agoes, bagaimana sebaiknya relasi kita dengan teman-teman yang membantu pelaksanaan program kita?



Saya punya pandangan bahwa kegiatan EL ini adalah sifatnya long life sehingga untuk relasi saya juga selalu menjaganya dengan baik Mas.

Seperti saya katakan di atas, saya saat ini sangat selektif untuk bekerja sama dengan temen- temen freelance.  Karena kalau tidak, banyak pengalaman dulu yang sangat tidak mengenakkan.  Saat ini saya dengan 2 fasil dan 1 logistik (yang semuanya freelance) saya bina hubungan dengan baik. baik di saat kegiatan maupun disaat tidak ada kegiatan.

Pada saat kegiatan. Saya dan team untuk acara makan adalah menyatu dengan peserta. Tidak kami beda-bedakan. Untuk standar menginap pun saya samakan. Kalau di resort ya resort semua, kalau di hotel  ya hotel semua. Alhamdulillah temen –temen yang support disetiap awal kegiatan tidak pernah menyakan berapa honor per harinya.  Kami akan memberikan sesuai dengan kepuasan dan jumlah kontrak yang saya terima.  Alhamdulillah saat ini mereka bisa terima insya allah lebih tinggi sedikit dibandingkan kalau mereka support di tempat lain. 

Kalau pas tidak ada kegiatan, kami selalu jalin silaturahmi. Menanyakan kabar via sms dan media sosial yang lain. Terkadang kami saling berkunjung sambil makan dan sharing.  Bahkan untuk team logistic kami bisa membantunya dalam kegiatan yang lainnya.  Kebetulan logistic saya adalah juga seorang petani, bener Mas; dan punya lahan sehingga kami jalin kerja sama dengan saya berinvestasi dalam bidang pertanian.  Saat ini kami telah dan sedang menanam 700 pohon singkong dan 40 pohon pepaya.  Hasilnya kita bagi.  Jadi ikatan tersebut terbina terus walaupun sedang tidak aktivitas pelatihan.




Ada nggak nih pengalaman paling mengesankan selama menjadi fasel atau trainer?



Sebetulnya lumayan banyak mas.  Tapi saya ceritakan salah satunya.  Saat itu, kami sedang handle program training dimana klien minta ada kegiatan rapling.  Kebetulan kami memakai di salah satu tempat di bumi perkemahan.  Tempat rapling yang kami gunakan adalah 12 meteran. Setelah kami berikan penjelasan dan contoh melaksanakannya maka  satu persatu peserta naik dan melakukan kegiatan rapling tersebut.

Saya langsung handel di atas dibantu satu orang team lapangan.  Sedangkan yang lainnya di bawah.  Peserta naik keatas tempat start rapling sekitar 4 orang 4 orang.  Peserta pertama hingga ke 7 lancar semuanya. Giliran peserta ke 8, cewek, setelah dipasangkan seat harnesnya tiba-tiba langsung terduduk lemas dan menangis ketakutan......dan pastinya tidak mau mencoba lagi untuk melakukannya.  Saya tenangkan dan saya perkenankan untuk tidak melakukannya, tetapi tetap di atas sambil melihat teman-temannya yang lain melakukannya....setelah beberapa temannya melakukannya, tiba – tiba dia ngomong ke saya “Mas, boleh mencoba lagi” saya tidak langsung mengiyakan. Saya tanyakan kepastiannya keinginannya tersebut. Akhirnya mencoba lagi. Tetapi lagi-lagi masih belum berani. Kemudian di sela oleh teman –teman yang lainnya lagi....dan ternyata keinginan tersebut masih ada.  Lalu langsung kami besarkan mentalnya, kami handle dengan sangat hati- hati, kami berikan semangat, kami ajak teman-temannya yang sudah melakukannya juga memberikan semangat. Dan.........akhirnya peserta tersebut mampu melakukannya, sampai di bawah langsung nangis terus sujud syukur.

Pengalaman tersebut salah satu yang menjadikan profesi di bidang ini begitu “mengesankan” Mas.  Cerita tersebut akhirnya saya jadikan salah satu cerita dalam buku ke 3 saya yang berjudul “Outbound dari Titik Nol.” 



