yuk main-main....

Informasi lebih rinci silakan hubungi 08127397697 atau melalui email playonsriwijaya@gmail.com

Jumat, 06 April 2012

Jurus Anti Galau Membentuk Kelompok


Kebetulan sekali ketika saya mau cerita tentang pengalaman 2 minggu lalu memfasilitasi 2 kegiatan pelatihan, ada teman di grup AELI yang mengirim postingan sejenis. Tema tulisan saya kali ini adalah salah satu resep cespleng membentuk dan mengembangkan kerjasama dalam sebuah kelompok, fokusnya pada cerita pengalaman saya menggunakan Teori/ konsep 4 fase/ tahap dalam meningkatkan kualitas sebuah kelompok. Tulisan dalam artikel ini adalah kombinasi antara refleksi saya dalam berkegiatan, saripati diskusi di grup AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia), dan sebuah teori dari ranah ilmu psikologi.

Teori  FSNP
Kita mulai dari sebuah teori yang dirilis pada tahun 1965 oleh Bruce Wayne Tuckerman, seorang Profesor Psikologi Pendidikan di Ohio State University. Dia membuat 4 tahapan atau fase dalam upaya membentuk sebuah kelompok. Tentu saja teori tersebut didasari dengan berbagai eksperimen sebelumnya. 4 tahapan pembentukan kelompok tersebut adalah:

1.       Forming
Pada tahap awal,  kelompok  membuat orientasi akan esensi keberadaannya, karena logikanya tiap kelompok dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. Orientasi dapat dicapai terutama melalui pengujian yang  berfungsi untuk mengidentifikasi batas-batas perilaku baik secara  interpersonal maupun terkait pencapaian tugas dalam mencapai tujuan bersama. Pada tahap ini juga dirumuskan hubungan tiap anggota kelompok  dengan para pemimpin, anggota kelompok lain. Tiap anggota kelompok punya ketergantungan dan relevansi dengan aturan/ standar yang telah dibuat. Orientasi, pengujian dan ketergantunganmerupakan proses pembentukan kelompok.
Yel-yel cukup efektif digunakan dalam Fase Forming

2.       Storming
Fase kedua dalam pembentukan kelompok ditandai dengan munculnya konflik dan polarisas/ pengkubuan, baik terkait  masalah pribadi, maupun respon emosional dalam menanggapi proses penugasan untuk mencapai tujuan kelompok. Prilaku ini mencerminkan penolakan atau ketidaksesuaian pribadi  terhadap kesalingtergantungan kelompok dan persyaratan pencapaian tugas.

3.       Norming
Penolakan-penolakan/ resistensi di tahap sebelumnya pada akhirnya memunculkan perasaan kesalingtergantungan satu sama lain dan terhadap kelompok. Ada kesadaran bahwa semestinya tiap anggota kelompok  justru mengembangkan kekompakan. Pada tahap ini standar baru berkembang, dan wacana aturan-aturan baru/ penyesuaian  didiskusikan bersama. Personalitas tiap anggota kelompok  mulai muncul dan  pendapat pribadi mulai diapresiasi dan didiskusikan untuk menjadi kesepakatan/ standar besama dalam pelaksanaan  tugas guna mencapai tujuan bersama.
4.       Performing
Akhirnya, kelompok ini mencapai tahap keempat dan terakhir di mana terbentuk struktur/relasi baru antar anggota kelompok.  Masalah perbedaan pendapat/ pandangan telah diselesaikan. Aturan-aturan yang disepakati bersama menjadi fleksibel dan lebih fungsional, serta energi kelompok terfokus dalam pencapaian tujua bersama.

Pada tahun 1977, Pak Tuckerman menambahkan satu tahap lagi yang dinamai “Adjourning” namun itu tidak akan kita bahas.

Nah, paparan di atas adalah sebuah teori yang berangkat dari eksperimen psikologi. Aplikasi teori pembentukan kelompok tersebut  ternyata bisa juga diterapkan dalam  salah satu kegiatan experiential learning. Bagaimana caranya? berikut ini salah satu aplikasinya, seperti saya kutip dari pengalaman seorang fasilitator experiential learning. Konteks experiential learning pada paparan berikut ini adalah kegiatan pelatihan/pengembangan karakter berbasis petualangan di alam terbuka.

Penerapan Teori  FSNP pada Pelatihan berbasis Petualangan

1.       Fase FORMING
Peserta  'menyepakati' sistem norma yang mengatur interaksi mereka dalam berkelompok. Nilai-nilai yang diterapkan biasanya masih kental dipengaruhi latar belakang sosial budaya darimana peserta  berasal. Dalam  pelatihan, kita sebagai fasilitator bisa 'campur tangan' terhadap  sistem norma yang  akan mereka sepakati,  yaitu pada Sesi Pengkondisian (Opening Brief, Ice Breakings, Trust Activities, dan Skills Coaching bila dianggap perlu) terhadap  beberapa  komitmen awal berkegiatan. 

2.       Fase STORMING
Sistem nilai yang  sebelumnya telah peserta  sepakati, “diuji” melalui Sesi Team Trials atau Initiative Problem Solving Games. Harusnya pada akhir sesi ini para peserta mulai mempertanyakan nilai-nilai yang  selama ini mereka yakini. Aktivitas yang baik akan 'membenturkan' sistem nilai yang selama ini dipakai peserta dengan nilai-nilai positif yang ingin disampaikan lewat program pelatihan ini. Peran fasilitator lumayan dominan pada sesi ini. Storming yang  baik memungkinkan peserta untuk 'galau' baik dengan diri sendiri maupun terhadap kelompoknya. Mereka akan mempertanyakan apakah sistem nilai/norma yang selama ini diterapkan bisa efektif dalam menghadapi tantangan selanjutnya. Bisa jadi peserta mengalami gesekan pendapat dalam menyepakati norma-norma baru ini. 
Mengupayakan makan siang sesuai prestasi kelompok dalam Fase Storming

3.       Fase NORMING
Ketika menyepakati sistem nilai/norma-norma baru, sebenarnya peserta mulai masuk ke fase NORMING. Penyepakatan tersebut menjadi koreksi atas inefektivitas sistem sebelumnya. 

4.       Fase PERFORMING
Tahap akhir tentu saja PEMBUKTIAN (Perform) bahwa sistem nilai yang  baru tersebut memang efektif diterapkan untuk menghadapi tantangan selanjutnya. Pada banyak pelatihan Outdoor, fase pembuktian ini sering dibuat dalam  pengerjaan proyek berat pada akhir aktivitas -makanya akrab disebut Final Project- yang  sifatnya relatif berat namun seharusnya tingkat keberhasilannya tinggi. Pada program-program Adventure Education, fase Performing biasanya dilakukan dengan   mekanisme Final Expedition yang  mungkin saja secara  fisik menantang namun secara  psikologis sudah lebih nyaman dijalani karena komitmen normatif sudah terbentuk. 

Wah menarik sekali yach, paparannya. Memang saya membatasi penjelasan hanya sampai prinsip-prinsipnya saja, tidak masuk dalam detil per-aktivitas, karena itu akan sangat panjang urusannya. Semoga itu sudah cukup menggambarkan aplikasi  teori FSNP dalam konteks pelatihan berbasis petualangan. 

Aplikasi Teori  FSNP pada Latihan Kepemimpinan
Nah, kini saya cerita tentang aplikasi ala saya terhadap  konsep FSNP dalam beberapa kegiatan pendampingan pelatihan yang pernah saya lakukan. Lebih sering sih digunakan untuk kegiatan Latpim/ latihan kepemimpinan berdurasi  3 hari 2 malam.

1.       Fase Forming
Fase  ini sering saya terjemahkan sebagai tahap pembentukan yang bisa dinamai dengan FASE SIAPA AKU. Tahap pertama ini diisi dengan kegiatan perkenalan, dinamika pencair suasana, dan dinamika yang bisa menunjukkan potensi tiap peserta. Tahap ini bisa berlangsung sampai setengah hari.

2.       Fase Storming
Saya sering menyebut tahap ini dengan istilah dengan tahap ‘diobok-obok’ atau fase SIAPA KAMU!? Seiring dengan tren, bisa juga disebut dengan FASE GALAU. Pada tahap ini, peserta dikondisikan galau karena konflik kepentingan, baik antar peserta  maupun dengan  fasilitator. Peserta diberi tugas yang  konsekuensinya bisa bikin emosi, misalnya dikompensasikan untuk makan. Tantangan yang  menguras emosi biasanya turut menyukseskan fase ini. Tahap yang diwarnai konflik kepentingan ini (sehingga sampai bisa memunculkan pertanyaan serangan,”Emangnya siapa sih kamu itu!?,  kok, berani-beraninya bertindak dan berpendapat seperti?”) bisa berlangsung sampai 3/4 hari.

3.       Fase Norming
Merefleksikan pengalaman yang baru saja dijalani dalam Fase Norming
Tahap pembentukan norma ini sering juga saya namai Fase INI KAMI, karena isinya bernuansa kebanggaan akan “Inilah Kami.” Tahap ini diisi dengan refleksi/ pemaknaan/ debriefing dari kegiatan-kegiatan di fase Storming untuk membentuk norma-norma baru yang perlu dihidupi sebagai suatu kelompok. Bisa juga ditambahkan pentas seni dan kebersamaan dalam kelompok-kelompok kecil, di mana iklim kompetisi/ persaingan sudah mulai ditinggalkan. Tahap ini bisa berlangsung sampai setengah hari.

4.       Fase Performing
Tahap ini sering juga saya namai sebagai  tahap INILAH KITA, karena saat inilah peserta menunjukkan prestasi yang bisa dicapai berkat “kekitaan,” tak ada lagi “saya,” atau “kami” lagi, yang ada adalah Inilah Kita. Tahap terakhir ini biasa diawali dengan Final Project, lalu debriefing, dan diakhiri dengan pernyataan komitmen dalam kelompok besar, bisa secara  lisan maupun tertulis. Tahap ini bisa berlangsung sampai 1/3 hari.

Uraian di atas adalah contoh interpretasi saya terhadap konsep FSNP. Saya yakin masih ada yang belum jelas dengan apa yang tertulis di situ, maka setelah ini saya tuliskan juga contoh skenario/ jadwal kegiatan pelatihan yang bernafaskan FSNP. Semoga makin memperjelas.

Skenario Pelatihan berbasis FSNP
Konteks jadwal di bawah ini adalah sebuah kegiatan pelatihan peningkatan kerja sama sebuah kelompok yang pelaksanaannya dilakukan di alam terbuka. Peserta pelatihan berjumlah 44 orang level teratas dari sebuah perusahaan skala regional di Sumatera Bagian Selatan. Judul besar pelatihan adalah “The A Team” dengan sub tema “Hanya Orang Bijak yang Mau Berkembang” Sebelumnya saya mengusulkan subtema “Hanya Orang Bodoh yang Tidak Mau Berkembang” tapi ternyata beberapa teman nggak setuju, terlalu horor katanya, he he he…

Berikut ini 6 pentahapan dengan item-item kegiatannya:

1.       Tahap PENGANTAR, yang dilaksanakan pada hari pertama mulai pukul 08.00 pagi sampai siang.
  • Mendirikan tenda, snack
  • Pembukaan, serah terima dari pihak perusahaan ke tim fasilitator