Menurut Mas Agoes, bagaimana perkembangan experiential learning di Indonesia ini ya?



Mungkin saya menyebutnya outbound training dengan difinisi bebas ya Mas; perkembangannya sangat luar biasa.  Saya pernah membuat joke, bahwa saat ini setiap bulan pasti muncul provider outbound baru.  Begitu riuhnya jumlah provider tersebut sehingga hampir di setiap kota besar dan kota kecil di Indonesia saat ini sudah memiliki provider outbound.

Walaupun kehadirannya mungkin lebih banyak karena faktor bisnis, bukan idialis, tetapi bagaimanapun juga temen–temen tersebut sudah masuk ke bidang tersebut.  Bahkan hal itu bisa menjadi bertambah banyak manakala perusahaan tour and travel, EO dan konsultan indoor training pun akhirnya juga masuk ke dalam bisnis tersebut. 

Saya melihatnya positif-positif saja.  Jadi banyak teman.  Tetapi memang jujur sebagian besar jadi lebih ke arah entertaiment.  Unsur pengembangan sumber daya manusianya jadi lebih sedikit, bahkan ada yang ditinggalkan sama sekali.  Di sinilah sebetulnya peran AELI sangat strategis masuk ke mereka.  Kita ajak untuk duduk bersama dan membicarakan hal-hal yang ringan saja.  Kita juga harus mengerti tentang alasan bisnis yang mereka lakukan. 

Saya kebetulan sudah sharing dengan Mas Ega (Sekretaris AELI saat ini) dan Mas Winggit.  Dan saya selalu mengikuti perkembangan group AELI di fb, serta beberapa kali juga melihat di lapangan langsung.  Saya sangat ingin AELI berperan lebih banyak daripada saat ini.  Fokus saya adalah di organisasi.  Kalau AELI adalah sebuah organisasi, maka kalau terkelola dengan baik pasti akan banyak yang mendapatkan aspek manfaatnya.  Dan organisasi tersebut terletak di pengurusnya.  Dari situlah awal segalanya, Mas.

Suatu hari ada temen dari Lombok yang sangat berharapakan mendapatkan edukasi berkaitan dengan pengembangan game serta debriefnya.  Kemudian rekan dari Bone sangat merindukan bisa keluar dari “rutinitas” program yang saat ini mereka jalankan, mereka pun juga sudah merasakan jenuh dengan program yang itu-itu saja.  Mereka mau belajar tetapi kepada siapa mereka tidak tahu. Kasihan.




Di Indonesia, kan ada AELI nih, apa harapan Mas Agoes terhadap asosiasi tersebut?
Harapan saya, AELI harus punya orang-orang yang duduk dalam jajaran pengurus, orang yang bisa mampu mengayomi seluruh provider di Indonesia.  Mempunyai program yang jelas dan melaksanakannya dengan penuh kesenangan bukan dengan memikirkan kepentingan pribadi atau bisnisnya.
Bagaimana pendapat Mas Agoes tentang bulletin “Forum AELI” ini?
Sangat bagus sekali mas. Lebih bagus lagi kalu bis adicetak dan dibagikan keseluruh anggota ( bisa dijadikan sumber pemasukan organisasi )

Apa pesan atau harapan Mas Agoes pada sesama Fasel di Indonesia ini?
Harapan saya terhadap para fasilitator experiential learning adalah:
1.       Terus meningkatkan silaturahmi satu dengan yang lain,
2.       Terus sharing dan belajar bersama serta berbagi informasi, dan
3.       Jangan pernah merasa mempunyai ilmu yang lebih dibandingkan orang lain, tetapi teruslah belajar dan belajar dan menghormati orang lain sesama fasil.

Poin tambahan, berupa harapan yaitu secepatnya pengurus AELI kumpul bersama, membahas program yang lebih indah dan dilaksanakan. Direalisasikan.

Terima kasih mas agus, atas kesempatannya untuk bisa mengisi dan meramaikan bulletin Forum AELI. Sukses selalu buat mas agus.

Agoes susilo jp

Wah, luar biasa. Terimakasih atas kesempatan ini, Mas Agoes. Semoga segala rencana dan aktivitas Mas Agoes bertambah lancar, dan bisa menginspirasi lebih banyak orang. Sukses!