2.       Tahap FORMING, masih pada hari pertama, dilaksanakan dari siang sampai malam harinya.
  • Materi “Blob Tree,” sebagai pengenalan diri peserta terhadap konteks dirinya di perusahaan.
  • Ice Breaking dengan berbagai dinamika penambah keceriaan.
  • Makan siang terpimpin; dikondisikan untuk meninjau sejauh mana peserta mau berinteraksi dan berbagi antara satu dengan lainnya.
  • Materi “Siapa Saya?”
  • Dinamika kelompok yang meninjau sejauh mana kekompakan antar kelompok terjalin.
  • Istirahat, memasak, dan mandi; dengan aturan yang dibuat sendiri oleh peserta, untuk menunjukkan seperti apa sih kelompok peserta akan berinteraksi.
  • Dinamika makan malam; lebih “hot” daripada metode makan siang, untuk menguji kekompakan antar peserta sekaligus pengantar menuju fase Storming.
  • Materi “Spiritualitas Kerja”
  • Istirahat

3.       Tahap STORMING, malam hari pertama sampai siang hari kedua
  • “Misi Malam,” merupakan penugasan yang mengkondisikan peserta keluar dari zona nyamannya saat dini hari. Peserta yang tidak kuat mental bisa galau habis, lho.
  • Bangun, memasak, mandi, olahraga, dan sarapan dengan aturan kedisiplinan ketat yang dikeluarkan dan dipantau intensif oleh fasilitator. Hal ini juga bisa bikin panik peserta yang tidak bisa menghayati suasana.
  • Outbound; diisi beberapa dinamika yang kompensasi prestasinya berupa pertaruhan peralatan masak dan bahan mentah untuk makan siang.
  • Dinamika memasak dan makan siang; menggunakan alat dan bahan yang berhasil dipertahankan tiap kelompok sewaktu proses outbound.
  • Semifinal Project; dikerjakan per kelompok dalam format kompetisi.
Beberapa peserta terlambat, sanksi push up untuk semua. Metode "provokasi" yang bisa memancing pergolakan antar peserta dalam Fase Storming

4.       Tahap NORMING, dilaksanakan pada sore hari kedua sampai malamnya
  • Istirahat, memasak, mandi, dan latihan pentas seni; dilakukan dalam pengawasan fasilitator sesuai kesepakatan dengan peserta.
  • Debriefing; pemaknaan proses outbound sampai Semifinal Project. Metode debriefing  melalui kombinasi penayangan film saat peserta berkegiatan, refleksi peserta, dan umpan balik pengamatan fasilitator.
  • Pentas, api unggun, dan lilin persaudaraan. Kesempatan di saat tiap peserta menyampaikan norma-norma kebersamaan dan peningkatan kinerja  kelompok yang diperbaharui.
  • Istirahat.

5.       Tahap PERFORMING, dilaksankan pada hari ketiga, mulai dari pagi sampai siang hari.
  • Bangun, memasak, mandi, dan olah raga; dengan aturan main yang sudah disepakati peserta sendiri, fasilitator hanya memantau.
  • Renungan pagi; sebagai proses penyadaran akan konteks keberadaan tiap peserta terhadap alam.
  • Sarapan terpimpin, untuk  menunjukkan kualitas kekompakan yang makin meningkat.
  • Final Project; untuk menguji kontribusi tiap kelompok dan anggota kelompok dalam menyelesaikan misi bersama.
  • Debriefing final project; untuk menemukan nilai-nilai yang relevan dengan peningkatan kualitas kerjasama dalam sebuah perusahaan.
  • Pernyataan komitmen peserta; untuk melakukan perbaikan dan pengembangan diri secara umum, dan secara khusus dalam konteks perusahaan.

6.       Tahap PENUTUP
  • Penyerahan peserta dari tim fasilitator ke pihak perusahaan.
  • Kesan pesan, penutupan acara, membongkar  dan mengemas tenda.

Nah, semoga poin-poin yang memang sengaja tidak diuraikan lebih lanjut tadi bisa memberi gambaran lebih lengkap mengenai aplikasi 4 fase pembentukan kelompok, khususnya dalam format kegiatan Latihan Kepemimpinan.

Akhirnya…
Ketika kita sadar
menggunakan konsep FSNP dalam sebuah pelatihan, tentu senormalnya kita bisa "mengendalikan" suasana, terutama suasana batin dan fisik peserta. Kita semestinya tahu persis kapan saat Forming, Storming, Norming, dan Performing. Kita juga harus bisa melakukan “intervensi” pada peserta jika dipandang ada hal-hal yang dipandang belum pas pada suatu tahap. Apa misalnya? Begini, misalnya pada saat tahap Storming baru saja dimulai, eeee… ternyata peserta malah  pasif dan cenderung mau aman dan damai-damai saja. Semua saling mengalah sehingga meredakan potensi konflik. Nah, bisa jadi ini terjadi karena skenario kita membuat galau peserta kurang greget, atau dasar peserta yang “kalah sebelum berjuang”. Bentuk intervensinya adalah kita menambahkan lagi “tekanan” atau provokasi pada peserta sampai memunculkan ketidaknyamanan atau kegalauan. 
Kompetisi yang bisa bikin galau, sudah berkorban, capek, panas, eee... kalah tipis sehingga nggak dapat garam untuk memasak. Huh.... Grrrrfhtghhh!!!!

Contoh lain, ketika semestinya sesuai skenario kita sudah masuk ke Tahap Norming, ternyata peserta masih asyik dengan perseteruannya di fase Storming, bahkan konflik semakin  terbuka. Jika ini terjadi, kita bisa mengintervensi dengan menggiring peserta masuk pada tahap Norming. Bisa juga sih, mungkin karena ketidaktahuan anggota tim yang lain, mereka malah memprovokasi kelompok/ peserta tertentu sehingga perselisihan tambah seru. Memang di satu sisi, kita sebagai fasilitator “asyik” juga menikmati fase Storming, tapai mau sampai kapan? Lagi pula tujuan kita khan bukan membawa peserta berlarut dalam perselisihan, tapi bahwa satu tahap itu diharapkan membawa kelompok pada pembentukan kelompok yang lebih baik.
Kita harus cerdas mengatur porsi/ penjadwalan keempat tahap FSNP, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tepat. Ketidakseimbangan porsi 4 tahap itu ditengarai akan membuat proses nggak maksimal. Misalnya kita keenakan “menikmati” tahap Storming, khan lagi seru-serunya. Eeeee.... tahu-tahu waktu pelatihan tinggal 2 jam tersisa. Langsung deh, peserta  diajak ke Tahap Performing, tanpa melalui Norming lebih dahulu. Saya bayangkan akan jadi antik Deh prosesnya. Peserta Sih Nggak ada urusan tentang  fase-fase tersebut, tapi saya curiga akan ada hal yang  mengganjal saja di hati mereka saat mengakhiri proses. Bisa jadi ada peserta yang membatin, “Lho gimana sih fasilitator ini, kami lagi seru berdebat mempertahankan pendapat masing-masing, tiba-tiba dia minta kami untuk membuat komitmen untuk memajukan perusahaan. Belum lagi keheranan kami tuntas, fasilitator itu dengan cueknya ngomong bahwa kami adalah kelompok yang sangat membanggakan karena bla bla bla…. Huh… lagi galau kali fasilitator itu.”
Pembentukan Norma melalui kegiatan api unggun, tentu saja yang acara yang diatur dengan cerdas

Akhirnya sampai juga kita di (hampir) penghujung tulisan ini. Apa yang sudah saya ceritakan adalah beberapa hal terkait aplikasi dan interpretasi sebuah konsep 4 tahap pembentukan kelompok. Bayangkan, teori FSNP sudah dimunculkan tahun 1965, jadul banget yach, tapi saya senang dan cocok dengan konsepnya yang sederhana namun sangat masuk akal. Kini sudah tahun 2012; mungkin sekali muncul konsep-konsep lain tentang pembentukan sebuah kelompok, apakah lebih efektif, atau malah sebaliknya lebih ngawur, saya juga belum tahu. Yang jelas, semoga apa yang sudah terbeber ini bisa memberi inspirasi pada kita semua jika suatu saat membuat program pembentukan/ pengembangan sebuah kelompok.
Selamat bereksperimen.

Palembang, 8 April 2012.
Salam, Agustinus Susanta.

Rabu, 28 Maret 2012

Jangan-jangan


Setelah disuguhi mie rebus hangat berkuah, dengan ditemani gorengan plus cabe rawit, saya diajak berkelana menuju sebuah tempat yang eksotis. Pagi itu bersama seorang sahabat yang baru saja ketemu 4 hari sebelumnya, saya menjelajah hutan pinus dan sungai. Pak Darmin, demikian saya menyebut sahabat saya tersebut, memboncengkan saya dengan motornya menyusuri lekak lekuk jalanan pedesaan di daerah Megamendung, Puncak. Di sebuah perhentian, dia memarkirkan motornya untuk lalu mengajak saya menyusuri jalan setapak di tepian hutan pinus. Lembah yang menghampar diakhiri dengan pandangan ke Gunung salak yang berdiam nun jauh disana, menjadi pemandangan yang mengagumkan. Apalagi di beberapa puncak bukit, pucuk-pucuk pinus masih berselimut kabut pagi, ah… sulit dituliskan.
Eksotis
Sambil menyusur jalan setapak, kami melanjutkan obrolan dengan akrab, lho, kok melanjutkan obrolan, apakah sebelumnya kami pernah ngobrol? Ternyata pernah, 4 hari sebelum saat ini; nantilah saya ceritakan kronologisnya. 

Tak berpa lama, kami turun ke sungai dan menyusurinya. Sungai Burangrang (kalau tak salah, begitulah dinamakan) mengalirkan air yang jernih, walau semalaman hujan turun di daerah Mega Mendung. Debit air sungai juga masih normal, tidak membanjir layaknya sungai di area hilir. Ternyata kestabilan dan kejernihan air sungai tersebut karena memang sungai yang sedang kami susuri tersebut berada di daerah hulu, mendekati puncak sebuah perbukitan. Di area tersebut juga tidak ada lagi pemukiman penduduk yang berpotensi mengotori sungai. Wajar jika sungai itu sangat ideal untuk kegiatan jelajah sungai; begitu antara lain yang diceritakan oleh Pak Darmin.

Usai mencicipi susur sungai, kami naik ke daratan untuk melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan Pak Darmin dengan semangat menceritakan banyak hal, termasuk jejak-jejak karya dia di daerah itu yang masih nampak bukti fisiknya. Kami ngobrol bagaikan dua orang yang sudah kenal lama sekali, padahal kami baru saja bertemu beberapa hari, kenapa yha? Nantilah saya ceritakan.

Usai menjelajah hutan dan sungai, kami kembali pulang ke rumah Pak Darmin, tentu saja setelah mengambil motor yang tadi diparkirkan. Saya diajak mampir ke 2 tempat yang biasa digunakan Pak Darmin untuk melaksanakan kegiatan pelatihan berbasis experiential learning. Saya dikenalkan pada mereka yang menjaga/ mengelola tempat tersebut. Rupanya Pak Darmin juga sudah dianggap saudara oleh para pengelola tersebut, terlihat dari keakraban diantara mereka. Oh yha, selama penjelajahan singkat pagi itu, lak lupa saya jeprat sana jepret sini dengan kamera, kapan lagi punya kesempatan emas seperti itu? Kapan yha?...
begitu jernih air mengalir

Nah sekarang saya mau cerita tentang konteks perjalanan penyusuran saya di hutan dan sungai tersebut.
Mulai sekitar  5 bulan lalu saya mulai berkenalan dengan beberapa teman melalui dunia maya, tepatnya melalui facebook. Kami terkenalkan satu sama lain karena ada kesamaannya, yaitu pegiat, pemerhati, pelaksana, bahkan mungkin ada juga pengkritik metode kegiatan experiential learning. Walau pada awalnya tidak saling kenal, namun karena ada kesamaan minat, toh kami mulai berinteraksi di dunia maya, tanpa sekali pun berjumpa langsung. Nah, Pak Darmin yang telah saya sebut-sebut di awal tulisan ini adalah salah satu sahabat baru yang terkoneksi akibat internet.

Dalam diskusi di dunia maya, ada banyak sekali cerita yang detilnya tak perlu lah saya ceritakan, intinya sih seru. Ada pendapat yang sama, beda, selisih, saling melengkapi, bahkan saling mengguyonni. Saya merasakan ada cukup banyak kesamaan pengalaman dan pandangan antara saya dengan Pak Darmin dalam hal experiential learning, dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Barangkali Pak Darmin juga mearsakan hal yang serupa, entahlah.

Nah, di awal Maret tahun ini saya ingin memperdalam sekaligus memperlebar pengalaman tentang experiential learning melalui kegiatan TOT, Training of Trainer, begitulah yang dituliskan oleh panitia penyelenggaranya. Kebetulan lokasi TOT dekat dengan tempat tinggal Pak Darmin, di sekitar Bogor. Jadilah kami berdua janjian untuk ketemuan untuk lebih banyak lagi ngobrol tentang pernak pernik experiential learning. 

Oh yha, 2 tahun lalu saya juga mengikuti kegiatan serupa TOT, waktu itu diselenggarakan oleh PAC di Pringayu, Ciawi, Bogor. Pada kesempatan itu saya banyak belajar pada Mas Enda Mulyanto, Kang Tonny Dumalang, terta teman-teman fasilitator PAC. Di kesempatan itulah saya baru mendalami tentang experiential education. Kini 2 tahun setelahnya semangat yang sama membawa saya ke Lembah Mandiri untuk Mengikuti TOT yang diselenggarakan Dewananta Outbound. Keinginan saya untuk lebih banyak mengunjungi tempat-tempat pelatihan di Puncak, dan bertemu langsung dengan para instruktur di sana tampaknya bakal segera terwujud.

Singkat cerita, seturun saya dari pesawat, naik Bus Damri ke Bogor, dan disambung angkot meuju lokasi TOT, saya bertemu dengan Pak Darmin di simpang tiga arah Pasir Muncang. Dengan dibonceng motornya, saya diantar ke lokasi TOT. Kebetulan Pak Darmin juga ada urusan dengan pengelola Lembah Mandiri; kok kaya kebetulan yach. 

Sampai di sana, saya dikenalkan dengan Kang Budi sebagai pengelola lokasi, dan setelah itu kami bertiga ngobrol dengan asyik. Pak Darmin begitu bersemangat menceritakan pengalaman panjangnya berkecimpung dalam dunia experiential learning, khususnya di daerah Jakarta dan Bogor. Banyak hal yang bisa saya jadikan inspirasi, baik secara konseptual maupun teknis, pokoknya seru deh. Saat itu saya berpikir, tidak dengan semua orang Pak Darmin bisa bercerita dengan begitu terbuka, termasuk tentang strategi pelatihan/ pendampingannya, kenapa dengan saya yang baru jumpa beberapa jam bisa mengalir segala cerita tadi, aneh deh.

Menjelang sore, saya diajak menemui salah seorang sahabat Pak Darmin yang mengelola sebuah lokasi pelatihan, juga dengan program arung jeramnya. Sebenarnya memang Pak Darmin hari itu ada urusan dengannya, tapi kok yha masih mau mengajak saya ke sana.

Pak Darmin, Kang Ujang, dan Saya
Setelah hampir setengah jam saya dibonceng motornya, meliuk-liuk di antara padatnya jalan arah Sukabumi, akhirnya sampai juga kami ke tempat sang sahabat. Tambah lagi seorang sahabat baru saya di sana, sahabat yang biasa mengelola arung jeram, asyiiiiik. Cara pandang Pak Darmin adalah membangun jejaring; makin banyak jejaring yang dimiliki maka pada suatu saat itu akan memudahkan seseorang dalam berkegiatan kelak. Walau saya berasal dari Palembang, tapi Pak Darmin enjoy saja berpikir, siapa tahu suatu saat saya dapat klien yang mau pelatihan di Puncak dan sekitarnya, maka kini saya sudah dapat referensi. Sebuah pemikiran yang patut dihargai dan diapresiasi.

Usai dari sana saya diajak melihat-lihat beberapa lokasi pelatihan berbasisi experiential learning. Termasuk beberapa yang pernah dikelola oleh Pak Darmin. Tak lupa pada kesempatan itu saya diajak mampir ke markas pelatihan Pak Darmin, sebuah villa sederhana berpemandangan eksotis ke arah Gunung Salak. Ketika malam menjelang, saya diajak mampir ke rumah Pak Darmin, dikenalkan dengan sang istri dan anggota keluarga lainnya. Keakraban, bahkan rasa kekeluargaan sangat saya rasakan pada perjumpaan tersebut, padahal,…. tahu kan, baru hari itu kami berjumpa. Pada kesempatan itu saya serahkan oleh-oleh yang saya bawa dari Palembang untuk Pak Darmin, yaitu 2 buah buku tulisan saya. Tak perlu saya ceritakan betapa enaknya saya disuguhi nasi goreng di sana, lho ini sudah cerita, he he he….

Highland

Malam hari saya diantar kembali ke Lembah Mandiri, dengan membonceng motor Pak Darmin, meliuk-liuk di Jalan Puncak yang selalu ramai selama kurang lebih setengah jam. Usai mengantar, Pak Darmin tidak lupa kembali mengajak saya untuk setelah TOT jalan-jalan melihat lebih banyak lokasi pelatihan di Puncak dan sekitarnya. Tentu saja tawaran tersebut saya terima dengan senang hati, termasuk untuk menginap di rumahnya, Rabu malam usai saya TOT. Itulah penggalan awal kisah perjalanan saya dengan Pak Darmin sebelum menyusur sungai pada hari keempat perjumpaan kami. 

Kembali pada saat kami selesai menyusur sungai, kami kembali ke rumah Pak Darmin, sarapan lagi, lalu saya bersiap pulang ke Palembang. Pak Darmin kembali mengantarkan saya sampai Ciawi dengan motornya untuk kemudian saya lanjutkan perjalanan dengan angkutan kota, Bus Damri, dan akhirnya pesawat terbang ke Palembang. Terima kasih Pak Darmin atas segala apresiasinya.

Nah, apa sih maksud saya menuliskan kisah menarik ini? Yang jelas saya mau menuliskan rasa kepenasaranan saya terhadap apa yang sudah Pak Darmin lakukan terhadap saya. Sejujurnya, cieee…. Pemikiran saya untuk ikut TOT hanya sebatas belajar bersama para Instruktur dan teman-teman peserta di lokasi TOT. Tak pernah terbayangkan saya bisa mengunjungi banyak lokasi pelatihan di Puncak dan sekitarnya, dimana itu menjadi inspirasi saya dalam merekayasa sebuah program pengembangan manusia. Memang sejak 2 tahun lalu ada keinginan untuk merasakan itu; bertemu teman-teman pegiat experiential learning, ngobrol, sekaligus melihat-lihat lokasi pelatihannya. Eeee… ternyata keinginan tersebut bisa mewujud berkat interaksi saya dengan Pak Darmin.

Pertanyaan yang berganyut di benak ini masih ada, yaitu kenapa Pak Darmin bisa begitu semangat dan menyambut saya dalam suasana kekeluargaan, terlebih lalu berkenan menceritakan banyak hal tentang program pelatihan yang sering dia bawakan. Bukankah bagi beberapa orang/ provider bukan hal yang biasa menceritakan “isi dapur” pada pihak lain? Tapi yang saya rsakan, Pak Darmin begitu tulus mengobrolkannya. Aneh. Yang lebih aneh, Pak Darmin sebelumnya hanya mengenal saya melalui beberapa tulisan di blog, serta pandangan dan komentar di grup AELI versi facebook. Saya mempertanyakan dan memperanehkan, tapi juga mencurigai sebuah kemungkinan, apa itu?

Jangan-jangan Pak Darmin memandang saya (melalui berbagai tulisan/ pandangan/ komentar) sebagai orang yang terbuka dan mau berbagi pengalaman (untuk tidak mengatakan berbagi ilmu) dengan sebanyak mungkin orang. Memang sih, saya lebih banyak menuliskan/ menyampaikan  sesuatu berdasarkan apa yang pernah saya lakukan/ geluti. Jangan-jangan Pak Darmin melihat saya sebagai orang yang (walau sudah punya beberapa kelumit pengalamn) masih sadar untuk mau belajar dari yang lain. Memang saya orang yang akan terus belajar, buktinya jauh-jauh dari Palembang ke Bogor untuk jadi peserta TOT; padahal ada seorang teman yang menyampaikan, mestinya saya sudah pantas menjadi pemateri di TOT tersebut, bukan malah jadi peserta. 

Pak Darmin Sang Marinir
Jangan-jangan yang terakhir, jangan-jangan jangan-jangan yang pertama dan jangan-jangan yang kedua tadi memang benar dan itu sama dengan mindset/ paradigma yang dimiliki Pak Darmin; sehingga beliau merasa menemukan sahabat baru yang seide dengannya untuk lebih mengembangakan diri dan orang lain. 

Pernah, ada seorang teman yang menyarankan pada saya untuk tidak “mengobral” pengalaman pendampingan, khususnya melalui tulisan/ buku/ foto, dengan alasan itu adalah “modal” yang membedakan saya dengan fasel yang lain. Saya sih menghargai pendapat itu, walau saya tidak sepenuhnya setuju. Setidaknya sampai saat ini Saya masih menganut faham Tuhan memberikan inspirasi kreativitas pada kita (melalui banyak hal) untuk menyusun program pendampingan melalui experiential learning, jadi kenapa kita harus pelit berbagi? Saya belum menemukan kerugian jika kita berbagi pengalaman tersebut pada orang lain. Justru ketika ada orang lain yang terinspirasi dari pengalaman kta, dan dia membuat yang serupa dan itu mengembangkan lebih banyak orang, wow, luar biasa khan kita bisa memberi manfaat?

Jangan-jangan, jika saya menyimpan rapat-rapat semua pengalaman pendampingan saya, tidak ada orang terinspirasi dengan pengalaman tersebut. Jika tidak ada yang terinspirasi dengan kita, yha siapa yang akan mengapresiasi kita? Jika itu yang terjadi, bisa dipastikan saya tidak akan berjumpa dengan Pak Darmin, tidak ada yang mengajak jalan-jalan ke berbagai lokasi pelatihan di Puncak, tak ada yang mengenalkan kawan dan relasi baru, dan yang pasti saya tidak akan menikmati nasi goreng lezat di rumah Pak Darmin dalam suasana kekeluargaan.

Semoga menginspirasi, Palembang 28 Maret 2012.
Salam, Agustinus Susanta

Senin, 26 Maret 2012

Misi Malam



Malam itu begitu gelap karena bulan sedang bersembunyi di balik bumi, hanya ada percik titik sinar bintang di langit. Dua orang wanita peserta pelatihan pengembangan karakter beringsut mendekati tenda peleton tempat para instruktur tidur. Mereka berhati-hati membangunkan seorang instruktur pria. Setelah sang instruktur terbangun dari tidur lelapnya, tanpa ada pembicaraan, bertiga mereka beringsut menjauhi tenda peleton, menuju suatu tempat yang tersembunyi. Sang insruktur membawa sesuatu yang agak besar namun terkesan ringan. Penerangan yang mereka bawa hanyalah sebuah lilin menyala. Kesunyian masih menyeruak di sekitar lokasi perkemahan tempat pelatihan dilaksanakan.

Sampai di suatu tempat, intruktur tersebut berkata, “Tugas kalian adalah salah satu mengajari yang lain cara bermain gitar. Besok pagi, yang diajari main gitar harus bisa membawakan sebuah lagu sederhana dengan iringan gitar ini. Waktu kalian hanya 45 menit untuk beraktivitas. setelah itu bangunkan 2 teman kalian sesuai jadwal untuk saling mengajari main gitar. Sesudah membangunkan dan mengantar mereka ke tempat ini, kalian boleh melanjutkan tidur. Selamat berlatih” lalu sang instruktur meninggalkan dua peserta tersebut yang tak lama kemudian saling ajar mengajari bermain gitar. Jrang-jreng jrang jreng…. Di kesunyian malam itu lalu terdengar petikan dan genjrengan gitar, kadang-kadang ditimpa suara nyanyian yang terbata-bata.
Belajar Main Gitar

Ternyata, tak hanya dua orang peserta tersebut yang beraktivitas di dini hari itu. Di beberapa tempat lain ada juga pasangan-pasangan yang sedang melakukan berbagai kegiatan. Di sebuah sudut tempat ada sepasang peserta yang sedang membuat origami seperti contoh, namun tidak diperbolehkan menyentuh obyek contohnya, tentu saja ditemani sebatang lilin menyala. Di tempat lain ada sepasang peserta yang sedang menyelesaikan tantangan, bagaimana bisa mengangkat 14 batang paku yang berukuran besar, hanya dengan bertumpu pada 1 paku yang ditancapkan vertikal di sebuah balok kayu. Tak kalah serunya adalah peserta yang mencoba menyusun puzzle dari 10 batang balok kayu yang rata-rata beratnya 3 kilogram.

Hei, apa sih yang sebenarnya sedang terjadi antara pukul 23.30 malam itu sampai sekitar pukul 04.00 paginya? Kenapa para peserta pada bergentayangan di kegelapan untuk melakukan kegiatan yang sepintas kayak kurang kerjaan saja. Apakah mereka sedang mendapat misi khusus? Atau mereka lagi kena hukuman, atau ada apa? Inilah yang sebentar lagi akan saya tuliskan. Pengalaman dalam seminggu terakhir yang saya timpakan pada 2 kelompok peserta pelatihan di tempat dan waktu yang berbeda.

Saya belum bisa memberi judul aktivitas sejenis itu, selain dinamai “misi malam.” Kalau duluuuuu waktu saya masih mengikuti kegiatan kepramukaan, ada yang namanya jurit malam. Saat jurit malam, kita diajak, eh, lebih tepatnya disuruh sendirian/ berkelompok melewati tempat-tempat yang dianggap menyeramkan, dan di tempat-tempat tertentu ditakut-takuti entah dengan suara-suara, gerakan pohon, juga bau-bauan. Kata kakak pembina, itu untuk melatih mental keberanian; asyik juga sih. Misi Malam adalah sejenis dengan jurit (atau jerit, sih?) malam, namun dengan sifat tantangan yang berbeda.  Pada Misi Malam, peserta lebih ditantang pada urusan keberanian menghadapi/ mempelajari sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin terpikir tidak mungkin untuk mereka lakukan disaat normal. Tantangan juga ada pada bagaimana mereka membunuh/ mengelola kebosanan dan kengantukan manakala tantangan sudah terselesaikan. Belum lagi tantangan bagi mereka yang takut akan kegelapan dan kesunyian, hiiii…….

Konteks Misi Malam adalah sebagai  salah satu program kegiatan dalam sebuah proses pelatihan pengembangan karakter. Acara ini dilangsungkan pada malam pertama di antara dua malam peserta menginap di lokasi pelatihan. Program ini dirancang untuk menguji seberapa tabah peserta menikmati tantangan yang bisa jadi menurut pemikiran mereka mustahil, sangat sulit, tidak mengenakkan, menakutkan, membosankan, atau malah nggak jelas ujung pangkalnya. Suka atau tidak suka mereka harus bangun pada waktu tertentu untuk mengerjakan tantangan tersebut. hmfhh….. cape’ deh. Eit,… tunggu dulu, ternyata hampir semua peserta malah menikmati penugasan malam tersebut lho; itu terdeteksi ketika keesokan harinya kami mengajak mereka bincang-bincang.


Penugasan malam didasari oleh teori bahwa seseorang akan lebih banyak belajar jika dia dibawa keluar dari zona nyamannya. Saya tidak akan membahas teori yang saya amini itu, tapi lebih pada penerapan pernyataan tersebut. Secara umum zona nyaman seseorang terbagi dalam 2 jenis, yang pertama kenyamanan berpikir/ merasakan, dan yang kedua adalah kenyamanan secara fisik. Sebenarnya ada jenis ketiga, yaitu gabungannya.

Kenyamanan berpikir/ merasa lebih pada keinginan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pemikiran. Contohnya, ada seseorang yang lebih nyaman ngemelamun atau tidak memikirkan hal-hal yang berat. Ketika yang bersangkutan diberi tugas menyelesaikan sudoku atau teka-teki silang, maka itu sebuah ketidaknyamanan baginya. Kenyamanan fisik lebih jelas terdeteksi, misalnya orang lebih nyaman tidur di dalam kamar, di atas kasur empuk berselimut kain yang menghangatkan, daripada tidur di atas matras, di dalam sleeping bag, di dalam tenda yang kadang menyusupkan dinginnya angin malam.

Misi Malam lebih menekankan membawa orang keluar dari zona kenyamanan berpikir dan merasa. Manakala kegiatan harus dilaksanakan malam hari, di saat senormalnya mereka tidur, tentu jadi tantangan tambahan. Kegiatan yang dilakukan di tempat terpencil, sunyi, dan gelap, pasti akan menambah ketidaknyamanan. Ditambah tekanan bahwa tugas harus diselesaikan dalam waktu tertentu, tentu itu bisa bikin peserta stres. Tampaknya cukup sudah porsi ketidaknyamanan yang dikondisikan pada peserta. Pilihan peserta ketika menerima “musibah” ini bermacam-macam; dia bisa memilih takut, ngeri, enggan, menolak, atau sebaliknya, senang, asyik, dan penasaran hendak mencobanya. Misi Malam dapat pula dikontekskan dengan bagaimana jiwa kepemimpinan seseorang ketika menerima tugas/ misi baru nan menantang. Kombinasi antara pikiran, perasaan, dan pengalaman mengarungi tugas ini yang pada saatnya nanti di-sharingkan untuk dimaknai. 

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah setelah penugasan malam, peserta diajak untuk berbagi pengalaman guna memaknai segala apa yang sudah dialaminya.  Dalam dua kesempatan melaksanakan kegiatan ini, saya membagi peserta dalam beberapa kelompok. 1 kelompok terdiri dari orang-orang yang mendapat tugas berbeda. Penceritaan diawali dengan perasaan yang dialami peserta ketika pertama kali mendapat tugas tersebut, kronologis dan perasaan peserta saat dan setelah melaksanakan tugas, dan diakhiri dengan makna/ pelajaran/ nilai apa yang bisa diambil tiap peserta terkait proses pembelajaran tersebut.
Origami yang bikin pening, 30 menit nggak terpecahkan rahasianya.
Nah, kini saya akan berbagi tentang teknis merekayasa penugasan malam. 


Pertama, kita tentukan alternatif misi/ tugas yang akan ditimpakan pada peserta. Lalu kita adakan penjajakan/ survey secara tidak langsung sejauh mana peserta sudah pernah/ sudah bisa menyelesaikan tugas tersebut. Jenis tugas biasanya dibuat justru bertolak belakang dengan kondisi kenyamanan peserta. Misalnya tugas belajar bermain gitar justru akan ditimpakan pada peserta yang sama sekali belum pernah bermain, atau bahkan memegang gitar. Tugas belajar menyanyikan sebuah lagu sesuai notasi yang disediakan, tentu akan ditimpakan pada mereka yang sangat awam dalam menyanyi, apalagi membaca not. 

Hal berikutnya adalah mendistribusikan misi-misi tersebut pada peserta. Ada misi yang dapat dilakukan secara individu, ada pula berpasangan. Tidak menutup kemungkinan suatu misi juga dilaksanakan oleh 3 atau 4 orang. Perbandingan jumlah peserta, jenis misi, dan jumlah instruktur akan dikombinasikan secara pas sehingga program dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Sebagai contoh, misi belajar dan mengajar main gitar diberikan pada 2 orang yang salah satunya sudah bisa bermain gitar, sementara pasangannya belum bisa. Tugas menyanyi lagu baru sesuai not, diberikan pada pasangan/ kelompok yang salah satu anggotanya memang bisa menyanyi dan membaca not. Waktu pelaksanaan tugas juga mesti kita tentukan, misalnya semua jenis tugas akan dilaksanakan selama 45 menit.

Penjelasan, jadwal dan urutan penugasan adalah sesuatu yang perlu dipahami oleh peserta sebelum mereka beranjak tidur. Secara berkelompok, peserta diajak ke lokasi tertentu di mana mereka akan melaksanakan tugas. Dalam kelompok tersebut lalu dibagi lagi dalam beberapa kelompok kecil untuk menetapkan kelompok mana yang akan bertugas pertama kali, kedua, ketiga, dan seterusnya. Waktu penugasan juga dipaparkan pada semua peserta; misal kelompok pertama melaksanakan misi pada pukul 00.15 – 01.00, kelompok kedua pada 01.00 – 01. 45, kelompok ketiga pada 01.45 – 02.30, dan seterusnya. Deskripsi misi hanya diberikan sekilas untuk membuat peserta penasaran, atau boleh juga sama sekali tidak diberikan. Hal tersebut ditentukan oleh seberapa rumit jenis tugasnya.

Pada saatnya nanti, kelompok pertama membangunkan instruktur untuk menuju lokasi pelaksanaan, sekaligus mendapat deskripsi misi secara lebih jelas. Ketika kelompok sudah mulai melaksanakan misinya, instruktur bisa mengawasinya dari jauh, atau bisa juga ditinggal tidur kembali; ini juga tergantung dari aspek keamanan dan keselamatan peserta tinggal di lokasi tersebut untuk menyelesaikan misi. Ketika waktu pengerjaan tugas kelompok pertama selesai, mereka harus membangunkan kelompok kedua untuk mengerjakan tugas yang sama, demikian seterusnya sampai semua kelompok peserta kebagian melaksanakan misi.
Latihan nyanyi di dini hari, hiiiii....

Nah, sementara begitu, teman-teman pembaca, beberapa kelumit 2 pengalaman mengadakan pelatihan pengembangan karakter berbasis Experiential Learning dalam seminggu terakhir. Semoga menginspirasi. Alih-alih mengadakan kegiatan malam yang berat, menyeramkan, dan merepotkan, kita bisa mencoba Misi Malam yang tak kalah heboh, tapi dengan muatan yang tak kalah berbobot.

Selamat mengarungi malam dengan misi-misi menantang.

Palembang, 27 Maret 2012,
Salam, Agustinus Susanta